Tampilkan postingan dengan label heritage. Tampilkan semua postingan
Treasures in the Mids of Jakarta
Treasures hunter still exist. There is Michael Hatcher, an Englishman from Australia that’s widely known as “The Wreck Salvage King” and mostly wanted by Indonesian Government. Indonesia climed Hatcher has stolen much asset on many Indonesian teritorial since 1986. His latest treasures hunting activity in the deep of Indonesian see recorded in Bangka archipelago, 1999. He succesfully lifted up the Teng Sing ship and take its treasures with estimated cost around 500 billion Rupiah.
The next
question is, where the hell the treasures sold? When I read some information
about an Antique Market in the mids of Jakarta, I curious to go there to saw
what are they offered. This Antique Market is located in Jalan Surabaya,
Menteng, Center Jakarta. I arrived right at the same time whit the high traffic
jamm peak, after work hour season. Those Antique Market of Jakarta suddenly
become a float of vehicles and antiques.
Along 500
meters of those stright road, the antiques were just scattered on the
pedestrian side. Indeed, the shops were too narrow to placed too many antique
things inside. Many of them were hundred years old antique-colonial-era things,
arts, handycrafts, scluptures, vinyl, and every old interesting things.
I walked
slowly through the pedestrian side, watched my steps carefully to avoid
undesirable touch. I believe, even an experienced historian will fall in love
with this place. Honestly, I feel I’m being a time traveler amongs those
things. With more than 170 shops and thousands antique choise, an arts lovers
and collectors could be confused too.
Jalan
Surabaya was famous since 1960’s as an Antique Market of Jakarta. It’s
officially opened by the Jakarta legendary Governor, Mr. Ali Sadikin. In 1994,
Bill Clinton, former President of USA, have been visited the market. “He spends
200 USD for a couple of scluptures, the Loro Blonyo.” Said Mr. Anwar, the owner
of antique shops number 80 that have being antique seller since 1980’s.
The saddest part of this story is when I found Mr. Anwar and view seller sold the artifacts which is believe came
from Majapahit empire era. Mr. Anwar his self sold a kind of stone tools
artifact, as seems as hundred years old-traditional nutcracker. He climed that
he could earn 2-3 million Rupiah from those kind of artifact.
Another seller
near Mr. Anwar shop also sold more precious artifacts. With only 2,5-4 million
Rupiah, we can bring an ancient sclupture of Buddhist head or a Hindus Main God
sclupture.
I asked
them, where were they bought those -actually, priceless- artifacts? They told
me that they got it from another person. I guessed, if the artifacts is real,
they might were stolen from uncared temples around Java. Indeed, in Java Island
itself, there are so many hiden Hindu-Buddhist temples that uncovered, lying on
typically cloistered villages. Teens to hundreds artifacts such as, scluptures,
stone tools, inscription, bas-relief, were lost.
Half of them
might were stranded on these pedestrian side of Jalan Surabaya, Menteng, Center
Jakarta. They are waiting to be save or found by the treasure hunters.
Rabu, 10 September 2014
Posted by
Unknown
Pemburu Vinil
Awal tahun 2000-an merupakan masa-masa akhir zaman kaset rekaman dan piringan CD. Waktu itu mungkin teman-teman masih mengenal Tara, toko kaset dan CD musik paling hit di zamannya. Ada sebuah kisah saat aku masih suka mengoleksi kaset musik dan rutin mengunjungi Tara, menghabiskan uang simpanan dari menyisihkan uang jajan masa sekolah. Aku sempat bertemu dengan seorang traveler asing yang ingin mencari vinil atau lebih dikenal dengan nama, piringan hitam.
Mungkin musisi Indonesia yang banyak dikenal pemuda kekinian hanya sebatas legenda-legenda macam, Koes Plus, God Bless, Ebiet G. Ade, Chrisye, atau Doel Sumbang saja. Namun ternyata dua lusin lebih piringan hitam yang dites Alessandro menyimpan banyak sekali dokumen sejarah musik nasional yang direkam para musisi-musisi terlupakan. Tak satupun musisi di dalam vinil tersebut yang familiar di telingaku. Genre musik mereka pun tak selamanya pop lambat yang sendu-sendu atau keroncong saja. Musik-musik psikadelik ala Jimmy Hendrik, Rock n Roll ala Elvis Presley, grup sewarna the Beatles pun menggempur telinga kami waktu itu, sukses membuat kepala Alessandro terangguk-angguk bak DJ.
Aku ingat, waktu itu aku membantu petugas kasir untuk berkomunikasi dengan pelanggannya. Sang petugas menyarankan untuk mencari vinil ke Jakarta saja, karena di Lombok akan sangat sulit -kalau tidak ingin dikatakan mustahil- menemukan vinil.
Belasan tahun setelah peristiwa itu, aku seperti melakukan lompatan perjalanan waktu. Selasa, 2 September 2014 lalu aku mendapati diriku tengah memperhatikan koleksi-koleksi piringan hitam di Jl. Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat. Jalan ini memang dikenal luas sejak 1960-an sebagai pasar antik, dan secara resmi dibuka oleh salah satu gubernur legendaris Jakarta, bapak Ali Sadikin.
Jalan sepanjang 500 meter tersebut benar-benar merupakan galeri barang antik terpanjang yang pernah aku kunjungi selama ini. Di sini bertebaran dan benar-benar berserakan beragam barang bercita rasa seni dan klasik seperti ; lukisan, patung-patung kayu primitif dari hampir seluruh penjuru negeri. Semua berjejalan sampai luber ke pinggir trotoar.
Di jalan inilah aku bertemu Alessandro, mahasiswa jurusan kesehatan dari Italia beserta kawan perjalanannya, seorang chief asal Australia. Alessandro yang bertubuh kurus tinggi namun sedikit garang karena memelihara janggut ternyata penggila vinil. Belum sampai dua puluh menit ia menikmati perjalanannya di pasar antik, ia telah menghabiskan 275 ribu rupiah untuk setengah lusin vinil seharga 35-50 ribu rupiah per bijinya. Tidak berhenti di satu kios, Alessandro, sang chief, dan aku sendiri pun ikut-ikutan membantu Alessandro, berburu ke lapak yang lain. Sampai akhirnya kami pun berhenti di kios milik abang Irwan yang berperawakan tambun di sudut Jl. Surabaya itu.
Di sini Alessandro dipuaskan oleh banyak pilihan, apalagi si pemilik toko dimudahkan karena adanya interpreter dadakan yang membantunya, gratis tanpa meminta bayaran.
"I wanna buy something sound groovy and it's especially Indonesian music." pinta Alessandro, yang segera aku terjemahkan dengan, "Lagu Indonesia, klasik tapi nggak terlalu slow bang!"
Entah memiliki ingatan berapa gigabyte, bang Irwan pun mengeluarkan koleksi vinil terbaiknya di antara ratusan vinil yang ia miliki. Alessandro pun mengecek satu per satu track-track lagu yang ada dalam vinil yang ditawarkan tersebut.
Kualitas suara piringan hitam memang tidak secanggih hasil racikan mixing masa kini, namun cirinya khas, sound yang dimilikinya benar-benar mampu membuat kita bernostalgia. Akan tetapi lebih dari semua itu, nilai paling unik yang dikandung dalam sepiring besar vinil ialah hasrat manusia untuk menyimpan kenangan dalam bentuk suara lewat media teknologi rekam di zaman "sejadul" itu. Menemukan vinil yang berkualitas bagus rasanya seperti sejarawan yang menemukan prasasti dari zaman dahulu yang masih jelas terbaca dan memiliki banyak aspek untuk diteliti. Begitulah Alessandro menikmati penemuannya. Selain itu, pilihan bang Irwan yang mengaku sering mendapat pelanggan orang asing, memang "tokcer". Saya sendiri jadi tahu, jika ternyata khazanah musik Indonesia zaman dahulu begitu variatif.
Mungkin musisi Indonesia yang banyak dikenal pemuda kekinian hanya sebatas legenda-legenda macam, Koes Plus, God Bless, Ebiet G. Ade, Chrisye, atau Doel Sumbang saja. Namun ternyata dua lusin lebih piringan hitam yang dites Alessandro menyimpan banyak sekali dokumen sejarah musik nasional yang direkam para musisi-musisi terlupakan. Tak satupun musisi di dalam vinil tersebut yang familiar di telingaku. Genre musik mereka pun tak selamanya pop lambat yang sendu-sendu atau keroncong saja. Musik-musik psikadelik ala Jimmy Hendrik, Rock n Roll ala Elvis Presley, grup sewarna the Beatles pun menggempur telinga kami waktu itu, sukses membuat kepala Alessandro terangguk-angguk bak DJ.
Cukup lama Alessandro memilih vinil, sampai aku hitung sudah dua kali ia meminta maaf kepada kami yang menunggunya. Akhirnya ia memilih 5 vinil dengan koleksi terbaik menurut pendengarannya. Keputusannya tepat diambil sehabis menuntaskan vinil koleksi musik dangdut dan keroncong tawaran bang Irwan.
Semua vinil bang Irwan dijual 50 ribu rupiah satuannya, tanpa mau ditawar lagi. Alessandro yang terlanjur menganggap itu harga yang murah, sekaligus kurang berpengalaman dalam hal menawar barang ala Indonesia, akhirnya ijab kabul juga. Dua tangan berbeda warna kulit pun berjabat erat sore itu, sepakat dengan harga 250 ribu rupiah untuk kelima vinil tersebut. Tak lupa sehabis momen yang penuh rasa persahabatan itu berlangsung, Alessandro memintaku untuk mengabadikan dirinya sedang berangkulan dengan sahabat barunya, abang penjual vinil dari Jl. Surabaya.
Ah, andai saja di awal tahun 2000-an dulu aku tahu tempat ini, mungkin satu pemburu vinil lagi yang akan bahagia dan lebih banyak vinil Indonesia lainnya yang akan terselamatkan, jatuh di tangan yang tepat seperti Alessandro sang pelancong dari Italia.
Jumat, 05 September 2014
Posted by
Unknown
Ziarah Makam Nyatoq : Menggali Akar Meruntuhkan Dongeng
Hari itu Rabu yang cukup cerah. Hari Rabu dengan Matahari di
bulan Mei yang mulai menyembul hangat. Cahanya menerobos membentuk sebuah sorotan
lemah yang menerabas kabut perbukitan. Sepagi itu aku diajak berziarah oleh ibu
ke Makam Nyatoq, desa Rambitan, Lombok Tengah. Ini makam dari seorang pemuka
agama yang meletakkan dasar keislaman di daerah Lombok, khususnya daerah Lombok
Selatan dan sekitarnya.
Hari itu hari Rabu, hari yang spesial sebab menurut kepercayaan sebagian besar orang, wali nyatoq memberikan keberkahan di makam tersebut di hari tersebut,
sehingga apapun keinginan, harapan, niatan, keresahan, dan semua yang ada
dihati akan diringankan ketika berziarah terutama pada hari Rabu.
Aku tidak memungkiri di beberapa belahan di dunia ini terdapat
tempat-tempat yang spesial untuk berdoa kepada Yang Maha Esa. Mungkin saja Makam
Nyatoq ini salah satu tempatnya, suasananya damai, rindang, hijau dan apabila
kau datang pagi-pagi sekali, kabut-kabut bak gulali manis akan menyapa menyentuh permukaan kulitmu.
Sungguh sebuah peristirahatan sempurna di atas bukit tanpa harus berebutan
tempat dengan makam-makam yang lain. Ya, di komplek tersebut hanya ada beberapa
makam saja. Namun wilayah itu terlalu luas untuk tiga nisan dari abad lampau.
Aku masuk ke makam nyatoq tidak berniat apa-apa –eh kupikir
niatku waktu itu hanya ziarah kubur biasa, tanpa ekspektasi apapun sama sekali-
sebab aku tahu dibalik metafor yang bertaburan dalam kisah kehidupan waliullah
yang satu ini, ada banyak kesalah pahaman sejarah yang terjadi disekeliling
kita. Entah apa yang menjadi niat dan ekspektasi ibuku waktu itu, semoga ia
tidak melenceng terlalu jauh dan kuburan ini hanya menjadi media penguhubung
semata ke Kursi Yang Maha Kuasa.
Tidak ada yang salah dari ziarah ini, yang salah adalah
superioritas yang terlalu mengada-ada yang disematkan pada objek dan subjek
yang sebenarnya hanyalah manusia dan kuburan semata. Saat alunan yasin dan
tahlil mengalun di telinga, aku pun berjalan mundur jauh ratusan tahun ke
belakang ke-abad ke-13 Masehi.
***
AsySyaikh As-Sayyid Nururrasyid Ibnu Hajar al-Haytami,
As-Sayyid sendiri adalah gelar untuk kerabat Nabi Muhammad SAW, datang ke tanah
Lombok melalui jalur laut utara. Pertama kali mendarat di pesisir utara
memasuki daerah Bayan, Lombok Utara. Beliau lebih dikenal sebagai Gaus
Abdurrazzaq. Dalam lelontar
(manuskrip daun lontar) ia dikenal juga dengan nama Betara tunggal Nala. Entah
mengapa dalam versi nenekku (almarhumah) Betara Tunggal Nala ini datang
menunggang Labu ajaib dan berubah versi menjadi Umar? Betara Nala inilah yang
memiliki putra bernama Deneq Mas Putra Pengendeng Segara Katon Rembitan, nama
ini tentunya adalah sebuah gelar dalam bahasa kuna sama seperti gelar-gelar raja Jawa yang panjang dan memiliki
arti sembah sujud yang mendalam. Nama asli sang pangeran ini adalah Sayyid
Abdurrahman atau yang dikenal dengan wali Nyatoq yang makamnya sedang kuziarahi
kali itu.
Seratus tahun lamanya sebelum Ayahanda wali Nyatoq mendaratkan kaki ddi pulau Lombok, peradaban suku sasak yang asli
menghilang ditelan letusan gunung paling membunuh di abad ke-12, gunung Samalas,
ini adalah hasil penelitian ilmiah yang dilakukan baru-baru ini. Gunung Samalas
sendiri sebuah gunung rakasasa yang ketinggianya hampir mencapai 5000 meter
dari permukaan laut.
Abad ke-12 masehi gunung ini meledak dan menciptakan
kaldera yang sekarang menjadi danau segara anakan di gunung Rinjani. Selain
menciptakan kaldera indah, dalam dan amat sangat mendebarkan bagi peneliti
vulkanologi, gunung ini pun memiliki anak yang dikenal dengan sebutan gunung
Baru Jari. Jadi melihat kedalaman kaldera hasil ledakan maha dahsyat -lebih dahsyat
dari Tambora di tahun 1815- kemungkinan besar suku dan kerajaan sasak abad ke-12
ini telah terkubur dalam debu vulkanik.
![]() |
| kaldera gunung Samalas seluas 3.500X4.800 meter. |
Kembali ke kisah wali Nyatoq sendiri, dialah yang kemudian
menjadi akar sultan-sultan kerajaan Lombok dengan mendirikan kerajaan Kayangan.
Saudara wali nyatoq, Sayyid Umar mendirikan kerajaan Pujut, oleh sebab itulah
tidak aneh di gunung pujut, Lombok Selatan, ada masjid kuno mirip seperti di
Bayan, begitu pula masjid kuno Rembitan yang dibangun sendiri oleh wali Nyatoq
pun memiliki kemiripan konstruksi yang sama dengan kedua masjid yang lain.
Sedangkan saudari wali Nyatoq bertanggung jawab di daerah utara yang dikenal
dengan nama Syarifah Qomariyah atau secara mistikus disebut sebagai Dewi
Anjani.
Wali Nyatoq Sendiri lebih mengutamakan menyebarkan agama Islam
daripada menjadi raja, hingga ia tidak heran memiliki 33 nama di beragam tempat
di Bali, Lombok dan Sumbawa. Sebagai mubaligh beliau mensyarkan islam ke
mana-mana hingga dikenal di Bali sebagi Pedanda Sakti Mawu Rauh, di Sumbawa
dikenal sebagai Tuan Semeru, di pulau Jawa dikenal sebagai Aji Duta Semu. Di
daerah lain di Lombok ia juga dikenal sebagai Datu Pangeran Djajing Sorga yang
dipercaya berasal dari Majapahit.
Islam di bumi sasak pun disebarkan bernafaskan animisme dan filsafat hindu Advaita
Vedanta di kalangan masyarakat, lebih diterima, singkritisme
pun terjadi lalu bergabunglah sufisme dalam nafas filsafat Hindu. Hingga
akhirnya Lombok pun sepenuhnya menjalankan syariat islam seperti yang terjadi
di masa ini. Namun siapapun yang murni menyandang nama Lalu dan Lale di depan
namanya, wali Nyatoqlah nenek moyang mereka, mungkin saja ada kelebihan yang
dikaruniakan oleh Allah kepadanya namun tetap saja wali Nyatoq hanya manusia saleh berilmu
tinggi, entah cerita mana yang mau dipercayai, yang dipenuh mukjizat atau cerita ini? Yang terpenting ketika mengunjungi akar dan bapaknya
raja-raja Lombok ke makam Nyatoq, niatkan untuk mendoakan semoga beliau diterima
amal ibadahnya di dunia, dan semoga kita diberi kesempatan untuk mengikuti
jejak-jejak kearifannya agar selamat di dunia akhirat. Itu saja tidak kurang
tidak lebih.





