Widgets

Posted by : Lalu Ahmad Hamdani Senin, 25 November 2013

Bus Ekonomi. Bagiku adalah sekotak penuh cerita kehidupan yang sarat dengan perasaan dan aktifitas manusia. Melamun sambil memandang jauh keluar jendela saja telah banyak menginspirasiku. Apalagi memperhatikan dengan seksama, segala macam aktifitas manusia yang berlalu-lalang di dalamnya.
Ada pengamen jalanan. Ada ibu-ibu. Ada bapak-bapak. Ada pedagang asongan, Copet, Mungkin ada juga buronan yang sedang melarikan diri, atau orang yang kabur dari segala keterpurukan masa lalunya, dan berharap akan menuju kehidupan yang lebih baik di tempat yang baru. Semua komplit di dalam bus. Maka setiap kali aku menaiki bus ekonomi. Aku merasa ini adalah sekotak penuh perasaan manusia yang terperangkap dalam diam dan deru mesin melaju.
Sekali waktu aku memperhatikan pedagang asongan yang berhimpit-himpitan dengan penumpang yang berdiri. Menjejali pangkuan penumpang dengan barang dagangannya -sebagian besar berupa makanan dan minuman-. Sering kali aku lihat dagangan mereka tak laku di atas sebuah bus. Lalu aku bertanya. Seberapa banyak bus yang harus mereka sambangi dalam sehari untuk mampu menjual habis semua itu?
Di terminal kota kecil yang lain. Naiklah sebuah grup pengamen. Bernyanyi suka ria, menghibur penumpang. Ini adalah proses kreatif yang paling kompetitif di jalanan. Menyadari bahwa, pengamen jalanan baik solo maupun dalam bentuk grup jumlahnya ratusan. Mereka harus benar-benar menghibur, atau harus mampu menyentuh hati pendengar mereka, yang sering kali acuh tak acuh itu.
Penumpang Bus Ekonomi sering kali hanya mau menikmati alam fikiran mereka yang sedang melayang jauh. Mereka sering kali tak menggubris kreatifitas dalam bentuk apapun dari para pengamen itu. Mereka tak pernah benar-benar peduli.
Pengamen-pengamen yang kutemui kali ini begitu semarak rupanya. Ada yang berkualitas di bawah standar. Seperti seorang wanita kecil seusia 10 tahun yang menjajakan kepahitan hidup melalui suara falesnya. Diiringi kerecekan-alat musik dari kayu dan tutup botol minuman yang dipipihkan yang bisa berbunyi “crek!crek!crek”- buatannya sendiri. Ada grup musik beranggotakan dua lelaki dan seorang perempuan yang menampilkan sajian musik dangdut jalanan. tentu saja iringannya adalah gendang -biasanhya terbuat dari pipa palaron dibalut karet sebagai membran di permukaannya- dan gitar. Grup ini menampilkan nomor-nomor yahud yang membuat orang turut bergoyang dalam sikap diam mereka yang berlagak acuh tak acuh. Terbukti aku memergoki ujung-ujung kaki penumpang ikut bergoyang terbuai syahdunya suara penyanyi si gadis merdu. Supaya lebih atrakftif lagi, mereka memberi kesempatan kepada penumpang untuk meminta lagu apa saja dengan genre dangdut, dan pop melayu tentunya. Tak dinyana-nyana, dua buah lagu request bapak-dan ibu-ibu di dalam bus. mampu mereka bawakan dengan apik. Sebuah grup jalanan yang bertalenta sekali.
Kala bus melewati kota yang lain. Naiklah seorang ibu-ibu sambil membawa kotak amplifyer lenkap dengan pemutar CD, lalu berdendang karaokelah dia suka-suka. Sebuah bentuk hiburan digital yang lain dari pada yang lain di atas bus penuh sesak ini.
Lalu di akhir riuh-rendah keramaian hiburan jalanan itu. Aku tertidur karena lelah mendera tubuhku, disebabkan perjalanan berjam-jam melintasi pulau jawa dari ujung barat menuju ujung timur. Sebelum akhirnya sebuah suara serak tak jelas seperti bunyi burung gagak yang mengerikan membangunkanku.
“Oaakk,,, Kroookkk, , , eeekkk,,,!”
Aku terbangun dibuatnya. Aku mendelik memperhatikannya dari sudut mataku. Dia seorang anak laki-laki. Kalau dia sekolah, mungkin usianya sudah masuk kelas 3 SMP atau kelas satu SMA. Di tangannya yang kurus kecil, ia memeluk gitar bersenar 3 buah –tiga senar pendukung yang lain hilang entah kemana-. Entah lagu apa yang dimainkan. Bahkan aku berani bertaruh ia tak bisa bermain gitar sama sekali. Kalaupun bisa, sungguh itu adalah kunci gitar paling aneh yang pernah aku perhatikan.
“Oaakk,,, Kroookkk, , , eeekkk,,,!” teriaknya, seperti seekor gagak yang tenggorokkannya sedang penuh dengan kodok yang belum sempurna ditelannya.
Setelah menggenjreng gitar yang tak jelas iramanya. Suara aneh itu dilontarkannya kembali ke tengah-tengah keheningan penumpang yang tertidur.
“Abllah... bla bla bla. . . pfffhh... krook. . . ekk!!” raut mukanya susah payah mengeluarkan suara parau mengerikan itu. Bola matanya hampir-hampir mau keluar dari tempatnya. Ia seakan merasakan perasaan tertahan yang tak pernah bisa keluar lepas dari ketercekatan itu. Lehernya yang kurus kecil berwarna coklat gelap terlihat memerah. Terlihat jelas uratnya menyembul dari kulit lehernya yang memerah, tegang setegang-tegangnya. Tubuhnya kejang-kejang kaku. Mirip seperti seseorang terkena epilepsi, ketika melontarkan semua suara paraunya.
Gayanya acuh tak acuh bak penyanyi rock di atas panggung. Ini memang panggungnya. Dia tak akan pernah canggung lagi untuk tampil di atas bus ekonomi ini. Mungkin sudah ratusan kali ia menyanyi seperti itu di atas puluhan bus ekonomi berbagai rupa. Kalau tidak memiliki mental percaya diri sebesar itu. Maka pensiunlah ia dari profesi pengamen jalanan.
Sudah lebih dari lima menit. Erangan kesakitan yang ia anggap sebagai nyanyian itu terus saja ia lakukan. Dendangan nada dan suara monoton ditingkahi genjrengan “kunci inggris” di atas tiga utas senar gitar bobrok ia mainkan. Lalu kini ia tiba-tiba berhenti. Menggenggam leher gitar tiga utasnya. Rupa-rupanya ia ingin menyampaikan sesuatu. Tapi lagi-lagi.
“Abllahh... bllah, , , eblleh, , krroookk, , , pfffhh,,,” gestur dan matanya menyapu ke segala penjuru. Mata kami saling bertemu. Ia melemparkan pandangan tak suka kepadaku. Entah apa maksudnya. Aku tak yakin? Apakah memperhatikannya terlalu lama telah menyinggung perasaannya? Tapi yang aku yakin hanyalah. Kalimat terakhir sebelum tatapan tak bersahabat yang tertuju kepadaku itu adalah sebentuk ucapan terimakasih panjang lebar kepada kondektur, sopir, dan penumpang yang sudi mendengarnya melantukan lagu-lagu paraunya –diucapkan dengan susah payah dan penuh perjuangan pula-. Aku tahu dan yakin. Ia berusaha menjadi pengamen bus ekonomi normal di atas segala kekurangannya.
Si parau muda yang bisu itu pun mulai mengedarkan bungkus permen kosongnya ke semua orang. Berharap ada receh yang dilemparkan ke sana. Demi menyambung kehidupannya di jalanan yang keras ini.
Mengapa ia tak memilih profesi lain? Berjualan kek, mengemis lah, menjadi tukang parkir, atau apapun itu terserah! Mengapa ia memilih menjadi pengamen? Dia tahu pasti, bahwa itu adalah kekurangannya. Ia bisu, sebisu-bisunya.
“Eakkk, , , bllhh,,, pffhhh,,, krrrookkk,,,” katanya kepada tiap orang yang melempar receh di bungkus permennya. Tidak lupa dengan gaya menahan rasa tersiksa di sekujur tubuhnya
Apapun alasannya, aku tak mau menyakitinya lagi dengan pertanyaanku. Dia sungguh telah menawan hatiku siang itu atas kegigihannya. Tak ayal tips terbesar bagi artis jalanan kali ini pun kuberikan padanya. Si rocker Bisu bersuara parau.
Bandung-Yogyakarta-Malang Di Penghujung April Menyambut Mei 2013.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

berlangganan

Total Tayangan Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © ESCAPE - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -