How To : Solo Back Packing ke Baduy Dalam Part 1#

Tekadku sudah bulat sejak awal. Dengan ataupun tanpa partner, aku akan berangkat ke Baduy, kalau bisa sampai Baduy Dalam. Aku sudah mengantongi nama Sapri Armani dari seorang sahabat lama yang cukup sering berkunjung ke Baduy Dalam. Tiga hari libur sudah cukup untuk kabur dari Jakarta. Aku ingin sendiri,  bertemu orang-orang baru, dan memandang bintang di langit bersih kala malam menjelang. Hanya itu saja, tidak lebih.

Dari stasiun kereta api Palmerah, aku memulai perjalanan ke Rangkas Bitung. Tiketnya hanya lima ribu rupiah. Berangkat pukul sepuluh pagi dan tiba kurang lebih jam setengah satu siang nanti di Stasiun Rangkas.

Kawanku undur diri dari perjalanan ini. Aku tak terkejut akan hal itu. Banyak yang berkeinginan untuk berkelana, tapi sedikit saja yang berhasil mewujudkannya. Lagipula aku selalu menyukai solo traveling, karena lebih fleksibel dan dirimu hanya akan bertanggung jawab atas diri sendiri selama perjalanan.

Semakin kereta melaju meninggalkan Jakarta, semakin bergemuruh jiwa petualanganku. Apalagi KA lokal menuju Rangkas Bitung ini mengingatkan pada kereta ekonomi zaman "bar-bar". Semua bisa naik, tapi tak semuanya bisa duduk. Hanya saja pedagang asongannya tak seperti dulu lagi.  Mereka tak menggendong lagi asongannya kedalaman  kereta. Para pengais rezeki itu menawarkan minuman, tahu, salak, lontong, dan jeruk dari balik tas ransel dan kantung plastik.

Tiba di Rangkas Bitung, pejalan akan disambut terminal dan pasar di luar stasiun. Aku lapar dan menemukan warung nasi di ujung terminal. Ah,  aku lupa nama warungnya, namun ramai, masakanya enak, harga terjangkau dan kasirnya cantik berhijab, memancarkan kecantikan khas wanita Sunda. Bisa jadi ia adalah si pemilik warung itu sendiri atau anak gadis pemilik warung,  yang pasti aku menikmatinya.

Dari pintu keluar stasiun, seharusnya aku mencari angkutan kota ke terminal Aweh. Suzuki Cerry merah bernomor tujuh yang tak kunjung hadir. Takut kesorean akhirnya aku memutuskan naik ojek ke Terminal Aweh. Celakanya, ternyata aku salah mengambil tempat nongkrong. Angkot nomor nomor tujuh  ternyata ada di ujung pasar. Kalau keluar dari stasiun, aku hany butuh berjalan terus melipir ke arah utara sampai bertemu perempatan. Di situ "si nomor" tujuh nongkrong bergerombol menanti penumpang.

Sialnya aku sudah duduk di jok ojek dengan harga yang ditawarkan tiga kali lipat harga angkot yang sebenarnya hanya lima ribu rupiah saja. Cukup menyebalkan, karena orang lokal yang dimintai keterangan tidak membantu sama sekali. Bahkan terlalu banyak orang Rangkas yang tidak pernah ke Baduy sehingga tidak paham akses menuju ke sana selain menyewa Elf untuk rombongan. Melihatku berani-beraninya sendirian tanpa teman menuju ke Baduy Dalam pun membuat mereka cukup resah.

Ojek membisikkan padaku untuk terus saja mengantarkan sampai Ciboleger. No! kali ini cukup sekali saja aku miss. Terminal Aweh, titik! Tanpa kompromi.  Dapat elf ke Ciboleger sore ini atau tidak, aku masih bisa tidur di emperan. "Nawaitu" sudah bulat untuk solo backpacking. No tipu-tipu anymore!

Dari terminal Aweh, ada saja ojek lain yang menawarkan jasa untuk mengantar ke Ciboleger dengan harga berkali-kali lipat. Ditambah hasutan yang mengatakan bahwa elf ke Ciboleger sudah habis mengantar rombongan sejak pagi. Aku tidak peduli! dengan sopan aku beralasan, jika aku tidak kuat kalau harus naik motor dua tiga jam. Kali ini aku menguji kesabaran dan keberuntunganku sendiri. Demi Rp. 25,000 ongkos ke Ciboleger menggunakan elf, berbanding ratusan ribu yang ditawarkan tukang ojek setengah memaksa. Akhirnya tumpangan yang ditunggu tiba juga. Ongkos bayar dimuka persis 25,000 perak, tidak kurang, tidak lebih.

Notes : 
- Jakarta (Stasiun KA Palmerah) - Stasiun KA Rangkas Bitung : Rp. 5,000
- Ojek St. Rangkas Bitung - Terminal Aweh Rp. 15,000 (Angkot No. 7 hanya Rp. 5,000)
- Elf dari Terminal Aweh - Ciboleger Rp. 25,000
Rabu, 02 September 2015
Posted by Lalu Ahmad Hamdani

Healing Me!

Beberapa lagu manis yang terdengar dari balik headset, suasana sore yang hangat di luar jendela kaca. Oh ya, ada angin menggoyangkan ranting pohon. Walau sejuk ruangan yang kutempati kali ini berasal dari alat pendingin ruangan. Itu semua menjadi pendukung tulisan kali ini.

Aku hanya sekedar ingin menulis cerita perjalanan terakhirku mendaki gunung beberapa waktu lalu. Aku tidak kehilangan semangat waktu mendaki Papandayaan waktu itu. Aku ingat betapa bersemangatya aku ketika melihat pemandangan, merasakan lelah, tertawa dan bertemu dengan kawan-kawan pendaki lain di tengah hutan.



Tapi ada sesuatu yang kurasa hilang kali ini. Ada sesuatu yang terasa menyangkut. Kurasa tepat menyelinap di rongga dada.

Aku pikir awalnya aku kehilangan motivasi untuk menulis lagi di blog ini. Tidak, ternyata aku telah sakit dari dulu. Sakit yang sulit disembuhkan dan telah cukup kronis.

Walau memendam, walau tidak mau jujur, walau munafik. Dalam hati sejujurnya aku merasa kesal. Karena tahu hanya akan menulis mengenai perjalanan menuju satu puncak gunung. Satu puncak yang membasuh dahagaku akan petualangan setelah berbulan lamanya dibekap kesibukan yang lain. Satu puncak yang membutuhkan dua hari saja untuk mencapainya. Satu puncak yang menyisakan cerita dan menggodaku untuk menikmati perjalanan yang lainnya, yang lebih jauh, yang lebih bergetar, yang lebih luar biasa.

Pada dasarnya, inilah penyakit setiap pejalan. Oh! mungkin juga telah menjadi naluri dasar manusia. Mencoba mencari tahu apa yang ada di balik kabut. Mencoba memeras kemampuan diri sendiri hingga titik nadir. Berjalan lebih jauh lagi.

Ah! Sepertinya aku menginginkan satu petualangan besar, agar jari-jari tanganku mau menulis lebih banyak lagi. Lebih dari beberapa paragraf yang kini berakhir di titik ini.
Minggu, 17 Mei 2015
Posted by Lalu Ahmad Hamdani

Sebuah Kisah Petualangan Di Gunung Prau

(Published&Edited:Indonesiakaya.com)

Akbar, Joko, Jane, Lida, Prama, Septi dan Yeni tak sabar lagi menunggu hujan reda. Sedari tiba di Dieng, tepatnya di Desa Patak Banteng, hujan memang tak henti menerpa. Akan tetapi niat sudah dipatri dari jauh-jauh hari dan ketika cuaca mereka rasa sudah cukup aman, ketujuh pendaki itu siap menjajal tanjakan menuju puncak Prau. Sayang rasanya jika pendakian kali ini gagal, sebab sudah jauh-jauh hari mereka berencana ke Jawa Tengah, apalagi mereka datang dari Jakarta, Surabaya dan Malang. Sulit membayangkan untuk menyurutkan semangat bertualang mereka yang menyala-nyala kala itu.
Ketika hujan deras kian melemah menjadi gerimis dan perlahan sirna menyisakan mendung. Ketujuh orang tersebut bersama tim liputan indonesiakaya.com pun langsung bersiap-siap untuk memulai pendakian. Tak hanya kelompok Joko saja yang memulai petualangan pada pukul 15.00 WIB lewat sedikit itu, kelompok lain yang berasal dari Jakarta dan kota-kota lain pun turut berangkat saat cuaca mulai mendukung. Setelah melakukan registrasi di basecamp Patak Banteng dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 8,000 per kepala, mereka berdoa sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak setinggi 2565 meter dari permukaan laut tersebut.

Dataran Tinggi Dieng memang dikenal sebagai daerah pegunungan dan Gunung Prau merupakan satu dari sekian banyak puncak gunung di Dataran Tinggi Dieng yang kian menjadi primadona baru di antara para pendaki, pecinta alam dan petualang dari berbagai kota-kota besar khususnya di pulau Jawa. Beberapa pendaki dari Jakarta bahkan mengaku lebih memilih untuk mendaki Gunung Prau sebagai pengisi akhir pekan mereka, daripada ke Gunung Gede atau Gunung Pangrango yang notabene jaraknya lebih dekat dari ibu kota.

Di waktu akhir pekan, puluhan hingga ratusan pendaki rela jauh-jauh mengunjungi Gunung Prau yang tepat berada di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini. Puncak Gunung Prau sendiri menjanjikan panorama yang sedikit berbeda dari gunung-gunung yang lainnya. Dari sana, pendaki bisa menyaksikan bagaimana Dataran Tinggi Dieng diapit betul oleh deretan pegunungan seperti, Sindoro, Sumbing, Sikunir dan lain-lain. Satu hal yang lebih menarik lagi ialah, salah satu jalur menuju puncak Prau memang memiliki panorama layaknya deretan bukit di lembah Teletubbies.

Bagi Joko dan kawan-kawan, keindahan bukanlah tujuan utama yang mereka cari dari pendakian Prau kali ini. Keinginan yang kuat untuk mengembara dan menyambangi gunung baru merupakan alasan mereka melakukan pendakian kali ini. Petualangan mereka kali ini bisa dikatakan sebagai reuni sembari mengingat-ingat pertemuan pertama mereka di puncak Anjani, Gunung Rinjani, NTB, beberapa waktu silam. Saat itulah jalinan persahabatan mereka terjalin dan kisah semacam ini memang tak jarang terjadi di kalangan para pecinta petualangan.

Jalur Patak Banteng yang mereka pilih pun merupakan jalur singkat yang cukup menantang dengan kontur menanjak hampir tanpa jeda. Bagi Joko dan kawan-kawan, jalur yang terdiri dari tiga pos itu mengingatkan mereka pada pendakian-pendakian lain yang selama ini pernah mereka lakukan di gunung-gunung lain di Indonesia. Rutenya sendiri menawarkan beragam warna lingkungan mulai dari, petak-petak kebun sayur penduduk, hutan pinus hingga bukit-bukit savana yang semakin cantik dihiasi hamparan bunga-bunga daisy kecil-kecil.

Pendakian mereka pun terbilang cukup lancar dan sesuai dengan rencana awal. Tiga jam perjalanan dari basecamp Patak Banteng hingga ke puncak Prau dipenuhi canda dan tawa. Jalur menanjak dan liat pun sukses didaki hingga menuju puncak. Kekompakan tim pun diuji, apalagi separuh dari mereka merupakan pendaki wanita. Namun tak satupun anggota tim yang tertinggal dan semuanya selamat sampai tujuan walau sesekali sisa-sisa hujan dan gigitan kabut yang dingin menerpa sepanjang perjalanan. Letih dan peluh pun terbayarkan dengan segala cerita petualangan dan keindahan menuju Gunung Prau.
Senin, 19 Januari 2015
Posted by Lalu Ahmad Hamdani

Treasures in the Mids of Jakarta


Marcopolo, Vasco da Gama, the Pirates of Caribean, James Cook, and the other world’s finest explorer might have one related reason to discovered the world. Those special reason was to found the world’s precious treasures. Golds, rare materials, spices, endemic creatures, ancient architectures, historical inscriptions, and many more. Finding treasures always be the human wildest dreams in the world and become the biggest motivation to push them challenge the difficult journey. In such a modern age like today, is treasures hunter and the great wanderer still exist?

Treasures hunter still exist. There is Michael Hatcher, an Englishman from Australia that’s widely known as “The Wreck Salvage King” and mostly wanted by Indonesian Government. Indonesia climed Hatcher has stolen much asset on many Indonesian teritorial since 1986. His latest treasures hunting activity in the deep of Indonesian see recorded in Bangka archipelago, 1999. He succesfully lifted up the Teng Sing ship and take its treasures with estimated cost around 500 billion Rupiah.

The next question is, where the hell the treasures sold? When I read some information about an Antique Market in the mids of Jakarta, I curious to go there to saw what are they offered. This Antique Market is located in Jalan Surabaya, Menteng, Center Jakarta. I arrived right at the same time whit the high traffic jamm peak, after work hour season. Those Antique Market of Jakarta suddenly become a float of vehicles and antiques.

Along 500 meters of those stright road, the antiques were just scattered on the pedestrian side. Indeed, the shops were too narrow to placed too many antique things inside. Many of them were hundred years old antique-colonial-era things, arts, handycrafts, scluptures, vinyl, and every old interesting things.
I walked slowly through the pedestrian side, watched my steps carefully to avoid undesirable touch. I believe, even an experienced historian will fall in love with this place. Honestly, I feel I’m being a time traveler amongs those things. With more than 170 shops and thousands antique choise, an arts lovers and collectors could be confused too.

Jalan Surabaya was famous since 1960’s as an Antique Market of Jakarta. It’s officially opened by the Jakarta legendary Governor, Mr. Ali Sadikin. In 1994, Bill Clinton, former President of USA, have been visited the market. “He spends 200 USD for a couple of scluptures, the Loro Blonyo.” Said Mr. Anwar, the owner of antique shops number 80 that have being antique seller since 1980’s.

The saddest part of this story is when  I found Mr. Anwar and view seller sold the artifacts which is believe came from Majapahit empire era. Mr. Anwar his self sold a kind of stone tools artifact, as seems as hundred years old-traditional nutcracker. He climed that he could earn 2-3 million Rupiah from those kind of artifact.
Another seller near Mr. Anwar shop also sold more precious artifacts. With only 2,5-4 million Rupiah, we can bring an ancient sclupture of Buddhist head or a Hindus Main God sclupture.

I asked them, where were they bought those -actually, priceless- artifacts? They told me that they got it from another person. I guessed, if the artifacts is real, they might were stolen from uncared temples around Java. Indeed, in Java Island itself, there are so many hiden Hindu-Buddhist temples that uncovered, lying on typically cloistered villages. Teens to hundreds artifacts such as, scluptures, stone tools, inscription, bas-relief, were lost.

Half of them might were stranded on these pedestrian side of Jalan Surabaya, Menteng, Center Jakarta. They are waiting to be save or found by the treasure hunters.
Rabu, 10 September 2014
Posted by Lalu Ahmad Hamdani

Pemburu Vinil

Awal tahun 2000-an merupakan masa-masa akhir zaman kaset rekaman dan piringan CD. Waktu itu mungkin teman-teman masih mengenal Tara, toko kaset dan CD musik paling hit di zamannya. Ada sebuah kisah saat aku masih suka mengoleksi kaset musik dan rutin mengunjungi Tara, menghabiskan uang simpanan dari menyisihkan uang jajan masa sekolah. Aku sempat bertemu dengan seorang traveler asing yang ingin mencari vinil atau lebih dikenal dengan nama, piringan hitam.


Aku ingat, waktu itu aku membantu petugas kasir untuk berkomunikasi dengan pelanggannya. Sang petugas menyarankan untuk mencari vinil ke Jakarta saja, karena di Lombok akan sangat sulit -kalau tidak ingin dikatakan mustahil- menemukan vinil.

Belasan tahun setelah peristiwa itu, aku seperti melakukan lompatan perjalanan waktu. Selasa, 2 September 2014 lalu aku mendapati diriku tengah memperhatikan koleksi-koleksi piringan hitam di Jl. Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat. Jalan ini memang dikenal luas sejak 1960-an sebagai pasar antik, dan secara resmi dibuka oleh salah satu gubernur legendaris Jakarta, bapak Ali Sadikin.

Jalan sepanjang 500 meter tersebut benar-benar merupakan galeri barang antik terpanjang yang pernah aku kunjungi selama ini. Di sini bertebaran dan benar-benar berserakan beragam barang bercita rasa seni dan klasik seperti ; lukisan, patung-patung kayu primitif dari hampir seluruh penjuru negeri. Semua berjejalan sampai luber ke pinggir trotoar.

Di jalan inilah aku bertemu Alessandro, mahasiswa jurusan kesehatan dari Italia beserta kawan perjalanannya, seorang chief asal Australia. Alessandro yang bertubuh kurus tinggi namun sedikit garang karena memelihara janggut ternyata penggila vinil. Belum sampai dua puluh menit ia menikmati perjalanannya di pasar antik, ia telah menghabiskan 275 ribu rupiah untuk setengah lusin vinil seharga 35-50 ribu rupiah per bijinya. Tidak berhenti di satu kios, Alessandro, sang chief, dan aku sendiri pun ikut-ikutan membantu Alessandro, berburu ke lapak yang lain. Sampai akhirnya kami pun berhenti di kios milik abang Irwan yang berperawakan tambun di sudut Jl. Surabaya itu.

Di sini Alessandro dipuaskan oleh banyak pilihan, apalagi si pemilik toko dimudahkan karena adanya interpreter dadakan yang membantunya, gratis tanpa meminta bayaran.
"I wanna buy something sound groovy and it's especially Indonesian music." pinta Alessandro, yang segera aku terjemahkan dengan, "Lagu Indonesia, klasik tapi nggak terlalu slow bang!"

Entah memiliki ingatan berapa gigabyte, bang Irwan pun mengeluarkan koleksi vinil terbaiknya di antara ratusan vinil yang ia miliki. Alessandro pun mengecek satu per satu track-track lagu yang ada dalam vinil yang ditawarkan tersebut.

Kualitas suara piringan hitam memang tidak secanggih hasil racikan mixing masa kini, namun cirinya khas, sound yang dimilikinya benar-benar mampu membuat kita bernostalgia. Akan tetapi lebih dari semua itu, nilai paling unik yang dikandung dalam sepiring besar vinil ialah hasrat manusia untuk menyimpan kenangan dalam bentuk suara lewat media teknologi rekam di zaman "sejadul" itu. Menemukan vinil yang berkualitas bagus rasanya seperti sejarawan yang menemukan prasasti dari zaman dahulu yang masih jelas terbaca dan memiliki banyak aspek untuk diteliti. Begitulah Alessandro menikmati penemuannya. Selain itu, pilihan bang Irwan yang mengaku sering mendapat pelanggan orang asing, memang "tokcer". Saya sendiri jadi tahu, jika ternyata khazanah musik Indonesia zaman dahulu begitu variatif.

Mungkin musisi Indonesia yang banyak dikenal pemuda kekinian hanya sebatas legenda-legenda macam, Koes Plus, God Bless, Ebiet G. Ade, Chrisye, atau Doel Sumbang saja. Namun ternyata dua lusin lebih piringan hitam yang dites Alessandro menyimpan banyak sekali dokumen sejarah musik nasional yang direkam para musisi-musisi terlupakan. Tak satupun musisi di dalam vinil tersebut yang familiar di telingaku. Genre musik mereka pun tak selamanya pop lambat yang sendu-sendu atau keroncong saja. Musik-musik psikadelik ala Jimmy Hendrik, Rock n Roll ala Elvis Presley, grup sewarna the Beatles pun menggempur telinga kami waktu itu, sukses membuat kepala Alessandro terangguk-angguk bak DJ.

Cukup lama Alessandro memilih vinil, sampai aku hitung sudah dua kali ia meminta maaf kepada kami yang menunggunya. Akhirnya ia memilih 5 vinil dengan koleksi terbaik menurut pendengarannya. Keputusannya tepat diambil sehabis menuntaskan vinil koleksi musik dangdut dan keroncong tawaran bang Irwan.

Semua vinil bang Irwan dijual 50 ribu rupiah satuannya, tanpa mau ditawar lagi. Alessandro yang terlanjur menganggap itu harga yang murah, sekaligus kurang berpengalaman dalam hal menawar barang ala Indonesia, akhirnya ijab kabul juga. Dua tangan berbeda warna kulit pun berjabat erat sore itu, sepakat dengan harga 250 ribu rupiah untuk kelima vinil tersebut. Tak lupa sehabis momen yang penuh rasa persahabatan itu berlangsung, Alessandro memintaku untuk mengabadikan dirinya sedang berangkulan dengan sahabat barunya, abang penjual vinil dari Jl. Surabaya.

Ah, andai saja di awal tahun 2000-an dulu aku tahu tempat ini, mungkin satu pemburu vinil lagi yang akan bahagia dan lebih banyak vinil Indonesia lainnya yang akan terselamatkan, jatuh di tangan yang tepat seperti Alessandro sang pelancong dari Italia.
Jumat, 05 September 2014
Posted by Lalu Ahmad Hamdani

berlangganan

Total Tayangan Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © ESCAPE - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -