Tampilkan postingan dengan label pantai&pulau. Tampilkan semua postingan
Kita Berpisah Di Gili Kondo
Teks : Lalu Ahmad Hamdani
Foto : Mira Zulia
Perahu
kayu bermesin diesel itu seharusnya muat 20 orang. Namun kini hanya Ino, Mira,
dan saya yang menjadi penumpangnya. Membuat laju perahu menjadi ringan,
berayun-ayun dibuai gelombang lautan sore yang kuat. Sendiri mengarungi
perairan menuju gili (pulau) Kondo, Lombok Timur.
Nahkoda
perahu melempar jangkar, segera setelah moncong perahu menyentuh bibir pantai
berpasir putih lembut. Pantai sepi gili Kondo yang dikelola secara bersama oleh
pemda Lombok Timur dan salah satu perusahan swasta.
“Jam
9 besok pagi ya pak?” sahut Ino mengingatkan nahkoda kapal untuk menjemput
kami.
Kata-kata
itu terlalu cepat diucapkan Ino. Mengingat petualangan kami yang sudah
berlangsung hampir seminggu di Lombok. Dan hampir berakhir di tempat ini.
Kata-kata Ino tadi, serasa semakin memperpendek waktu saja. Seakan hari esok
akan datang lebih cepat daripada 17 jam lagi.
Kami
langsung menuju café satu-satunya di pulau itu. Mengambil tempat di sudut,
untuk kemudian meletakkan tas dan ransel. Memesan apapun yang bisa dipesan di
tempat itu.
Entah
mereka menikmati atau tidak, iringan musik reage yang mengusik keheningan,
dengan volume yang cukup bising. Kami hanya diam, terduduk. Dibuai lamunan
masing-masing.
Mungkin
ino berfikir, tentang di mana ia akan mendapatkan pekerjaan lagi, selepas
petualangan ini nanti berakhir. Dia resign
dari sebuah perusahan konsultasi design
interior di Bandung. Sedangkan Mira, walau terlihat sibuk dengan iPhone-nya. Mungkin saja ia telah
dibekap oleh bayang-bayang Thesis, serta rangkaian ujian yang akan dihadapi.
Selepas petualangan ini nanti berakhir.
Aku?
Aku Cuma memikirkan hari ini dan kemarin. Mengingat kembali awal perjumpaan
kami di bandara. Mengingat SMS pertama yang aku kirim kepada mereka, “Halo
Mbak/Mas ditunggu di pintu keluar bandara yah? Dari Dani cakep pakai kupluk
warna ungu.” ketikku di handphone,
hampir seminggu yang lalu.
Selalu
saja semua terasa manis di awal perjalanan. Selalu ramai dan riuh oleh tawa
canda. Tapi entah mengapa, tiap kali di ambang perpisahan. Semua berubah sendu.
Walau
reage “Lombok I Love You” masih
bertalu, walau sekelompok pejalan lain menawarkan untuk ikut bermain voly di
pantai, walau seluruh karyawan homestay, dan café di pulau itu tersenyum ramah,
walau gili Kondo bersolek pasir putih berhias laut biru. Semua tak mampu
menyembunyikan nuansa perpisahan di antara kami.
Sialnya,
ketika malam mulai menjelang. Bulan purnama kemerahan kala senja itu. Semakin
menambahi kegalauan yang tercipta. Cahaya pucatnya terpantulkan oleh laut gelap
yang tenang.
Malam-malam,
kami bertiga berjalan menyusuri pantai sendiri-sendiri. Saling memberikan ruang
privasi masing-masing. Aku meresapi keheningan alam. Menatap ke arah barat. Ada
rinjani kokoh menjulang tinggi. Kaku dalam malam bisu. Beberapa waktu yang
lalu, kami bertiga berada di sana. Di puncaknya yang terlihat kecil dari kejauhan.
Jauh sekali kelihatannya dari pulau ini. Dan semakin membuatku tak menyangka, bahwa
sempat menginjakkan kaki di tempat sejauh itu bersama mereka, beberapa hari
yang lalu.
Ketika
aku menghadap ke timur, Poto Tano terpampang. Berhiaskan suar-suar dan lampu
neon benderang. Masih sibuk dengan segala aktifitas bongkar muat kapal. Melihat
Sumbawa dari titik ini, seakan menarikku untuk terus bertualang ke timur. Ke
Sumbawa, ke Tambora yang gagal kami kunjungi.
Mira
asyik di bibir pantai. Sesekali ia tersenyum melihat hasil jepretannya sendiri.
Sedangkan Ino di sisi yang agak jauh. Bersedekap berselimutkan kain songket
keabu-abuan bermotif indah, baru dua hari yang lalu ia dapatkan di desa Sade.
Dari mulutnya, perlahan ia hembuskan asap nikotin menantang angin laut dingin.
Matanya lurus menatap gili Sulat dan gili Lampu di hadapannya.
Malam
semakin sepi. Suara tawa sekelompok pejalan yang mendirikan tenda di pantai
itu. Kini hanya terdengar bisik-bisik lirih, dan cekikikan kecil mereka.
Membuat suasana malam makin intim, semakin menjadi milik pribadi sendiri.
Lalu
tibalah hari itu. Hari yang paling aku benci dari sebuah perjalanan. Hari ini
walau surya terbit dengan perlahan di sebelah timur, didukung cuaca cerah musim
kemarau. Tetap saja waktu bergulir kembali. Tak perduli dengan keindahan yang
terpampang di atas bentangan alam.
Kami
bertiga pagi itu berdiri sejajar. Menyaksikan surya terbit untuk ketujuh
kalinya di tempat berbeda-beda seminggu terakhir ini. Kini kami menyaksikannya
di celah antara dua pulau utama provinsi NTB. Menyaksikan laut bergelimang
cahaya keemasan. Sambil menanti udara hangat menghangatkan badan kami.
Lama
sekali kami menunggu surya sempurna bercokol di cakrawala. Sembari mengobrol,
dan berkelakar lagi seperti hari-hari sebelumnya.
“Jadi
snorkeling nggak Dan?” kata Ino.
“Jadi
dong. Mbak Mira ?” tanyaku
“Kalian
aja deh. Kalau udah nyebur. Entar aku lihat hasil jepretannya yah? Kalau bagus.
Nanti aku ikut.” sahut Mira
Dalam
hati aku cuma bisa iri kepada Mira. Karena punya kesempatan dan pengalaman
diving di beberapa perairan cantik di Indonesia. Membuatnya menjadi sedikit
lebih selektif, dalam memilih spot snorkeling, atau diving. Ah, kapan aku bisa
diving? Mendapatkan license pertamaku.
Di mana?
Mengenyampingkan
semua itu. Aku sudah siap melompat ke air. Walau laut masih terlihat lumayan
dingin. Ino pun sudah siap dengan Snorkel dan live jacket sewaannya. Lagi-lagi aku hanya pakai jeans hitam.
Dengan bertelanjang dada, kini Aku siap dengan snorkel sewaan dari homestay.
“Gitu
doang Dan?” tanya ino melihat kostumku.
“Ya
gini aja, he, , ,he, , ,”
“Nggak
pakai live jacket?”
“Nggak
ah, gini aja.”
“Dasar
Akamsi (Anak kampung sini) lo. ha ha ha.” kata Ino berkelakar.
Tak
perlu menyewa perahu lagi menuju spot snorkeling di Gili Kondo. Lautan di
hadapan kami adalah lahan konservasi bawah laut yang terlindungi. “Byur!” aku
terlebih dahulu menyentuh air. Dingin air laut di pagi hari segera merayap di
permukaan kulit.
Setelah
gunung, satu lagi surga dunia kusambangi. Kini aku menyaksikan alam bawah laut
yang eksotis. Terumbu karang menyembul dari dasar laut berpasir. Pemandangan biru samar-samar kulihat
mengitari sekelilingku. Jernih, jernih sekali dunia lain ini. Dunia laut lepas,
tempat bersemayamnya ikan-ikan karang berbagai macam bentuk, rupa, dan warna.
Aku
terbawa sensasi keindahan yang mengawang-awang. Sebelum akhirnya Ino yang kini
mendekat, mengabadikan keceriaan terakhir di Lombok bersamaku. Merekam pesona
panorama kedalaman selat alas ini. Bercengkrama dengan ikan-ikan yang lewat
acuh-tak acuh di dekat kami.
Setelah
sesi foto. Aku kembali menghanyutkan diriku sendiri. Terbawa arus lemah di pinggiran
gili Kondo. Sambil memejamkan mata sesaat, berhayal layaknya sedang terbang di
udara. Kedua tangan kurentangkan lebar-lebar.
Satu
dua jam kemudian, kami berdua naik lagi ke pantai. Mira yang melihat foto-foto
bawah laut hasil jepretan Ino. Urung untuk mencoba snorkeling di pulau ini. Ya sudahlah, kalau begitu. Saya dan Ino
segera membersihkan diri. Di toilet umum yang disediakan oleh pihak pengelola.
Kemudian sekitar jam 8 pagi kami menelpon perahu sewaan kami.
Akhirnya,
peristiwa ini datang juga. Sebuah
perpisahan yang manis dari kisah perjalanan seminggu di Lombok. Dan tepat di
pulau cantik ini. Di pulau tempat artis ibukota sekelas Duta (shiela on 7) membuang status
selebritisnya. Kami menutup sebuah episode perjalanan.
Sampai
jumpa kawan pejalan. Episode berikutnya. Boleh jadi kita berjumpa lagi. Di
Tambora, Krinci, atau mungkin di Lombok lagi.


Tertawa Sampai Malam Di Tangsi
teks : Lalu Ahmad Hamdani
Foto/Dokumentasi : Zicco/Ino & Mira
Ino, Mira, dan aku hendak mencari jalan setapak di
sekeliling bukit kecil, yang menuju ke satu-satunya penginapan di pantai Tangsi,
Lombok Timur. Sebelum akhirnya seseorang meneriaki kami.
“Hei, , ,
kalian! Mau ke mana?”
Kami segera menoleh ke belakang. Mencari sumber suara,
yang ternyata datang dari seorang bapak-bapak. Berjalan tergopoh-gopoh ke arah
kami. Sesudah dekat kami pun menjelaskan niat kami.
“Ini pak kita mau nyari jalan ke atas sana.” kata
saya.
“Nggak boleh! Selain tamu dilarang masuk” kata bapak
itu dengan bersungut- sungut. Dahinya mengkerut.
“Iya, pak. Kami rencananya mau nginep, tapi mau
nanya-nanya dulu harga kamar semalam.” Sahut Ino.
“Ya sudah sama saya saja (tanyanya). Tapi adik-adik
ini ndak boleh naik ke atas.”
“Lah emangnya kenapa pak?” Tanya Ino lagi.
“Saya yang jaga Bungalow itu. Itu punyanya orang bule. Semalam harganya sejuta kalau mau
nginep. Di dalam ada air bersih, kamar pribadi, kamar dan ruang tamu, makan
pagi, lengkap.” Kata bapak itu panjang lebar.
Ino dan Mira saling melempar pandang, alisnya
terangkat, dan Mira menggerakkan mulutnya seolah berbicara, namun tak terucap.
Semua tahu, kata apa yang tertahan. Sejuta?
“Baik, pak. Terima kasih informasinya. Kayaknya kita nggak
nginep deh di sana. Permisi pak, kami ke atas dulu pak. Mau ke tanjung ringgit.
Mau lihat-lihat. Mari?” kata Ino.
“Mari. Kalau mau nginep nanti malam. Tidur saja di berugak (bale-bale). Aman kok.”
“Iya pak nanti kita ke sini lagi. Terima kasih”
Sesudah jauh dari bapak-bapak itu. Barulah tawa
menggelegak membuncah di antara kami bertiga. “Ha, , , ha, , , ha , , , Gila.
Sejuta men! Cuma ada kamar, air bersih, sama sarapan doang? Mending gue habisin
sejuta entar di Bali. Udah dapet macem-macem tuh.” Sahut Mira.
“Ya tapi wajarlah, tempatnya seterpencil ini. Tapi
nggak kebayang juga bisa sampai harga segitu.” sahutku.
“Dani seharusnya elu tuh buka homestay di sini.
Saingannya cuma satu. Banting harganya, udah beres. Pasti rame Dan he, , , he,
, , he, , ,” goda Mira kepadaku.
Ah entahlah, sinisme ini berlanjut terus sepanjang
jalan menuju tanjung Ringgit. Apa mungkin karena keki dengan property
kepunyaan si bule-kah? Aku tidak tahu
dengan Ino dan Mira. Tapi aku sendiri ingin jujur. Miris mengetahui, bahwa
tanah-tanah di atas pantai terindah kita dimiliki oleh orang asing. Kapan Lombok
akan persis sama seperti Bali? Ketika semua jengkal pulau cantik ini.
Dikangkangi oleh mereka. Gurita berhidung panjang dengan sejuta tentakelnya.
Mungkin sebentar lagi. Buktinya, kawasan Senggigi sudah tergenggam. Tinggal menunggu
tempat cantik lainnya yang akan tergenggam. Tunggu saja.
Berbicara tentang gurita yang lain. Sore itu tuhan menjadikan
gurita sebagai media untuk mempererat kami dengan teman sesama pejalan lain di tanjung
Ringgit. Setelah menduga, bahwa hampir pasti hanya ada kami bertiga dan alam
yang tinggal lebih lama lagi di tempat ini. Namun dugaan kami keliru. Kami
tidak sengaja bertemu dengan pejalan
lain, saat menyusuri tebing-tebing garis pantai di daerah sebelah timur laut
Lombok tersebut. Di tempat itu, mereka sedang asyik membuat api, dan tertawa-tawa
lepas oleh canda riang gembira.
“Sore bang, boleh nimbrung nih? Lagi mancing bang?”
kata saya yang senang sekali bertemu sesama pejalan di tengah kesunyian alam.
“Loh, ayo-ayo kemari-kemari. Sini-sini. Woy
temen-temen ada tamu nih!” kata pria berambut keriting ini. Ia memanggil
temannya yang sedang asyik mengarahkan joran ke laut lepas di bawah tebing. Dia
menyambut kami dengan –bukan lagi ramah, tapi- sangat gembira. “Ini dari mana
mas, mbak?” tanyanya lagi.
“Dari Bandung mas.” Sahut Ino
“Mbaknya juga dari Bandung?”
“Iya mas”
“Kalau mas yang satunya?” katanya beralih bertanya
kepadaku.
“Batur tengak (Teman
dari Lombok Tengah)” jawabku dengan bahasa sasak. Sengaja aku begitu, karena
tahu mereka juga ber-aksen sasak.
“Oh ha ha ha, , , saya pikir orang jawa juga tadi.”
“Ha ha ha ha” kami tertawa, entahlah walau tidak
terlalu lucu. Namun tawa keluar dengan ikhlas dari kami semua. Ino dan Mira pun
senyum-senyum mendapati keramahan heboh yang
mereka peroleh dari penduduk pulau Lombok yang satu ini.
“Cuma bertiga saja ini? Ndak ada yang lain?”
“Kebetulan personilnya cuma kami bertiga ini mas.”
Kata Ino.
“Pakai apa ke sini? Kok nggak kelihatan ada kendaraan
dari tadi?”
Kami bertiga pun saling berpandangan dengan senyum
terkulum penuh arti. “Kita ke sininya naik macem-macem mas.” Sahut mira
malu-malu mengingat perkara seru itu.
“Maksudnya?”
“Ya pertama pakai
angkot, terus nyambung pakai pick up tumpangan di tengah jalan, terus ketemu
angkot lagi, sampai akhirnya naik truk ke Pink (Pantai Tangsi).”
“Waahh nekat juga ya? Udah pada kehabisan uang apa? Ha
ha ha ha”
Entahlah, tapi tiap kali kelompok mereka tertawa. Kami
pun ikut tertawa. Tapi lagi-lagi tanpa ada keharusan dituntut ikut tertawa atas
nama sopan santun. Benar-benar ikhlas dari hati. “Ha ha ha ha ha” tawa kami
menggelegak kembali di udara terbuka.
Di sela-sela tawa itu. Terbawa oleh hembusan angin
laut bercampur garam. Aroma seafood terkuak
dari dalam api unggun yang mereka buat. “Karetnya udah mateng belum tuh?” kata
teman si keriting yang memakai buff.
“Nah coba kita lihat dulu. Karetnya udah mateng atau
belum? Ini tamu-tamu kita pasti belum pernah nyobain karet bakar nih. He he he”
“Karet?” pikirku penuh dengan tanda Tanya. Apa memang
mungkin karet bisa dimakan?
“Nah beneran karetnya udah mateng, agak gosong. Tapi
nggak apa-apa.” Si keriting mengangkat benda kecoklatan yang bernoda hitam di
beberapa bagian itu dari perapian. Lalu segera menawarkannya kepada kami.

“Ini kenaus (anak
gurita) namanya bang. Dicocol di
sambal terasi. Hemmm. . . Maknyus punya. Apalagi pakai nasi. Ha ha ha ha ha. .
.” si gemuk rambut keriting itu dengan semangat menerangkan, apa sebenarnya
yang dimaksud dengan karet itu.
Memang, jika tidak mahir memasaknya, daging gurita akan
sulit sekali untuk dikunyah. Persis seperti karet. Namun anak gurita bakar sore
itu yang lekas tandas oleh kami berenam. Sempurna, tidak terlalu kenyal, malah
empuk dan mudah tercabik oleh gigitan. Rasa khas daging seafood yang lebih gurih lagi karena mengeluarkan aroma lautan alami
di dalam mulut. Membuat kepala kami mengangguk-angguk
setuju dibuatnya. Satu kesepakatan
rasa di antara kami. Gurita sore ini, sedap dan nikmat bung.
Obrolan panjang pun semakin berlanjut, ditambah lagi
dengan menu disert special. “Ini mas,
mbak silahkan dicicipi juga. Buah nangka aseli dari kebun kami sendiri ha ha ha
ha.” lagi-lagi kami ikut tertawa-tawa disuguhi nangka ukuran Jumbo, Lengkap
dengan kulitnya.
Semula kami akan ikut mereka bertualang lagi ke timur.
Setidaknya menumpang pick up mereka sampai menemukan peradaban. Namun entah
mengapa seturunnya dari tanjung Ringgit ke pantai Tangsi. Kami yang berencana
hanya mau menikmati laut malam-malam jadi tertahan semalaman. Apalagi teman
pejalan bertambah banyak saja. Setelah teman-teman mereka yang memang saat awal
pertemuan tak terduga itu. Datang setelah puas melihat-lihat meriam dan goa-goa
tangsi peninggalan jepang era perang dunia ke II yang memang berserakan di
tanjung Ringgit dan sekitarnya.
Semakin banyak orang, semakin ramai saja tawa yang
terdengar. Semakin betah kami dibuai alam. Apalagi purnama muncul menerangi
langit. Membuat alunan gitar semakin nikmat dimainkan.
Beralaskan lembutnya
pasir pantai tangsi yang sedikit tercampur dengan sisa jasad karang merah itu.
Nomor-nomor Reage dan lagu Melayu Malaysia zaman baheulak pun mengalun menggoda sang purnama. Sekali-sekali tawa
meledak memecah malam. Malam tak berangin yang serasa ikut larut juga dalam
perbincangan jenaka para pejalan.
Ah! Malam yang indah, satu hari tak terlupa di pantai
Tangsi yang dikenal juga dengan nama pantai Pink-nya Lombok itu. Saat ini
tempat yang disebut-sebut sebagai surga tersembunyi bagi sebagian orang itu.
Memang masih seperti malam yang kuceritkan tadi. Entah esok atau lusa. Ketika
jalan aspal mulus dibangun menuju ke sana. Atau jika pantai teluk yang strategis
tersebut dibangun menjadi pelabuhan internasional, hingga mampu menyandarkan
kapal pesiar. Terpaksalah kami mencari tempat lain untuk tertawa lepas seperti
tadi. Tapi itu masih mending. Dari pada ternyata esok lusa tahu-tahu dijual ke
orang asing. Mau berwisata dimana lagi kita?
Meniti Ceruk-Ceruk Pulau Lombok : Dari Pantai tersembunyi Hingga Ke Desa Sade
Hal pertama yang mungikin terfikirkan oleh pelancong ketika
mengunjungi pulau Lombok. Adalah Pantai, pantai, dan pantai. Hal tersebut
membuat hampir seluruh bibir pantai terkenal di Lombok. Ramai dikunjungi
pengunjung. Sepertinya sudah tidak ada privasi, pantai sepi, dan alam yang
menggoda lagi di pantai-pantai Lombok. Manusia berjubelan dengan bikini dan swim suite. Gili trawangan sudah seperti negeri lain saja. Karena lebih banyak orang asing daripada domestik. Lari ke gunung Rinjanipun demikian.
Apakah memang pulau seluas 5.435 m2 ini. Sudah tak lagi menyisakan
ceruk-ceruk keindahan alam yang belum terjamah dan masih perawan? Apakah sudah
tak ada lagi denyut petualangan yang bisa kita rasakan? Mencari surga tersembunyi
yang jarang orang tahu?
Saya dan gerombolan saya. Suatu kali mencoba menyusuri
panjangnya jalanan mulus bak jalan tol sepi di daerah selatan Lombok. Karena
mendengar, bahwa ada sebuah pantai tersembunyi yang eksotis di sana.
Semeti nama pantai di sebelah tenggara pulau
Lombok ini. Memang cukup sulit untuk ditemukan. Tersembunyi di balik jejeran
perbukitan menghijau daerah Selong Belanak yang eksotis. Membutuhkan waktu
tempuh 2 jam perjalanan dari Senggigi untuk membuktikan keindahannya yang elok
tersebut.
Berangkat dari Senggigi, rombongan tim campuran ini
pun mengunjungi Praya. Sebelum akhirnya berbelok ke selatan ke desa Penujak.
Kami mengambil jalur lama, jalur jalan raya Praya-Sengkol sebelum by pas BIL dibangun. Jalur tersebut sudah jarang dilewati oleh wisatawan atau
kendaraan umum dengan sepeda motor kami. Padahal ini adalah jalur utama menuju Kuta, di era kolonial sampai berakhir masa jayanya di tahun 2012.
Tepat di pertigaan jembatan penujak. Kami pun
mengambil arah ke kiri menuju kawasan Selong Belanak. Menyusuri jalan-jalan
berbukit kars yang panas namun menghijau luas kala musim hujan, dan kuning
kecoklatan bagai savanna afrika di saat kemarau.
Perjalanan paling atraktif adalah, ketika pelancong
memuncaki sebuah jalan tanjakan sebelum Selong Belanak di sisi Bukit. Dari
sinilah terlihat garis pantai dan pantai-pantai tersembunyi yang menyebar di
daerah tenggara pulau Lombok. Sepi, ekslusif, menantang, dan selalu memanggil
hati para pengelana untuk menjamahnya. Seperti masih malu-malu untuk ditemukan
pengunjung.
![]() |
| view dari puncak bukit. Pemandangan aslinya, jauh lebih indah dari foto |
Rombongan Wisman pun banyak yang menjelajah jalanan,
dengan menggunakan sepeda motor sewaan. Mereka khusus datang untuk menemukan spot-spot
surfing terbaik di daerah ini. Papan surfing besar, bertengger di samping
sepeda motor, ditahan bei penyangga khusus yang ditempel di bodi motor.
Hawa panas siang itu kami terjang. Bahkan penduduk
metropolitan yang jarang melihat pemandangan seperti itu pun berseru kegirangan
menemukan pemandangan indah di kelokan-kelokan jalanan sepanjang perburuan
pantai eksotis.
Walau sempat beberapa kali tersesat dan bertanya
arah pada penduduk asli. Kami akhirnya menemukannya. Pantai Semeti yang sepi. Tepat
berada pada ceruk himpitan dua perbukitan karang. Indah menawan dengan
batu-batuan eksotis berwarna hitam. Mungkin Granit.
Selain menikmati debur ombak yang cukup menggoda.
Serta lembutnya pasir putih yang bersih. Kami pun melakukan Light Tracking di
perbukitan sekitar yang menghijau. Meresapi angin laut yang sepoi-sepoi.
Panjangnya garis pantai yang diberi jeda oleh perbukitan rendah sungguh menawan.
Inilah harta karun tersembunyi di pulau Lombok yang selama ini kami cari-cari.
![]() |
| Foto Source : http://caderabdul.wordpress.com/ |
Tak puas dengan pantai. Teman-teman pun mengajak
berkunjung ke desa Sade, Kecamatan Pujut Lombok Tengah. Satu Jam perjalanan
dari Selong Belanak. Menyusuri jalan menuju arah ke selatan lalu berputar ke
utara setelah menemukan Pantai Kuta Lombok.
Desa Sade, memang sudah kondang sebagai warisan
budaya asli etnis Lombok di daerah Selatan Lombok Tengah. Berkat rumah-rumah
tradisional suku sasak beratapkan jerami dan beralaskan tanah. Sade adalah
keeksotisan lain yang ditawarkan Lombok kepada para pemburu keindahan.
Tidak sulit untuk menemukan desa ini. Tidak butuh
tracking yang lama, karena ia tidak tersembuyi di balik pegunungan yang tinggi.
Letaknya persis di pinggir jalan raya menuju Kuta. Oleh sebab itu, banyak
pengunjung yang singgah sebelum bertualang ke Kuta, atau sepulang mereka dari Kuta.
Ada banyak guide
lokal yang nongkrong di tempat parkir. Menunggu pengunjung yang ingin diantarkan
berkeliling sembari mendengarkan kisah eksotis. Pria-pria bersarung khas pulau
Lombok ini tersenyum menawarkan keramahan kepada calon pengguna jasa-jasa
mereka.
Mengelilingi desa sade tidak perlu menghabiskan
waktu yang lama. Cukup setengah jam saja. maka habislah sudah perjalanan
menelusuri desa budaya tersebut. Ada banyak cerita yang bisa dibawa pulang di
tempat ini. Tentu saja yang paling menarik adalah cerita tentang kebiasaan
mereka yang membersihkan lantai dengan (maaf) tahi kerbau. Di sini Saya juga masih bisa menemukan benda dan alat tradisional
mereka yang hingga saat ini, masih mereka simpan dan gunakan untuk melaut dan
menggarap sawah.
Teman saya pun tak lupa membawa pulang kain tenun
songket dengan harga yang cukup murah. Berkat kegigihannya dalam melakukan
penawaran yang sangat keras, untuk dua buah songket. Total harga yang
dikeluarkan untuk mendapatkan kedua kain eksotis tersebut. hanya Rp. 135.000.
Menemukan Keindahan Senggigi Di Malang
Sebuah jalan berbelok ke kiri sekitar 5km sebelum Sendang Biru, jalan
beraspal yang sudah lama membuat saya tertarik untuk menulusurinya
hingga menemukan ujungnya. bagaimana jiwa petualanganku tidak tertarik, jika tepat di persimpangan tersebut. Berdiri tegak plang besi
berwarna hijau bertuliskan "Pantai Tamban" yang terlihat masih baru. Pantai yang belum pernah kudengar namanya sebelumnya.
Musim hujan masih mendera, di tengah perjalanan pun hujan tiba-tiba mengguyur kami dengan derasnya. Kami sempat berhenti sejenak untuk berteduh di sebuah emperan toko yang sudah tutup menanti hujan reda. Hari yang semakin beranjak sore memaksa kami membuat keputusan cepat, karena kami tidak mau sampai lokasi terlalu malam. Hujan deras yang akhirnya berubah menjadi gerimis pun kami terjang. Perjalanan mencari pantai Tamban pun dimulai kembali.
Kami tiba saat lokasi Pantai Tamban telah berubah gelap total di malam hari. Pantai sepi itu hanya riuh oleh debur ombak samudra Hindia. Tepat di bibir pantai di bawah rimbunnya pepohonan kami mendirikan tenda dan memasak makan malam sambil menyaksikan keindahan malam di pinggir pantai. Bulan belum genap menjadi purnama, tapi cerahnya malam itu membuat kami betah menikmati keindahan alam menyaksikan taburan bintang ditemani api unggun.
Pulau-pulau dan tebing yang menghiasi lautan di seberang pantai Tamban semakin melengkapi pemandangan keindahan alam pantai ini. Karena memiliki waktu yang lumayan lama, kami menyempatkan diri untuk mengeksplorasi lebih jauh kawasan tersebut.
Menurut informasi dari nelayan setempat, ada pantai perawann lagi di tempat ini yang tidak banyak diketahui oleh orang. Petualangan menyusuri pantai pun kami lakukan. Perjalanan selama 1 jam menyusuri pinggir pantai dan tebingkarang berbuah penemuan sebuah pantai indah yang diberi nama Senggigi oleh nelayan setempat.
Pantai ini langsung berbatasan dengan pinggiran hutan, dan jarang ada orang yang mengunjunginya. ombak di pantai Senggigi pun jauh lebih besar daripada di pantai tamban. Setelah menghabiskan bekal makan siang kami. Kami pun kembali pulang menyusuri tebing karang. Seperti kata pepatah lama. Tak Ada Rotan, Akarpun Jadi. Tak Ada Gunung, Pantaipun Disambangi.















