Widgets

Posted by : Lalu Ahmad Hamdani Rabu, 10 April 2013



Mungkin orang-orang desa Boro Gragal tak akan pernah mengenal siapa itu si Thomas Alfa Edison. Benda ajaib yang diciptakannya untuk dunia, tak pernah benar-benar berarti bagi desa ini.

Ketika malam datang, hanya benda-benda alam seperti bulan, bintang, dan kunang-kunanglah sumber cahaya utama yang menerangi jalan setapak di desa mereka. Jalan licin berkerikil dikala musim hujan tiba keras bergerigi di musim kemarau.

Miris rasanya mengetahui keadaan mereka yang terbelakang. Di tengah kemajuan teknologi peradaban manusia. Saya masih ingat, kali pertama saya berjumpa dengan desa ini di tahun 2009.

Saya dan beberapa teman dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) melakukan beberapa survey ke desa-desa di daerah Karang Ploso untuk sebuah misi acara bakti sosial.

Jarak pusat peradaban dengan desa ini sebenarnya tidak begitu jauh. Dari Malang untuk menuju ke desa ini hanya butuh waktu 3 jam perjalanan dengan sepeda motor.

Lanjut cerita, setelah berkunjung ke 3 desa berbeda. Serta sempat menemui kepala dusun desa-desa tersebut. Pilihan kami jatuh pada desa ini. Kami jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya. . . Kami jatuh cinta pada keadaan Boro Gragal yang terbelakang. Kami jatuh cinta pada keramahan penduduknya. Kami jatuh cinta pada kabut tipisnya yang menggelayut di pagi dan sore hari. Kami jatuh cinta pada kemurnian desa ala jawa yang eksotis dan penuh mistis.

Memang selalu saja tradisi kami dalam acara bakti sosial HMJ, adalah mencari desa-desa terpencil di pelosok kabupaten Malang untuk dijadikan objek "penderita" bagi sedikit bantuan dan hiburan yang sudah kami rencankan selama berbulan-bulan sebelumnya.

Senior-senior kami dari mahasiswa angkatan 2006. Memberikan saran untuk menengok lagi keadaan desa Boro Gragal ini. Suatu saat nanti ketika HMJ kembali mengadakan acara bakti sosial. Ini berarti Boro Gragal pernah menjadi target operasi sebelumnya.

Cerita dari para senior, bahwa ada sebuah desa di ujung jalan aspal kabupaten Malang di daerah Karang Ploso. Tak butuh waktu lama setelah melewati jalanan mulus beraspal dengan landskap bukit dan kebun apel yang hijau ke arah timur. Ada hutan pinus yang akan kami temui sebelum menuju ke desa itu.

Di sanalah jalan aspal kabupaten Malang berakhir dan berubah menjadi “gragalan”. Sebuah jalan kerikil dan tanah liat. Kondisi jalanan yang akhirnya menjadi nama dari desa terpencil berpenduduk tak lebih dari 60-an Kepala Keluarga tersebut.

Saat kami tiba di Boro Gragal. Musim sedang penghujan, dan niat kami yang tulus dihadapkan dengan jalan setapak ala Boro Gragal yang licin dan bebatuan kerikil.  Semua hal itu telah sukses menyiksa pengendara selama kurang lebih satu jam lamanya.

Ketika kami mengutarakan keinginan kami untuk mengadakan acara di daerah kekuasaannya. Sang kepala desa penganut ideologi poligami tersebutpun tersenyum senang mendengarnya.

Waktu itu ada perasaan seperti niat baik kami, dibalas oleh tangan terbuka di desa ini. Tidak seperti desa-desa sebelumnya yang meminta kami banyak hal. Hal-hal besar yang bagi sekelompok mahasiswa seperti kami tak sanggup untuk kami wujudkan.

Kami bukan sekumpulan pengusaha dermawan yang bisa melepaskan sebuah desa dari cengkraman gulitanya malam, atau memberi akses jalan raya bagi desa kecil berpenduduk tidak lebih dari 60 KK ini.

Kami hanya sekelompok mahasiswa yang berusaha mengais keiklasan teman-teman kami untuk menyumbangkan uang, sembako dan pakaian layak pakainya bagi mereka. Tak lupa pula kami mengadakan kegiatan di desa ini selama tiga hari, sekaligus membawa serta talenta-talenta pemain ludruk mahasiswa kami untuk hadir di tengah-tengah mereka memberi hiburan renyah di malam puncak. Mencoba mengajak penduduk dan mahasiswa bersama-sama menertawakan kehidupan.


Kata mak Las, istri sang juru kunci desa, yang rumahnya di ujung hutan perbatasan. Seluruh penduduk senang dengan kehadiran HMJ kami yang ketiga kalinya ini. Para senior pun datang turut melepas rindu ketika acara kami berlangsung selama tiga hari di sana. Nuansa kekeluargaan terjalin begitu cepat diantara semua orang.

Kami, senior, junior, dan penduduk pun larut bercengkrama di dinginnya pagi dan malam hari. Mengajari anak-anak Boro Gragal membaca dan mengaji. Membuatkan lomba dengan hadiah sederhana bagi anak-anak mereka. Suasananya sedikit mirip acara 17-an saat itu.

Kami juga coba untuk membersihkan mushola satu-satunya di sana. Mengganti karpet usangnya. Namun kehidupan sekali lagi, selalu klise. Di desa ujungnya jalan aspal kabupaten Malang ini. Kami diberikan pengalaman hidup yang tak ternilai selama tiga hari disana.

Mendengar dongeng-dongeng menyenangkan dari saripati kehidupan sehari-hari penduduk desa. Tungku perapian Mak Las jadi saksi bisu bagi sekelompok mahasiswa yang hanyut dalam cerita perjalanan kehidupan penduduk. Kami terpercik mendengar kisah, setiap kali mereka harus menjual hasil bumi ke pasar dengan berjalan kaki sejak pagi buta, lalu kembali pulang ketika sore menjelang.

Kebahagiaan tak pernah mereka cari dari materi yang mengisi etalase pertokoan di kota. Bisa makan hari ini, ataupun para istri masih bisa menyuguhkan kopi lengkap dengan singkong goreng bagi suami-suami mereka yang lelah membanting tulang di ladang pada malam harinya, sambil mendengarkan siaran radio adalah bentuk kebahagian sederhana untuk mereka. Tapi dari sorot mata mereka yang diam, lubuk hati mereka berbicara banyak tentang harapan-harapan perubahan di desa ini.

Sekolah untuk anak-anak mereka, jalan beraspal, dan listrik adalah kebutuhan yang selayaknya mereka dapatkan di tengah peradaban yang semakin maju akhir-akhir ini. Akhir kata dari saya. Tidak ada tempat yang lebih merindukan seperti di Boro Gragal ini.

Tawa dan Keakraban pria-pria kekar peternak sapi dan buruh tani di Boro Gragal seperti mimpi yang datang di setiap malam-malamu. Sosok keibuan dari seorang Mak Las pun seperti memanggil anaknya untuk selalu kembali. Ke tempat di mana Thomas Alfa Edison dan penemuannya tidak berfungsi. Di penghujung jalan beraspal.

Comments
2 Comments

{ 2 komentar ... read them below or Comment }

  1. perspektif yang unik dalam mendalami manusia
    good job bro
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah masih jauh mas bro . . . sama perspektif dan kegokilan mas yofangga. . . ini mah masih kelas pemula he he he. . . mas yofangga tertarik dengan human interest juga?

      Hapus

berlangganan

Total Tayangan Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © ESCAPE - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -