Widgets

Posted by : Lalu Ahmad Hamdani Rabu, 10 April 2013



Tak pernah terpikirkan sebelumnya, jika aku akan sampai pada titik ini bersama puluhan orang lainnya. Tepat di atas jalan setapak menanjak yang gelap, dingin, dan berlumpur di tengah-tengah hutan hujan tropis. Aku dan teman-temanku tidak pernah tahu. Bahwa sebenarnya saat ini, apakah kami dalam jalur yang benar atau kami sedang tersesat di kedalaman hutan. Atau bahkan tak akan pernah kembali lagi ke peradaban.

Setidaknya kami menyadari satu hal. Pukul 00:00 ketika orang-orang menyalakan kembang api dan meniup trompet tahun baru. Kami di tempat antah berantah itu, tengah merayakannya di tengah hutan dengan perasaan tak bergembira dan putus asa. Persetan dengan pesta kembang api dan semuanya. Hanya berfikir tentang bagaimana caranya bisa keluar dari kegamangan ini yang tercetus dalam fikiran setiap orang saat itu.

Ini semua berawal ketika sekitar pukul 16:00. tepat pada tanggal 31 Desember 2010. Kami pertama kali menginjakkan kaki di atas tanah berpasir pulau sempu (Teluk Semut). Di depan kami terhampar luas sebuah hutan eksotis yang liar dan menantang. Beberapa orang yang baru keluar dari dalam kerimbunan hutan tersebut. Sepertinya baru saja selesai bermain gulat lumpur. Seluruh tubuh dan tas mereka berlepotan lumpur tak karuan.

Kami yang sebagian besar para lelaki ini pun, menggoda mereka yang kebetulan dua orang wanita berwajah manis. Tidak pernah sedetikpun kami berfikir, jika nanti nasib kami akan sama persis atau bahkan lebih parah dari mereka. Sebagian besar dari kami hanya berfikir bahwa, kami nanti akan merayakan pesta tahun baru paling berkesan dalam hidup. di sebuah laguna eksotis di pulau Sempu.

Tim yang berangkat ke Sempu itu adalah sekelompok orang yaitu; wawan, putra, irawan, hanif, Faiz, Ibad, Ma’ruf, gotek dan aku, orang-orang yang kenal karena sempat hidup di satu kos=kosan. Serta teman-teman Denoq pacarnya wawan yaitu; fio, alba, sarita, fadim (rusia), det (laos), maksum (guide), Regi dan frilia.

Maksum yang sudah 4 kali ke tempat tersebut berkata, bahwa perjalanan menuju ke segara anak. Memakan waktu normal 2 jam. kami berfikir waktu itu. 2jam bukanlah apa-apa, jika dibandingkann dengan hayalan akan perayaan malam pergantian tahun. Berkemah di pinggir pantai kala malam menjelang, beratapkan langit bertabur bintang, sekaligus kehangatan dari api unggun yang menyala ditemani ikan bakar yang enak.

17:00 31 Desember 2010. Hari semakin sore, tanah yang kami pijak tak kunjung berubah menjadi tanah keras yang bisa kami pijak dengan baik. Kecepatan jalan kamipun jika dihitung dengan spidometer, mungkin selambat motor berkecepatan 1 kilometer per jam.

Kami bergerak selambat siput, sedangkan rintik hujan pun semakin menambah keruh suasana hati. Tas ransel yang berat berisi galon air mineral, kami bawa bergantian. Aku dan makruf sempat tersesat karena mencari jalan yang lebih kering, namun yang kami dapati ujung-ujungnya adalah. Sebuah jalan setapak yang sepi dan gelap, seperti tak lazim dilewati banyak orang. Aku dan makruf pun mencari jalan untuk kembali ke kelompok, karena takut akan jauh tersesat.

Kami pun menemukan kelompok kami. Kelompok yang ternyata sudah ditinggalkan oleh cepatnya langkah 2 ekor bule rusia dan laos, serta alba dan frilia yang mengikuti rombongan lain yang lebih cepat perjalanannya di depan kami.

Hujan, kebingungan, dan kelelahan yang mendera setiap orang. seakan mempercepat datangnya waktu. Malam pun merambat naik menggantikan terangnya hari. Jam berapa? kami tak tahu. Jalan setapak seakan-seakan tak akan pernah berubah menjadi tanah keras, yang kami pijak adalah lumpur licin, yang kadang-kadang setinggi dengkul kami. Tentu saja alas kaki kami yang tak dirancang untuk menghadapi lumpur tersebut adalah benda penghalang utama.

Kami semua pun berjalan tanpa alas kaki karena sadar akan menghalangi perjalanan kami, atau bahkan alas kaki kami memang sudah "ngambek" dan lebih memilih tinggal di dalam lumpur yang dalam itu. Tanpa alas kaki, kami baru menyadari, bahwa di dalam lumpur tersebut. Bersemayam batu-batu karang tajam dan duri-duri pohon yang sering kali menyayat kaki kami.

"Tinggal sebentar lagi." kata maksum yang memimpin di baris depan. "Di depan nanti kita akan menemukan batang pohon yang tumbang. Setelahnya ada jembatan, kemudian kita akan menemukan pantainya“.

"Berapa lama lagi?“ tanyaku.

"Kira-kira 15 menit lagi."

Kawan... Saat itulah aku baru tahu, jika seseorang di dalam hutan. Perputaran waktu ternyata lebih lama dari waktu normal. 15 menit di perjalanan ini sama artinya dengan 2 setengah jam perjalanan. Pohon tumbang yang dimaksudpun. Kami temukan jauh sekali di dalam hutan yang gelap dan becek itu setelah lama sekali berjalan. Untuk melewatinyapun, kami terpaksa merayap, melewati celah-celah sempit di antara lupur dan pohon tumbang tersebut.

Aku tak pernah yakin kalau pohon tumbang pertama yang kami temukan adalah pohon yang dimaksud si maksum. Karena setelah pohon tumbang pertama kami temukan. Kami menemukan lagi pohon tumbang lain yang lebih tua dan lebih rapuh dari pohon sebelumnya dalam tempo waktu benar-benar 15 menit. Setelah itu jalan setapak yang kami tempuh semakin terjal.

Kami bertemu kelompok besar lainnya di depan. Sepertinya kami menyusul mereka yang lebih dahulu melakukan perjalanan gila ini. Di sebuah tempat, puncak dari kelelahan dan perasaan dicampur aduk, karena ketakpastian menemukan "Segara Anak" ini pun terungkap.

Kami tahu ini tidak akan berjalan mudah. Kami merasa seperti dibohongi oleh maksum. Kami duduk beristirahat di atas beceknya lumpur bersama kelompok di depan kami yang lebih parah perlengkapannya, karena mereka tidak membawa penerangan/senter yang cukup dalam gelapnya malam itu.

"Bagaimana? Istirahatnya cukup nih kayaknya. Mau lanjut atau tidak?“ seru maksum didepanku.

"Sebentar, wawan masih di belakang. Kayaknya mereka terhambat kelompok lain di belakang!“ seru kami.
Ya! benar saja. Kini peserta semakin ramai, ada kelompok lain yang ikut dibelakang kami yang hanya membawa terpal dan logistik namun tak membawa senter.

"Kita kumpul dulu disini!“.

Duduk di tempat itu, saat itu membuat kami malas untuk melanjutkan perjalanan. Terlebih lagi, didukung faktor kelelahan fisik. Membuat kami berfikir untuk tinggal dan menunggu hari terang saja di tempat itu.

3 kelompok besar berkumpul di tempat ini, Maksum pun menjalankan aksinya „Ayo kita berangkat!“

"Berangkat ke mana?“ tanya Faiz.

"Sebentar lagi ada jembatan, lalu jalannya akan lebih mudah, sepuluh menit lagi setelah jembatan itu kita akan sampai.“

"Gak mungkin! kita dari tadi gak nemu-nemu jembatan yang kamu maksud!“

"Ya, katanya habis pohon tumbang 15 menit lagi jembatan dan kita hampir 2 jam jalan gak nemu-nemu jembatan yang kamu maksud!“

"Sebenarnya kita tersesat atau gak“ tanya seseorang didepan.

"Dari semua orang ini jujur siapa sih yang pernah kesini sebenarnya?“ tanya denoq.

Tak seorang pun angota kelompok. baik yang di depan ataupun yang berada di belakang kami. Sanggup untuk mengatakan „aku“. Hanya satu orang di antara tiga kelompok ini yang pernah kemari yaitu „Maksum“.

"Sum, kamu serius kita gak tersesat!“ tanyaku.

"Aku yakin kita gak tersesat!“.

"Terus mana jembatan yang katanya tinggal 15 menit lagi itu?“.

"Aku gak tahu? Jalannya gelap di depan, sejujurnya aku gak yakin.“ kini Maksuum seperti bingung.

"Bagaimana bisa kamu bilang kita gak tersesat sedang jembatannya tidak kita temukan“ sahutku lagi.

"Ok dalam keadaan seperti ini, kita putuskan tinggal di sini saja“ lanjut Faiz.

“Tapi aku khawatir sama si bule dan dua orang yang ikut si bule itu. Mereka gak bisa dihubungi. Aku takutnya mereka tersesat berempat.“ Sergah wawan.

"Ya kita ga‘ mungkin ninggalin mereka, mereka tim kita.“ujar denoq.

“Tapi kita gak mungkin nyari mereka, kita sendiri gak pasti di jalur yang benar, aku gak mau jalan nyari orang yang tersesat kalau kita sendiri gak tau tersesat atau gak.aku gak mau merepotkan orang lain karena tersesat dalam perjalanan mencari orang yang kita kira tersesat“ sahutku.

"Ok. . . Aku kira teman-teman di sini semua capek, jadi sekarang tim Wawan yang masih sanggup dan kuat jalan ikut aku untuk nyari jembatan. Separuhnya lagi bikin tenda darurat di sini untuk istirahat dan nampung kelompok lain yang sakit.“ kata Maksum.

Semua orang setuju dengan usulan tersebut dan kami pun mulai menyusun rencana. Wawan, Makruf, putra, dan irawan membuat tenda dan memasak untuk 3 kelompok besar. Sedangkan  maksum, ibad, faiz, regi, dan gotek melanjutkan perjalanan mencari jalan menuju jembatan. dengan syarat, kalau mereka mampu menuju jembatan dalam waktu 10 menit. Mereka akan kembali untuk mengabarkan ke kelompok yang tersisa.

31 Desember 2010. Kami berbagi makanan yang kami bawa dengan kelompok yang kami temui. Mereka memperkenalkan diri sebagai mahasiswa dari politeknik malang. Candaan lucu dari mereka ajaibnya bisa menghidupkan suasana gembira dan hangat, di tengah ketersesatan kami saat itu. Namun bodohnya mereka tak membawa perlengkapan hidup yang memadai untuk survive di tengah hutan, sehingga kami membagi logistik kami dengan mereka. Dan mereka membagi semangat hidup mereka kepada kami. Sungguh sebuah petualangan yang tak terduga di malam tahun baru dan hari ulang tahunku.

1 januari 2011. Hari sudah terang dan istirahat semalaman membuat tenagaku bangkit lagi. Sebenarnya aku ingin berfantasi bahwa saat ini aku sedang bermimpi dan aku berharap tubuhku yang tertidur di kos-kosan. Dibangunkan oleh seorang teman, sehingga petualangan ini ppraktis berakhir di tempat tidur.
Kenyataanya aku masih di tengah hutan belantara. Aku harus menghadapi realita ini.

Mahasiswa Poltekpun meninggalkan kami untuk turun kembali mencari jalan pulang, mereka tahu diri untuk muundur dari tempat itu. Tanpa harus menantang kuasa alam. Dan tim kami hanya separuh kekuatan, separuhnya kami tidak tahu sedang berada di bagian mana di tengah hutan belantara tersebut.

Tim lain yang masih tersisa, berasal dari Sidoarjo. Wisatawan lokal yang sama-sama kemalaman di tengah hutan. Tuhan memang selalu memberi hidayahnya kawan. bahkan di tengah-tengah cobaan-Nya yang berat itu.

Saat anak-anak  tim Sidoarjo masih bercanda. Kami memperhatikan, bahwa salah satu dari mereka. Membawa alat berbunyi sangat nyaring untuk menggoda temannya yang melucu. Sebenarnya sebagaian dari kami ingin untuk mengikuti tim Poltek untuk pulang saja. Tapi separuh barang bawaan tim ada pada kami, yang tersisa adalah Wawan, Makruf, Hanif, Putra, Irawan, denoq, fio, sarita, dan aku. Mereka tidak mungkin sanggup untuk membawa diri, serta barang-barang seluruh tim untuk turun kembali.

Entah darimana asalnya seorang anak dari tim sidoarjo datang tergopoh – gopoh. sambil terbata-bata ia berusaha mengabarkan seusatu. Rautnya serius sekali.

"Rek (Bro)! pantainya sudah dekat, jembatannya sudah dekat.“ karena rasa putus asa. sebagian anggota tim mereka tak mempercayai penglihatan orang tersebut.

"Masak iya aku bohong rek, wong kita ini sama-sama susah. Gak mungkin nambahi kesusahan dalam kondisi sekarang ini.”

“Ya udah kalo teman-teman sampean (anda) gak percaya. Saya bawa terompet sampean, nanti kalo beneran jembatanya udah dekat saya bunyiin terompetnya 3 kali” kata wawan mengajukan diri.

Akhirnya wawan dan orang dari tim sidoarjo tadi berangkat dengan misi membunyikan terompet saat menemukan jembatan. 10 menit kemudian terompetnya kami dengar, lalu aku dan hanif, berencana menyusul wawan dan teman-teman untuk menyuruh mereka kembali pulang. Di tengah perjalananku bersama Hanif, kami bertemu wawan, anak Sidoarjo, Maksum, serta Regi, yang memutuskan untuk menyusul anak-anak yang tertinggal tadi malam di sekitar Jembatan.

Para wanita sudah tak ingin lagi berjalan menuju pantai yang berjarak tinggal sebentar lagi itu. Mereka memaksa pulang, namun kami tak mungkin sanggup membawa barang-barang kami semua tanpa tim yang lengkap.

Akhirnya kami semua memutuskan untuk meninggalkan barang-barang di tempat tersembunyi dan menyusul anak-anak di pantai. Kamipun melanjutkan perjalanan kami menuju “Segara anak” sang Laguna misterius nan eksotis, dengan perasaan tak karuan. Antara cemas, senang karena akhir pencarian itu berujung pada penemuan dramatis, dan kelelahan fisik yang mendera kami selama itu.

Tak sampai setengah jam kami pun mencapai surga itu. Semua drama petualangan kami sebelumnya terasa terbayarkan tuntas setelah menikmati indahnya harta karun yang kami impikan ini. Laguna yang unik seperti pantai Pataya di Thailand dan airnya tak lebih dalam dari dada manusia dewasa, so kalian yang gak bisa berenang bisa berenang disana tanpa takut tenggelam. Sekian cerita pengalamanku di pulau sempu wasalam.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

berlangganan

Total Tayangan Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © ESCAPE - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -