Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan

Sebuah Kisah Petualangan Di Gunung Prau

(Published&Edited:Indonesiakaya.com)

Akbar, Joko, Jane, Lida, Prama, Septi dan Yeni tak sabar lagi menunggu hujan reda. Sedari tiba di Dieng, tepatnya di Desa Patak Banteng, hujan memang tak henti menerpa. Akan tetapi niat sudah dipatri dari jauh-jauh hari dan ketika cuaca mereka rasa sudah cukup aman, ketujuh pendaki itu siap menjajal tanjakan menuju puncak Prau. Sayang rasanya jika pendakian kali ini gagal, sebab sudah jauh-jauh hari mereka berencana ke Jawa Tengah, apalagi mereka datang dari Jakarta, Surabaya dan Malang. Sulit membayangkan untuk menyurutkan semangat bertualang mereka yang menyala-nyala kala itu.
Ketika hujan deras kian melemah menjadi gerimis dan perlahan sirna menyisakan mendung. Ketujuh orang tersebut bersama tim liputan indonesiakaya.com pun langsung bersiap-siap untuk memulai pendakian. Tak hanya kelompok Joko saja yang memulai petualangan pada pukul 15.00 WIB lewat sedikit itu, kelompok lain yang berasal dari Jakarta dan kota-kota lain pun turut berangkat saat cuaca mulai mendukung. Setelah melakukan registrasi di basecamp Patak Banteng dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 8,000 per kepala, mereka berdoa sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak setinggi 2565 meter dari permukaan laut tersebut.

Dataran Tinggi Dieng memang dikenal sebagai daerah pegunungan dan Gunung Prau merupakan satu dari sekian banyak puncak gunung di Dataran Tinggi Dieng yang kian menjadi primadona baru di antara para pendaki, pecinta alam dan petualang dari berbagai kota-kota besar khususnya di pulau Jawa. Beberapa pendaki dari Jakarta bahkan mengaku lebih memilih untuk mendaki Gunung Prau sebagai pengisi akhir pekan mereka, daripada ke Gunung Gede atau Gunung Pangrango yang notabene jaraknya lebih dekat dari ibu kota.

Di waktu akhir pekan, puluhan hingga ratusan pendaki rela jauh-jauh mengunjungi Gunung Prau yang tepat berada di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini. Puncak Gunung Prau sendiri menjanjikan panorama yang sedikit berbeda dari gunung-gunung yang lainnya. Dari sana, pendaki bisa menyaksikan bagaimana Dataran Tinggi Dieng diapit betul oleh deretan pegunungan seperti, Sindoro, Sumbing, Sikunir dan lain-lain. Satu hal yang lebih menarik lagi ialah, salah satu jalur menuju puncak Prau memang memiliki panorama layaknya deretan bukit di lembah Teletubbies.

Bagi Joko dan kawan-kawan, keindahan bukanlah tujuan utama yang mereka cari dari pendakian Prau kali ini. Keinginan yang kuat untuk mengembara dan menyambangi gunung baru merupakan alasan mereka melakukan pendakian kali ini. Petualangan mereka kali ini bisa dikatakan sebagai reuni sembari mengingat-ingat pertemuan pertama mereka di puncak Anjani, Gunung Rinjani, NTB, beberapa waktu silam. Saat itulah jalinan persahabatan mereka terjalin dan kisah semacam ini memang tak jarang terjadi di kalangan para pecinta petualangan.

Jalur Patak Banteng yang mereka pilih pun merupakan jalur singkat yang cukup menantang dengan kontur menanjak hampir tanpa jeda. Bagi Joko dan kawan-kawan, jalur yang terdiri dari tiga pos itu mengingatkan mereka pada pendakian-pendakian lain yang selama ini pernah mereka lakukan di gunung-gunung lain di Indonesia. Rutenya sendiri menawarkan beragam warna lingkungan mulai dari, petak-petak kebun sayur penduduk, hutan pinus hingga bukit-bukit savana yang semakin cantik dihiasi hamparan bunga-bunga daisy kecil-kecil.

Pendakian mereka pun terbilang cukup lancar dan sesuai dengan rencana awal. Tiga jam perjalanan dari basecamp Patak Banteng hingga ke puncak Prau dipenuhi canda dan tawa. Jalur menanjak dan liat pun sukses didaki hingga menuju puncak. Kekompakan tim pun diuji, apalagi separuh dari mereka merupakan pendaki wanita. Namun tak satupun anggota tim yang tertinggal dan semuanya selamat sampai tujuan walau sesekali sisa-sisa hujan dan gigitan kabut yang dingin menerpa sepanjang perjalanan. Letih dan peluh pun terbayarkan dengan segala cerita petualangan dan keindahan menuju Gunung Prau.
Senin, 19 Januari 2015
Posted by Unknown

Lingkaran Di Antara Manusia, Perjalanan, dan Integritas

Jalan-jalan, perjalanan, berjalan, traveling, apapun nama yang disematkan dalam kegiatan tersebut, memang berdampak adiktif (Nagih). Mengapa bisa seperti itu?

Nenek moyang kita umat manusia -entah teori apapun yang anda percayai- ketika muncul pertama kali ke muka bumi, harus melakukan perjalanan. Agama langit menceritakan tentang Adam, yang berjalan dengan tujuan mencari pasangannya Hawa (Eve/Eva). Pemuja ilmu pengetahuan, percaya manusia pertama harus berjalan dari titik awal keberadaannya di Afrika, demi bertahan hidup (mencari makan).

Perjalanan adalah aktifitas pertama yang manusia lakukan sebelum makan. Jadi menurut hemat saya, urusan perut itu nomor dua. Yang utama tentu adalah proses pencarian.
Untuk urusan mencari –apapun yang anda cari- Di masa semutakhir ini. Manusia sedikitnya harus menggerakkan jemarinya di atas keyboard.

Setelah semua kemudahan yang tercipta di zaman .com ini. Masih perlukah manusia berjalan ke luar rumah? Bahkan makanan saja bisa datang sendiri sampai muka pintu. Apalagi yang harus dicari, setelah Google sukses menggantikan kedudukan anjing pelacak terhebat di atas muka bumi.

Bagi anda yang masih berdiam diri, merasa lengkap dengan tumpukan buku, nyaman dengan kehidupan bergaji bulanan. Sesungguhnya DNA anda menolak untuk lupa kultur berjalan di atas muka bumi, yang telah dilakukan oleh nenek moyang manusia selama ribuan tahun lamanya. Aktifitas yang setara kastanya (bahkan lebih tinggi) dengan kebutuhan pokok ini. Telah menggumpal dan membentuk jejak biologis dalam kromosom yang mengalir hilir-mudik di tulang belakang anda.

Buktinya? Cobalah berdiam selama tiga bulan di rumah. Atau yang lebih ekstrim lagi. Lakukan kejahatan kecil, kemudian serahkan diri ke pihak berwajib. Saya pastikan anda akan menuntut kebebasan. Tentu saya mengetahui rasanya, karena –bukan saya- ada kemenakan yang dipenjara karena sebuah perkelahian jalanan. Penahanan beberapa hari itu membuatnya stres minta ampun, bahkan sampai menangis tobat menyesali tingkah lakunya di suatu malam yang sunyi.

Rekreasi

Sebetah-betahnya anda di rumah. Anda membutuhkan sedikit rekreasi, mengganti suasana baru, walau dengan cara sekedar mengganti wallpaper kamar anda mungkin? Lebih lanjut lagi, tingkatan rekreasi ini tentu bersifat tamasya, wisata, bertualang, ekspedisi, maupun journey.
Bagai sebuah barang elektronik, manusia diciptakan juga untuk mengisi ulang energi dalam dirinya. Sehingga itulah kegiatan recharge manusia disebut rekreasi/recreation. Mengkreasi ulang, karena sesungguhnya manusia hidup untuk berkarya (ibadah). Perkara  berkarya ini, tentu manusia membutuhkan energi. Uniknya energi yang dibutuhkan, tidak hanya fisik, tapi juga rohani.

Aku lagi-lagi menganalogikan manusia dengan barang elektronik : Ketika laptop, smartphone, atau i-pod anda recharge. Tentu jalan terbaik adalah mengistirahatkannya dari kegiatannya (Tidak dipakai). Bisa saja anda men-charge alat tersebut sambil dipakai. Dampaknya, selain tidak maksimal. Tentu juga memperpendek umur benda tersebut (tidak awet).

Begitu juga manusia, ketika melakukan rekreasi. Jalan terbaik ialah, dengan melakukan kegiatan di luar rutinitas sehari-hari. Bisa saja anda rekreasi sambil bekerja, tapi sama seperti barang elektronik tadi. Jangan-jangan  selain tidak maksimal, juga mampu , , , ah! Anda sudah tahu apa yang ingin aku sampaikan.

Oleh karena itu, ketika seseorang memanfaatkan rekreasinya secara maksimal. Ada energi yang memenuhi jiwanya. Ini menjelaskan, mengapa orang-orang tidak segan mengeluarkan banyak biaya untuk hal –yang seringkali anda anggap aneh- ini.

Pelaksanaannya yang sesekali dan menyenangkan inilah, yang mengakibatkan kegiatan rekreasi ini menjadi candu (adiktif). Namun kecanduan rekreasi, jalan-jalan, melakukan hobi yang disukai. Tidak seburuk kecanduan rokok, alkohol, drugs, dan sex. Justru kecanduan dalam hal ini mampu memperkaya rohani (baca mempertipis kantong –pen.).

Integritas

Percaya atau tidak, seringkali melakukan kegiatan rekreasi ini, apalagi jalan-jalan. Mampu menumbuhkan integritas dalam diri.

Integritas? Terlalu tinggikah makna kata ini? Kata benda yang oleh Purwadarminta diartikan sebagai sebuah kesempurnaan, kesatuan, keterpaduan, ketulusan. Semua arti kata itu tepat sekali mendukung pembentukan sosok pribadi manusia yang diharapkan. Yaitu manusia yang “paripurna”, atau secara sederhananya ialah manusia yang penuh dengan “kemuliaan”.
Sebagai penikmat sejarah. Aku sepakat dengan Purwadarminta dalam menjabarkan kata unik ini. Terbukti Empu-empu, Begawan, Pujangga, di zaman kerajaan Nusantara dahulu. Merupkan genus manusia yang dianggap berintegritas tinggi di zamannya. Sehingga kasta mereka setara Brahmana, dekat di bawah kaki Raja-Raja. Contohnya : Empu Prapanca, dan Empu Tantular.

Siapakah mereka? Jika anda sempat membaca, sedikitnya kutipan-kutipan terjemahan Kitab-kitab Negarakertagama dan Sutasoma. Terungkap bahwa mereka adalah pejalan. Mereka membelah setapak di gunung-gunung, demi mencari, mencatat demografi desa-desa, bertanya pada guru-guru, dan penjaga-penjaga candi kuno.

Nabi dan Rasul besar pun hijrah atas perintah dan kuasa Allah (Tuhan). Tuhan yang bersemayam di langit sana, dengan caranya yang tak pernah mampu kita tebak. Menggerakkan kita, menggurui, dan menciptakan nikmat yang  bernama “perjalanan” umat manusia. Perjalanan menurut saya, tentulah sebentuk sekolah yang diciptakanNya.

Melalui perjalanan, manusia langsung belajar lewat seorang guru terbaik di muka bumi, bernama pengalaman. Pengalaman yang memperkaya panca indra. Pengalaman yang menebalkan jiwa sosial.  Pengalaman menyodorkan rasa manisnya gula. Pengalaman memaksa manusia menelan pil pahit. Pengalaman-pengalaman lain yang tentu masih banyak lagi jenisnya.

Ajaibnya, Allah memerintahkan pengalaman untuk mendampingi setiap individu. Bagai sidik jari, atau partikel salju yang tak pernah identik. Begitu juga diciptakanNya pengalaman yang mendampingi manusia itu. Sebagai guru privat gratis seumur hidup. Pengalaman ini begitu personal sifatnya. Tak ada pengalaman satu manusia, yang benar-benar sama persis dengan manusia lainnya. Sampai-sampai aku curiga. Pengalaman itu sebenarnya nama lain dari kedua malaikat di kanan-kiri kita. Hahahaha :D

Ada 10 Karakteristik Integritas itu :
1.            Anda menyadari bahwa hal-hal kecil itu penting.
2.            Anda menemukan yang benar (saat orang lain hanya melihat warna abu-abu).
3.            Anda bertanggung jawab.
4.            Anda menciptakan budaya kepercayaan.
5.            Anda menepati janji.
6.            Anda peduli terhadap kebaikan yang lebih besar.
7.            Anda jujur namun rendah hati.
8.            Anda bertindak bagaikan tengah diawasi.
9.            Anda mempekerjakan integritas.
10.        Anda konsisten.

Ketika anda merasa, bahwa ada satu atau bahkan lebih dari satu karakteristik Integritas yang anda dapatkan, saat kembali dari perjalanan anda. Selamat, anda telah terlahir ulang. Jika belum, mungkin rekreasi anda belum berkualitas.
Satu tips dariku, agar pada saat anda kembali dari sebuah perjalanan kelak. Anda terlahir kembali menjadi manusia berintegritas.

“Ketika lautan naik ke langit, air hujan yang turun akan menjadi tawar.” Oleh karena itulah, perjalanan menggunakan kapal laut itu lebih baik daripada menggunakan pesawat. Perjalanan menggunakan mobil itu lebih baik daripada dengan kapal laut. Perjalanan menggunakan kuda itu lebih baik daripada menggunakan mobil. Berjalan dengan kaki itu lebih baik daripada dengan naik kuda.

Akhir kata dariku kawan yang budiman. Lets Get Out! Sampai ketemu di sebuah tempat kelak, tanpa janji sebelumnya. Kita bertemu karena sama-sama saling melemparkan senyum, dan sama-sama menandai jati diri lewat ransel yang menempel erat dipunggung kita masing-masing. Wassalamualaikum.
Selasa, 04 Februari 2014
Posted by Unknown

Superman Berkunjung Ke Rinjani

15 Agustus 2013, aku harus sampai di pelawangan Sembalun paling tidak sore nanti. Saat itu aku sedang mengatur nafas di barisan bukit penyesalan yang melegenda. Track savanna di bukit tersebut, berdebu karena sudah terlalu banyak orang berlalu-lalang hari ini.

Ada pendaki yang turun ke sembalun. Ada banyak yang naik juga. Orang-orang dari berbagai bangsa, tak hanya dari Indonesia saja. Namun lepas dari semua itu. Aku mengalihkan pandangan dari ransel-ransel besar, dan yang berukuran sedang. Aku melihat seorang pria tak sampai setinggi 170 cm. berjalan dengan kecepatan tak terduga di bawahku. Sesekali ia menarik nafas, tak sampai semenit ia melakukannya. Ia kembali berjalan cepat.

15 menit kemudian jarak panjang di antara kami pun dia lahap. Tanpa ransel besar, hanya berbekal kaos, celana pendek, dan sepatu treking. Ia menyantap dengan lahap tanjakan tak berperi kemanusian di barisan bukit penyesalan tersebut.

Setelah mendahuluiku, baru aku membaca tulisan di balik punggungnya. “Official”. Ah! Rupa-rupanya dia salah satu panitia Mount Rinjani Ultra 2013. Tepat di hari peringatan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus nanti. Tak kurang dari 80 orang akan dilepas dari Senaru. Melahap kurang lebih jarak tempuh sejauh 52 kilometer. Sebuah track alam liar yang bisa menghancurkan dengkul, paha, dan kaki orang biasa.

Melahap 52 kilometer di gunung Rinjani, bisa saja dilakukan dengan berjalan santai. Tapi itu membutuhkan waktu minimal 3 hari lamanya. Sambil meresapi alam, menatap bintang, memasak makanan, lalu istirahat sepuasnya di balik tenda.

Melahap 52 kilometer di gunung Rinjani, yang nantinya akan dilakukan oleh 80 orang tersebut. Akan dilakukan dengan cara berlari. Memulai lomba lari ekstrim itu dari Senaru. Di ketinggian 600 meter dari permukaan laut (Mdpl). 10 Jam kemudian mereka harus sudah tiba di puncak Anjani 3726 Mdpl atau kurang lebih sejauh 21,5 km dari titik start mereka.

Pinggir Danau Segara Anakan

Jangan anggap remeh 21,5 km ini. Karena tentu pelari akan menembus hutan dengan tanjakan tiada henti sejauh 8,5 km. Kemudian baru masuk area Savana dengan tanjakan sejauh 2 km sampai tiba di pos pelawangan Senaru. Beruntung bagi pelari yang tiba di sini saat fajar menyingsing, karena lelah akan terobati oleh pemandangan spektakuler sunrise pelawangan Senaru di ketinggian 2600 Mdpl.


Dinding Barat Pelawangan Sembalun

Dinding-dinding kawah gunung api purba akan diterpa cahaya keemasan sang mentari. Menimbulkan aura alam yang jarang ditemui di bentangan pegunungan lain di Indonesia. Pesona cantik yang membuat Rinjani digelari gunung tercantik di Indonesia. Plus biru bergradasi tosca sang danau Segara Anak di bawahnya, sebagai obat penawar peluh, yang ampuh beberapa saat.

Setelah itu pelari akan turun menyusuri bukit berbatu-batu menuju danau sejauh 3 km. Itu jalan satu-satunya menuju puncak.

Menyusuri pinggiran danau sejauh 1 km, pelari cukup lega karena track sudah mulai landai di bagian ini. Cukup untuk mengumpulkan tenaga, sebelum akhirnya kembali menerjang track berbatu dengan kemiringan 30-45 derajat. Menaiki tangga alam berliku-liku sejauh 3 km di bentangan Tembok barat pegunungan raksasa tersebut. Sebelum akhirnya bertemu track landai 1 km di pelawangan Sembalun.

Danau Segara Anakan

5 km terakhir adalah tantangan sesungguhnya bagi para superman ini. Menuju puncak gunung api tertinggi nomor dua di Indonesia, bukan perkara mudah. 5 km yang menghancurkan semangat, menguras mental, dan mengingatkan kita akan kelemahan diri sendiri.

Jalur pasir membenamkan sedikitnya 10-15 cm kaki-kaki pendaki. Ujian bagi para Superman, atau bahkan bagi setiap orang yang ingin menguji diri di pegunungan ini. Jangankan untuk berlari, berjalan pun susah. Melangkah 2-3 tapak. Pasir akan membuatmu melorot kembali 1-2 langkah. Begitu terus, sampai merasa siksaan ini tiada habisnya. Itulah yang akan dihadapi para pelari yang mencoba menggapai puncak rinjani pada tanggal 17 Agustus 2013.


Track Neraka

Semua fase awal tersebut, wajib ditempuh maksimal selama 10 jam. Ketika superman yang berlari-lari di gunung tersebut, telah berhasil di misi awal ini. Maka ia boleh melanjutkan lomba. Lebih dari 10 jam, pelari tak boleh melanjutkan lombanya. Mereka harus sadar diri dan segera berbalik turun. Kembali ke garis start, menyerah kalah.
Sedangkan yang berhasil mencapai fase pertama dalam tempo 10 jam. Mereka harus melanjutkan tantangan selanjutnya. Yaitu turun ke pelawangan Sembalun, lalu menuruni bukit penyesalan sampai pos 2 Sembalun sejauh 5 km.

Masalah menuruni bukit penyesalan sampai pos 2 Sembalun. Mungkin perkara yang cukup mudah. Namun setelah sampai di pos 2 Sembalun, pelari belum sepenuhnya finish. Mereka harus kembali berputar badan. Tentu melahap kembali  20 km lebih rute yang sama, yang mereka lalui sebelumnya untuk sampai di titik awal keberangkatan mereka.

Bapak ini dari pos 2. Bukan yang ijo di belakang loh yah? itu pos 4. Jadi Pos 2 Masih jauh di bawah sana, nggak keliatan coy! Pelawangan Sembalun masih di atasnya lagi, tinggal seperempat jalan-lah bapaknya. Bagaimana, menyesal pak? :p

Jadi rute sejauh 52 km tersebut, secara garis besar adalah. Senaru- Pelawangan senaru- Danau Segara Anak- Pelawangan Sembalun- Puncak- Pelawangan Sembalun- Pos 2- Pelawangan Sembalun- Danau Segara Anak- Pelawangan Senaru- Senaru. Batas waktu terlama untuk menyelasaikan lomba lari gila ini adalah 20 jam.

17 Agustus 2013, dini hari. Pelari-pelari telah terlihat memasuki base camp Danau Segara anak. Aku yang hanya pendaki biasa ini hanya mendengar ribut suara tepuk tangan penyemangat di luar tenda. Cukup malas untuk memantau perkembangan lomba setelah lelah mendera tubuh, karena tertatih naik turun menuju Puncak dan Danau Segara anak sehari sebelumnya.

Pagi hari sekitar pukul 08.00 WITA, setelah upacara bendera di Danau bersama pendaki lainnya, akupun sudah siap menuju Senaru.

Beberapa peserta lari ultra marathon, masih sempat berpapasan denganku. Mereka menyusuri pinggiran danau menuju pelawangan Sembalun. Rupa-rupanya mereka itu yang paling buntut di antara para Superman yang ada. Kabarnya, yang tercepat mencapai pelawangan Senaru. Telah sampai pukul 03.00 dinihari tadi.

Aku yang berjuang menapaki bukit berbatu menuju pelawangan senaru pun akhirnya disusul juga oleh pelari tercepat tersebut. Sekitar pukul 14.00 WITA. Seorang bule asal Prancis, bertubuh kurus, sedikit legam kulitnya terbakar matahari. Ia hanya mengenakan tas lari kecil, tipis, dan hampir-hampir melekat dengan punggung saking simpelnya. Ia berjalan dengan cepat melewati bebatuan dan bukit terjal, dengan kemiringan 40 derajat.

You are the first one sir.” kataku menyemangati.

“Ya saya tahu.” katanya sedikit tak acuh, sambil menarik nafas. Ia pun mengeluarkan botol minuman dari tas running mungilnya.

“Anda dari mana?”

“Prancis.”

“Kok bisa bahasa Indonesia?”

“Saya lama tinggal di Bali.” terang pria berhidung mancung yang mengenakan kaca mata sport gelap tersebut.

“Semangat sir! Tinggal beberapa kilo lagi.”

Thanks. Saya pergi dulu.” katanya sambil lalu. Kembali ia melahap track dengan cepatnya. Seolah tubuhnya terbuat dari kapas. Atau mungkin di Bali dia belajar ilmu meringankan tubuh, dan sedikit jurus kunyuk melempar buah.

Berselang 5 menit kemudian. Datanglah seorang bule dengan perawakan yang sama, bahkan dibalut pakaian yang sama. Mengenakan kaos gelap, ketatnya kaos dan celana yang dia gunakan sampai-sampai menonjolkan otot-ototnya, yang sedikit menyembul di badan cungkring tersebut.

You are the second one sir.” kataku lagi memberi tahu.

“Yang di depan saya pakaiannya sama?”

“Ya. Prancis juga?” kataku sambil menunjuk dirinya.

“Ya.”

“Yang di depan temannya?” tanyaku lagi.

“Ya, kami memang satu tim.”

“Ohhh, , ,”

“Mari.” sahut pria Prancis yang lebih santun ini, lengkap dengan senyuman kepadaku.

“Mari, hati-hati bro!” teriakku, saat dia sudah dengan entengnya melahap tanjakan.

Pria tersebut pun mengacungkan jempolnya ke udara, tanpa menolehkan pandangan kepadaku. Memang jarak si Prancis ke-dua dengan Herwin, sang pelari dari Bandung ini cukup jauh. Ketika kami bertemu di bukit berbatu menuju pelawangan Senaru. Herwin tergopoh berlari melewati rintangan alam pegunungan Rinjani. Raut wajahnya seperti orang dikejar-kejar setan.

“Mas, anda urutan ketiga. Mas, selamat!” sahutku menyelamati pria Bandung, yang cukup berotot ini.

Sejenak ia berhenti disampingku, menarik nafas, dan mengaturnya agar tak terlalu tersengal di ketinggian 2000 Mdpl ini. “Jaraknya lumayan?” tanya Herwin kepadaku.

“Lumayan mas, sekitar setengah jam dari pelari pertama.”

“Yang ke dua?” tanyanya cukup memburu.

“Sekitar 15-20 menitan mas.”

Pria Bandung ini pun hendak melaju lagi, tapi alarm dari jam tangannya mencegahnya sebentar. Dari balik tas running-nya, ia mengeluarkan sesuatu. Aku lihat benda yang dikeluarkannya seperti kapsul.

“Itu apa mas?” tanyaku penasaran.

“Oh, ini. Ini obat pencegah kram.” terangnya sambil menelan kapsul itu.

“Atlit lari seperti saya, selama beberapa waktu harus mengkonsumsi ini untuk mencegah kram.” terangnya lagi.

“Logistiknya apa mas, kalau lagi lari di gunung.” tanyaku memburu.

“Ada, makanan khusus. Bentuknya seperti gel.” sahutnya sambil tersenyum. Tapi matanya nyalang menatap track yang tersisa.

Aku merasa, orang ini sedang diburu sesuatu. Tak pantas aku menahannya lama-lama. 

Ada sesuatu yang harus ia selesaikan, dan itu lebih penting dari pada berlama-lama mengobrol di tempat ini denganku.

“Yuk ya, aku duluan.” katanya. Sambil memberi sedikit lambaian.

“Woyo mas, hati-hati.”

“Semoga Menang!” teriakku lagi, sambil membuat corong dengan tangan. Karena sekejap saja pria Bandung tersebut. Telah melesat bagai anak panah di tengah belantara luas, bergerunjal bebatuan vulkanik purba.

8,5 km jalan menurun dari Pelawangan Senaru menuju Senaru. Aku lalui dengan susah payah. Ini bukan perjalanan turun yang mudah. Walau lebih ringan dari menanjak, turun di tanah vertikal dengan kemiringan 40 derajat, pun menyiksa dengkul juga.
Mulai dari siang hingga hampir menjelang sore. Pelari-pelari dari Singapura, Malaysia, Indonesia, Eropa, dan Australia. Saling susul-menyusul di track ini. Seru melihat pelari Singapura yang tidak awas melihat keadaan. Ditelikung dari belakang oleh pelari Indonesia. Pelari Singapura yang hendak berjalan sedikit santai, sedikit kaget jadinya. Setelah melihat ada nomor peserta di dada orang yang menelikungnya dari belakang. Ia pun tergopoh-gopoh mengejar pria tersebut.

Tapi, keriuhan tak hanya berhenti di sana. Sore harinya, ketika aku sudah sampai di pos dua. Pria, Wanita, Tua, dan Muda. Beranjak naik menuju gunung Rinjani. Pakaian mereka putih dan hitam. Beberapa di antara mereka menyelip keris di pinggang. Membungkus benda pusaka tersebut dengan kain putih. Ada juga senjata pusaka yang jauh lebih panjang, sepertinya tombak. Benda tersebut juga dibungkus kain putih dan ditenteng oleh si empunya menuju gunung Rinjani.

Wanita-wanita berumur, bahkan pantas disebut nenek-nenek pun tak kalah meriah. Di atas kepalanya ia membande (menjunjung) sesuatu. Sepertinya baskom tertutup kain. Aku tanyakan pada mereka hendak ke mana. Namun mereka adalah kelompok yang cukup terburu-buru. Tak ada yang menjawab pertanyaanku sama sekali.
Ingin rasanya aku ikut kembali mendaki, kalau saja tidak ingat. Tenaga, dan mental sudah habis terkuras untuk turun. Namun hati kecilku berfirasat, orang-orang ini pasti akan melakukan sebuah ritual di gunung Rinjani. Rasa ingin tahuku yang besarpun kandas oleh deraan fisik, dan mental yang telah kalah terlebih dahulu.

Aku pun sampai di Senaru Malam hari. Perayaan sudah ditutup, lomba sudah berakhir. Para Superman sudah sampai di garis finish. Atau, mungkin Superman yang sesungguhnya. Saat ini sedang melaksanakan ritual di gunung sunyi? Ya, kelompok berpakaian hitam-putih. Tua dan muda yang sempat berpapasan denganku tadi. Aku lihat, memang bukan pendaki bisasa sepertiku. Mereka tak perlu ransel besar. Sampai-sampai mereka tak butuh alas kaki, apalagi sepatu tracking khusus. Bekal logistiknya saja berbungkus plastik kresek hitam. Hanya dengan itu semua, didorong oleh keyakinan. Mereka sudah sanggup naik gunung. Benar-benar level Kuncen*.

Tapi yang benar-benar Superman itu ternyata adalah seseorang yang aku temui di Sebuah Homestay. Ini Subjektif, penilaianku sendiri. Seturunnya dari Senaru aku menginap di Senggigi. Tak kusangka, penyewa kamar sebelah adalah seorang Superman.

Pagi-pagi, sambil menikmati kopi dan semilir angin pantai beraroma khas. Aku santai menikmati hidup, menikmati waktu luang setelah bekerja.

Sebuah Honda dengan striping sportif berwarna orange terparkir di depanku. Plat nomor kendaraan tersebut asalnya dari Jakarta. Penasaran selalu menggelitikku. Pertanyaanpun terlontar, ketika si empunya kuda besi keluar dari kamar Homestay, yang disewanya. Tak ayal pertanyaan keluar dari mulut.

“Dari Jakarta mas?”

“Iya he he he. . .” cengenges pria tersebut.

“Ke Lombok naik motor?”

“Iya, abis naik ke Rinjani.”

“Hummm,  , , saya juga habis nanjak.” kataku.

“Gimana mas Rinjaninya?” tanyaku lagi.

“Wah, mantap. Saya ke sana ikutan lomba.”

“Alamak. Jadi anda ikutan lombanya?”

“Iya, he he he. . .”

“Udah nginep berapa lama di Lombok?”

“Ya itu, nginepnya baru kemarin malem seturunnya lomba.”

“Jadi selama ini Jakarta, Lombok, Rinjani, itu non stop nggak istirahat dong?”

“Iya mas, he he he. . .”

“Pantesan juara satunya orang bule.  Coba masnya istirahat dulu. Pasti larinya jos!” kataku, tidak sedang bergurau.

“Ha, , , ha, , , ha, , , iya kali ya? Yang juara satu orang Prancis, yang kedua untungnya orang Indonesia. Juara tiganya Perancis juga. Perebutan juara keduanya ketat itu.”

“Iya, saya juga ketemu di track menuju Pelawangan Senaru. Awalnya Indonesia juara 3.”

“Iya, di etape terakhir, mereka kabarnya susul-susulan. Sprint-sprint gitu.”

“Oh, ya?”

“Iya mas, oh ya saya berangkat dulu ya, Mari.”

“Langsung ke Jakarta ini.”

“Iya mau langsung balik, ke mana lagi?”

“Ckckck, , , luar biasa. Nggak mau keliling dulu?”

“Ha ha ha, , , lain kali aja, udah mau habis nih liburannya. Mari mas.”

“Yuk, hati-hati mas. Kalau ngantuk berhenti aja mas.” kataku sambil sedikit menggelengkan kepala, tak percaya dengan pemandangan didepanku. Tak lama kemudian sang Superman pun berlalu dengan Sepeda motornya, menuju Jakarta. Brooommm!

*Kuncen : Berasal dari bahasa Jawa. Digunakan sebagai Slank pendaki gunung asal Jawa, yang menunjukkan bahwa seseorang sudah sering mendaki satu gunung yang sama. Sebutan ini juga berlaku bagi penduduk di suatu Pegunungan yang dipercaya sebagai juru kunci gunung tersebut. Seperti misalnya Mbah Marijan, Sang Kuncen Merapi.


Sabtu, 01 Februari 2014
Posted by Unknown

Berburu Pagi di Panderman



Sunrise view on mount panderman, batu

Panderman adalah sebuah gunung wisata di wilayah kota Batu. Dengan ketinggian 2000 Meter dari Permukaan Air Laut (Mdpl), gunung ini adalah favorit bagi pendaki dan penyuka kegiatan alam asal kota Malang dan sekitarnya. Selain karena mudah dijangkau dari kota Malang. Gunung ini mampu didaki hanya dengan beberapa jam saja. Tergantung pengalaman masing-masing pendaki.

Saya dengan tiga orang teman suatu kali mendadak berkeinginan mendaki gunung panderman. Memang, jika kaki terlalu gatal untuk melangkah pergi, namun apa daya dana tak sampai ke tempat-tempat eksotis. Kabur ke alam liar seperti ke pegunungan yang paling mudah dijangkau pun alternatif yang pas untuk menenangkan diri.

Hanya dengan berbekal makanan ringan seadanya, seperti roti, coklat, buah-buahan, dan air mineral dalam kemasan. Kami melakukan pendakian kilat pada pukul 01.30. WIB. Perjalanan menuju puncak dari tempat penitipan kendaraan memakan waktu sekitar 4 jam perjalanan yang cukup ‘menyehatkan’.

Saat itu kami memang tidak berencana untuk menginap atau mendirikan tenda. Tujuan kami hanya ingin berburu sunrise di puncak, sehingga pendakian dilakukan secepat mungkin, dengan barang bawaan seringan mungkin. Beruntung cuaca sangat mendukung pendakian kami saat itu. Tidak ada hujan setetes pun yang mengguyur kami sejak keberangkatan hingga sampai di puncak sekitar pukul 04.30 WIB. Langit masih berwarna biru gelap ketika, kami berada di puncak panderman, puncak Basundara.

Kami pun menuggu pagi di sebuah dataran yang cukup luas di tengah rapatnya pepohonan pinus dan ilalang. Di hadapan kami, Jauh di cakrawala sebelah timur. Sedikit demi sedikit matahari mulai merangkak pelan menyembul dari sela-sela gundukan pegunungan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Langit gelap perlahan berubah bergradasi menjadi biru tua, lalu ke biru terang.


 Awan-awan yang membeku mulai terlihat bergelayut diterpa cahaya mentari. Mereka seperti lautan tenang yang terbuat dari kapas. Bergelombang membentuk barisan indah menutupi kota Batu dan Malang di bawah kami seperti kanopi berwarna putih cantik. Sungguh indah dan menakjubkan. Pemandangan yang membuat kami terdiam, meresapi dingin hawa gunung, dan lembutnya geliat dunia yang terbangun. Puncak-puncak gunung yang lain pun terlihat kokoh menjulang mencakar langit. Menambah syahdu keheningan alam kala manusia masih banyak terlelap dalam mimpi.

Perjalanan yang berat dan menguras tenaga, terbayar tunai dengan keindahan tersebut. Kami pun tak mau menyia-nyiakan momen tersebut, dan mengabadikan sunrise indah ini dalam foto-foto dan berpose aneh seolah-olah saya mengeluarkan cahaya dari balik bokong saya.

Selasa, 03 Desember 2013
Posted by Unknown

berlangganan

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © ESCAPE - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -