Tampilkan postingan dengan label pantai&pulau. Tampilkan semua postingan

Kita Berpisah Di Gili Kondo


Teks : Lalu Ahmad Hamdani
Foto : Mira Zulia

Perahu kayu bermesin diesel itu seharusnya muat 20 orang. Namun kini hanya Ino, Mira, dan saya yang menjadi penumpangnya. Membuat laju perahu menjadi ringan, berayun-ayun dibuai gelombang lautan sore yang kuat. Sendiri mengarungi perairan menuju gili (pulau) Kondo, Lombok Timur.

Nahkoda perahu melempar jangkar, segera setelah moncong perahu menyentuh bibir pantai berpasir putih lembut. Pantai sepi gili Kondo yang dikelola secara bersama oleh pemda Lombok Timur dan salah satu perusahan swasta.



“Jam 9 besok pagi ya pak?” sahut Ino mengingatkan nahkoda kapal untuk menjemput kami.

Kata-kata itu terlalu cepat diucapkan Ino. Mengingat petualangan kami yang sudah berlangsung hampir seminggu di Lombok. Dan hampir berakhir di tempat ini. Kata-kata Ino tadi, serasa semakin memperpendek waktu saja. Seakan hari esok akan datang lebih cepat daripada 17 jam lagi.

Kami langsung menuju café satu-satunya di pulau itu. Mengambil tempat di sudut, untuk kemudian meletakkan tas dan ransel. Memesan apapun yang bisa dipesan di tempat itu.

Entah mereka menikmati atau tidak, iringan musik reage yang mengusik keheningan, dengan volume yang cukup bising. Kami hanya diam, terduduk. Dibuai lamunan masing-masing.

Mungkin ino berfikir, tentang di mana ia akan mendapatkan pekerjaan lagi, selepas petualangan ini nanti berakhir. Dia resign dari sebuah perusahan konsultasi design interior di Bandung. Sedangkan Mira, walau terlihat sibuk dengan iPhone-nya. Mungkin saja ia telah dibekap oleh bayang-bayang Thesis, serta rangkaian ujian yang akan dihadapi. Selepas petualangan ini nanti berakhir.

Aku? Aku Cuma memikirkan hari ini dan kemarin. Mengingat kembali awal perjumpaan kami di bandara. Mengingat SMS pertama yang aku kirim kepada mereka, “Halo Mbak/Mas ditunggu di pintu keluar bandara yah? Dari Dani cakep pakai kupluk warna ungu.” ketikku di handphone, hampir seminggu yang lalu.

Selalu saja semua terasa manis di awal perjalanan. Selalu ramai dan riuh oleh tawa canda. Tapi entah mengapa, tiap kali di ambang perpisahan. Semua berubah sendu.


Walau reage “Lombok I Love You” masih bertalu, walau sekelompok pejalan lain menawarkan untuk ikut bermain voly di pantai, walau seluruh karyawan homestay, dan café di pulau itu tersenyum ramah, walau gili Kondo bersolek pasir putih berhias laut biru. Semua tak mampu menyembunyikan nuansa perpisahan di antara kami.

Sialnya, ketika malam mulai menjelang. Bulan purnama kemerahan kala senja itu. Semakin menambahi kegalauan yang tercipta. Cahaya pucatnya terpantulkan oleh laut gelap yang tenang.

Malam-malam, kami bertiga berjalan menyusuri pantai sendiri-sendiri. Saling memberikan ruang privasi masing-masing. Aku meresapi keheningan alam. Menatap ke arah barat. Ada rinjani kokoh menjulang tinggi. Kaku dalam malam bisu. Beberapa waktu yang lalu, kami bertiga berada di sana. Di puncaknya yang terlihat kecil dari kejauhan. Jauh sekali kelihatannya dari pulau ini. Dan semakin membuatku tak menyangka, bahwa sempat menginjakkan kaki di tempat sejauh itu bersama mereka, beberapa hari yang lalu.

Ketika aku menghadap ke timur, Poto Tano terpampang. Berhiaskan suar-suar dan lampu neon benderang. Masih sibuk dengan segala aktifitas bongkar muat kapal. Melihat Sumbawa dari titik ini, seakan menarikku untuk terus bertualang ke timur. Ke Sumbawa, ke Tambora yang gagal kami kunjungi.

Mira asyik di bibir pantai. Sesekali ia tersenyum melihat hasil jepretannya sendiri. Sedangkan Ino di sisi yang agak jauh. Bersedekap berselimutkan kain songket keabu-abuan bermotif indah, baru dua hari yang lalu ia dapatkan di desa Sade. Dari mulutnya, perlahan ia hembuskan asap nikotin menantang angin laut dingin. Matanya lurus menatap gili Sulat dan gili Lampu di hadapannya.

Malam semakin sepi. Suara tawa sekelompok pejalan yang mendirikan tenda di pantai itu. Kini hanya terdengar bisik-bisik lirih, dan cekikikan kecil mereka. Membuat suasana malam makin intim, semakin menjadi milik pribadi sendiri.

Lalu tibalah hari itu. Hari yang paling aku benci dari sebuah perjalanan. Hari ini walau surya terbit dengan perlahan di sebelah timur, didukung cuaca cerah musim kemarau. Tetap saja waktu bergulir kembali. Tak perduli dengan keindahan yang terpampang di atas bentangan alam.



Kami bertiga pagi itu berdiri sejajar. Menyaksikan surya terbit untuk ketujuh kalinya di tempat berbeda-beda seminggu terakhir ini. Kini kami menyaksikannya di celah antara dua pulau utama provinsi NTB. Menyaksikan laut bergelimang cahaya keemasan. Sambil menanti udara hangat menghangatkan badan kami.

Lama sekali kami menunggu surya sempurna bercokol di cakrawala. Sembari mengobrol, dan berkelakar lagi seperti hari-hari sebelumnya.

“Jadi snorkeling nggak Dan?” kata Ino.

“Jadi dong. Mbak Mira ?” tanyaku

“Kalian aja deh. Kalau udah nyebur. Entar aku lihat hasil jepretannya yah? Kalau bagus. Nanti aku ikut.” sahut Mira

Dalam hati aku cuma bisa iri kepada Mira. Karena punya kesempatan dan pengalaman diving di beberapa perairan cantik di Indonesia. Membuatnya menjadi sedikit lebih selektif, dalam memilih spot snorkeling, atau diving. Ah, kapan aku bisa diving? Mendapatkan license pertamaku. Di mana?

Mengenyampingkan semua itu. Aku sudah siap melompat ke air. Walau laut masih terlihat lumayan dingin. Ino pun sudah siap dengan Snorkel dan live jacket sewaannya. Lagi-lagi aku hanya pakai jeans hitam. Dengan bertelanjang dada, kini Aku siap dengan snorkel sewaan dari homestay.

“Gitu doang Dan?” tanya ino melihat kostumku.

“Ya gini aja, he, , ,he, , ,”

“Nggak pakai live jacket?”

“Nggak ah, gini aja.”

“Dasar Akamsi (Anak kampung sini) lo. ha ha ha.” kata Ino berkelakar.

Tak perlu menyewa perahu lagi menuju spot snorkeling di Gili Kondo. Lautan di hadapan kami adalah lahan konservasi bawah laut yang terlindungi. “Byur!” aku terlebih dahulu menyentuh air. Dingin air laut di pagi hari segera merayap di permukaan kulit.

Setelah gunung, satu lagi surga dunia kusambangi. Kini aku menyaksikan alam bawah laut yang eksotis. Terumbu karang menyembul dari dasar laut berpasir.  Pemandangan biru samar-samar kulihat mengitari sekelilingku. Jernih, jernih sekali dunia lain ini. Dunia laut lepas, tempat bersemayamnya ikan-ikan karang berbagai macam bentuk, rupa, dan warna.

Aku terbawa sensasi keindahan yang mengawang-awang. Sebelum akhirnya Ino yang kini mendekat, mengabadikan keceriaan terakhir di Lombok bersamaku. Merekam pesona panorama kedalaman selat alas ini. Bercengkrama dengan ikan-ikan yang lewat acuh-tak acuh di dekat kami.

Setelah sesi foto. Aku kembali menghanyutkan diriku sendiri. Terbawa arus lemah di pinggiran gili Kondo. Sambil memejamkan mata sesaat, berhayal layaknya sedang terbang di udara. Kedua tangan kurentangkan lebar-lebar.

Satu dua jam kemudian, kami berdua naik lagi ke pantai. Mira yang melihat foto-foto bawah laut hasil jepretan Ino. Urung untuk mencoba snorkeling di pulau ini. Ya sudahlah, kalau begitu. Saya dan Ino segera membersihkan diri. Di toilet umum yang disediakan oleh pihak pengelola. Kemudian sekitar jam 8 pagi kami menelpon perahu sewaan kami.

Akhirnya, peristiwa ini datang juga.  Sebuah perpisahan yang manis dari kisah perjalanan seminggu di Lombok. Dan tepat di pulau cantik ini. Di pulau tempat artis ibukota sekelas Duta (shiela on 7) membuang status selebritisnya. Kami menutup sebuah episode perjalanan.

Sampai jumpa kawan pejalan. Episode berikutnya. Boleh jadi kita berjumpa lagi. Di Tambora, Krinci, atau mungkin di Lombok lagi.

 




Sabtu, 14 Desember 2013
Posted by Unknown

Tertawa Sampai Malam Di Tangsi


teks : Lalu Ahmad Hamdani
Foto/Dokumentasi : Zicco/Ino & Mira

Ino, Mira, dan aku hendak mencari jalan setapak di sekeliling bukit kecil, yang menuju ke satu-satunya penginapan di pantai Tangsi, Lombok Timur. Sebelum akhirnya seseorang meneriaki kami.

“Hei, ,  , kalian! Mau ke mana?”

Kami segera menoleh ke belakang. Mencari sumber suara, yang ternyata datang dari seorang bapak-bapak. Berjalan tergopoh-gopoh ke arah kami. Sesudah dekat kami pun menjelaskan niat kami.

“Ini pak kita mau nyari jalan ke atas sana.” kata saya.

“Nggak boleh! Selain tamu dilarang masuk” kata bapak itu dengan bersungut- sungut. Dahinya mengkerut.

“Iya, pak. Kami rencananya mau nginep, tapi mau nanya-nanya dulu harga kamar semalam.” Sahut Ino.

“Ya sudah sama saya saja (tanyanya). Tapi adik-adik ini ndak boleh naik ke atas.”

“Lah emangnya kenapa pak?” Tanya Ino lagi.

“Saya yang jaga Bungalow itu. Itu punyanya orang bule. Semalam harganya sejuta kalau mau nginep. Di dalam ada air bersih, kamar pribadi, kamar dan ruang tamu, makan pagi, lengkap.” Kata bapak itu panjang lebar.

Ino dan Mira saling melempar pandang, alisnya terangkat, dan Mira menggerakkan mulutnya seolah berbicara, namun tak terucap. Semua tahu, kata apa yang tertahan. Sejuta?

“Baik, pak. Terima kasih informasinya. Kayaknya kita nggak nginep deh di sana. Permisi pak, kami ke atas dulu pak. Mau ke tanjung ringgit. Mau lihat-lihat. Mari?”  kata Ino.

“Mari. Kalau mau nginep nanti malam. Tidur saja di berugak (bale-bale). Aman kok.”

“Iya pak nanti kita ke sini lagi. Terima kasih”

Sesudah jauh dari bapak-bapak itu. Barulah tawa menggelegak membuncah di antara kami bertiga. “Ha, , , ha, , , ha , , , Gila. Sejuta men! Cuma ada kamar, air bersih, sama sarapan doang? Mending gue habisin sejuta entar di Bali. Udah dapet macem-macem tuh.” Sahut Mira.

“Ya tapi wajarlah, tempatnya seterpencil ini. Tapi nggak kebayang juga bisa sampai harga segitu.” sahutku.

“Dani seharusnya elu tuh buka homestay di sini. Saingannya cuma satu. Banting harganya, udah beres. Pasti rame Dan he, , , he, , , he, , ,” goda Mira kepadaku.

Ah entahlah, sinisme ini berlanjut terus sepanjang jalan menuju tanjung Ringgit. Apa mungkin karena keki dengan property kepunyaan si bule-kah? Aku tidak tahu dengan Ino dan Mira. Tapi aku sendiri ingin jujur. Miris mengetahui, bahwa tanah-tanah di atas pantai terindah kita dimiliki oleh orang asing. Kapan Lombok akan persis sama seperti Bali? Ketika semua jengkal pulau cantik ini. Dikangkangi oleh mereka. Gurita berhidung panjang dengan sejuta tentakelnya. Mungkin sebentar lagi. Buktinya, kawasan Senggigi sudah tergenggam. Tinggal menunggu tempat cantik lainnya yang akan tergenggam. Tunggu saja.

Berbicara tentang gurita yang lain. Sore itu tuhan menjadikan gurita sebagai media untuk mempererat kami dengan teman sesama pejalan lain di tanjung Ringgit. Setelah menduga, bahwa hampir pasti hanya ada kami bertiga dan alam yang tinggal lebih lama lagi di tempat ini. Namun dugaan kami keliru. Kami tidak sengaja  bertemu dengan pejalan lain, saat menyusuri tebing-tebing garis pantai di daerah sebelah timur laut Lombok tersebut. Di tempat itu, mereka sedang asyik membuat api, dan tertawa-tawa lepas oleh canda riang gembira.

“Sore bang, boleh nimbrung nih? Lagi mancing bang?” kata saya yang senang sekali bertemu sesama pejalan di tengah kesunyian alam.

“Loh, ayo-ayo kemari-kemari. Sini-sini. Woy temen-temen ada tamu nih!” kata pria berambut keriting ini. Ia memanggil temannya yang sedang asyik mengarahkan joran ke laut lepas di bawah tebing. Dia menyambut kami dengan –bukan lagi ramah, tapi- sangat gembira. “Ini dari mana mas, mbak?” tanyanya lagi.

“Dari Bandung mas.” Sahut Ino

“Mbaknya juga dari Bandung?”

“Iya mas”

“Kalau mas yang satunya?” katanya beralih bertanya kepadaku.

Batur tengak (Teman dari Lombok Tengah)” jawabku dengan bahasa sasak. Sengaja aku begitu, karena tahu mereka juga ber-aksen sasak.

“Oh ha ha ha, , , saya pikir orang jawa juga tadi.”

“Ha ha ha ha” kami tertawa, entahlah walau tidak terlalu lucu. Namun tawa keluar dengan ikhlas dari kami semua. Ino dan Mira pun senyum-senyum mendapati keramahan heboh yang mereka peroleh dari penduduk pulau Lombok yang satu ini.

“Cuma bertiga saja ini? Ndak ada yang lain?”

“Kebetulan personilnya cuma kami bertiga ini mas.” Kata Ino.

“Pakai apa ke sini? Kok nggak kelihatan ada kendaraan dari tadi?”

Kami bertiga pun saling berpandangan dengan senyum terkulum penuh arti. “Kita ke sininya naik macem-macem mas.” Sahut mira malu-malu mengingat perkara seru itu.

“Maksudnya?”

 “Ya pertama pakai angkot, terus nyambung pakai pick up tumpangan di tengah jalan, terus ketemu angkot lagi, sampai akhirnya naik truk ke Pink (Pantai Tangsi).”

“Waahh nekat juga ya? Udah pada kehabisan uang apa? Ha ha ha ha”

Entahlah, tapi tiap kali kelompok mereka tertawa. Kami pun ikut tertawa. Tapi lagi-lagi tanpa ada keharusan dituntut ikut tertawa atas nama sopan santun. Benar-benar ikhlas dari hati. “Ha ha ha ha ha” tawa kami menggelegak kembali di udara terbuka.

Di sela-sela tawa itu. Terbawa oleh hembusan angin laut bercampur garam. Aroma seafood terkuak dari dalam api unggun yang mereka buat. “Karetnya udah mateng belum tuh?” kata teman si keriting yang memakai buff.

“Nah coba kita lihat dulu. Karetnya udah mateng atau belum? Ini tamu-tamu kita pasti belum pernah nyobain karet bakar nih. He he he”

“Karet?” pikirku penuh dengan tanda Tanya. Apa memang mungkin karet bisa dimakan?

“Nah beneran karetnya udah mateng, agak gosong. Tapi nggak apa-apa.” Si keriting mengangkat benda kecoklatan yang bernoda hitam di beberapa bagian itu dari perapian. Lalu segera menawarkannya kepada kami.


“Ini kenaus (anak gurita) namanya bang. Dicocol di sambal terasi. Hemmm. . . Maknyus punya. Apalagi pakai nasi. Ha ha ha ha ha. . .” si gemuk rambut keriting itu dengan semangat menerangkan, apa sebenarnya yang dimaksud dengan karet itu.

Memang, jika tidak mahir memasaknya, daging gurita akan sulit sekali untuk dikunyah. Persis seperti karet. Namun anak gurita bakar sore itu yang lekas tandas oleh kami berenam. Sempurna, tidak terlalu kenyal, malah empuk dan mudah tercabik oleh gigitan. Rasa khas daging seafood yang lebih gurih lagi karena mengeluarkan aroma lautan alami di dalam mulut. Membuat kepala kami mengangguk-angguk setuju dibuatnya. Satu kesepakatan rasa di antara kami. Gurita sore ini, sedap dan nikmat bung.

Obrolan panjang pun semakin berlanjut, ditambah lagi dengan menu disert special. “Ini mas, mbak silahkan dicicipi juga. Buah nangka aseli dari kebun kami sendiri ha ha ha ha.” lagi-lagi kami ikut tertawa-tawa disuguhi nangka ukuran Jumbo, Lengkap dengan kulitnya.

Semula kami akan ikut mereka bertualang lagi ke timur. Setidaknya menumpang pick up mereka sampai menemukan peradaban. Namun entah mengapa seturunnya dari tanjung Ringgit ke pantai Tangsi. Kami yang berencana hanya mau menikmati laut malam-malam jadi tertahan semalaman. Apalagi teman pejalan bertambah banyak saja. Setelah teman-teman mereka yang memang saat awal pertemuan tak terduga itu. Datang setelah puas melihat-lihat meriam dan goa-goa tangsi peninggalan jepang era perang dunia ke II yang memang berserakan di tanjung Ringgit dan sekitarnya.

Semakin banyak orang, semakin ramai saja tawa yang terdengar. Semakin betah kami dibuai alam. Apalagi purnama muncul menerangi langit. Membuat alunan gitar semakin nikmat dimainkan.

Beralaskan lembutnya pasir pantai tangsi yang sedikit tercampur dengan sisa jasad karang merah itu. Nomor-nomor Reage dan lagu Melayu Malaysia zaman baheulak pun mengalun menggoda sang purnama. Sekali-sekali tawa meledak memecah malam. Malam tak berangin yang serasa ikut larut juga dalam perbincangan jenaka para pejalan.


Ah! Malam yang indah, satu hari tak terlupa di pantai Tangsi yang dikenal juga dengan nama pantai Pink-nya Lombok itu. Saat ini tempat yang disebut-sebut sebagai surga tersembunyi bagi sebagian orang itu. Memang masih seperti malam yang kuceritkan tadi. Entah esok atau lusa. Ketika jalan aspal mulus dibangun menuju ke sana. Atau jika pantai teluk yang strategis tersebut dibangun menjadi pelabuhan internasional, hingga mampu menyandarkan kapal pesiar. Terpaksalah kami mencari tempat lain untuk tertawa lepas seperti tadi. Tapi itu masih mending. Dari pada ternyata esok lusa tahu-tahu dijual ke orang asing. Mau berwisata dimana lagi kita?


Jumat, 13 Desember 2013
Posted by Unknown

Meniti Ceruk-Ceruk Pulau Lombok : Dari Pantai tersembunyi Hingga Ke Desa Sade



Hal pertama yang mungikin terfikirkan oleh pelancong ketika mengunjungi pulau Lombok. Adalah Pantai, pantai, dan pantai. Hal tersebut membuat hampir seluruh bibir pantai terkenal di Lombok. Ramai dikunjungi pengunjung. Sepertinya sudah tidak ada privasi, pantai sepi, dan alam yang menggoda lagi di pantai-pantai Lombok. Manusia berjubelan dengan bikini dan swim suite. Gili trawangan sudah seperti negeri lain saja. Karena lebih banyak orang asing daripada domestik. Lari ke gunung Rinjanipun demikian.

Apakah memang pulau seluas 5.435 m2 ini. Sudah tak lagi menyisakan ceruk-ceruk keindahan alam yang belum terjamah dan masih perawan? Apakah sudah tak ada lagi denyut petualangan yang bisa kita rasakan? Mencari surga tersembunyi yang jarang orang tahu?

Saya dan gerombolan saya. Suatu kali mencoba menyusuri panjangnya jalanan mulus bak jalan tol sepi di daerah selatan Lombok. Karena mendengar, bahwa ada sebuah pantai tersembunyi yang eksotis di sana.

Semeti nama pantai di sebelah tenggara pulau Lombok ini. Memang cukup sulit untuk ditemukan. Tersembunyi di balik jejeran perbukitan menghijau daerah Selong Belanak yang eksotis. Membutuhkan waktu tempuh 2 jam perjalanan dari Senggigi untuk membuktikan keindahannya yang elok tersebut.
Berangkat dari Senggigi, rombongan tim campuran ini pun mengunjungi Praya. Sebelum akhirnya berbelok ke selatan ke desa Penujak.

Kami mengambil jalur lama, jalur jalan raya Praya-Sengkol sebelum by pas BIL dibangun. Jalur tersebut sudah jarang dilewati  oleh wisatawan atau kendaraan umum dengan sepeda motor kami. Padahal ini adalah jalur utama menuju Kuta, di era kolonial sampai berakhir masa jayanya di tahun 2012.

Tepat di pertigaan jembatan penujak. Kami pun mengambil arah ke kiri menuju kawasan Selong Belanak. Menyusuri jalan-jalan berbukit kars yang panas namun menghijau luas kala musim hujan, dan kuning kecoklatan bagai savanna afrika di saat kemarau.

Perjalanan paling atraktif adalah, ketika pelancong memuncaki sebuah jalan tanjakan sebelum Selong Belanak di sisi Bukit. Dari sinilah terlihat garis pantai dan pantai-pantai tersembunyi yang menyebar di daerah tenggara pulau Lombok. Sepi, ekslusif, menantang, dan selalu memanggil hati para pengelana untuk menjamahnya. Seperti masih malu-malu untuk ditemukan pengunjung.
view dari puncak bukit. Pemandangan aslinya, jauh lebih indah dari foto

Rombongan Wisman pun banyak yang menjelajah jalanan, dengan menggunakan sepeda motor sewaan. Mereka khusus datang untuk menemukan spot-spot surfing terbaik di daerah ini. Papan surfing besar, bertengger di samping sepeda motor, ditahan bei penyangga khusus yang ditempel di bodi motor.
Hawa panas siang itu kami terjang. Bahkan penduduk metropolitan yang jarang melihat pemandangan seperti itu pun berseru kegirangan menemukan pemandangan indah di kelokan-kelokan jalanan sepanjang perburuan pantai eksotis.

Walau sempat beberapa kali tersesat dan bertanya arah pada penduduk asli. Kami akhirnya menemukannya. Pantai Semeti yang sepi. Tepat berada pada ceruk himpitan dua perbukitan karang. Indah menawan dengan batu-batuan eksotis berwarna hitam. Mungkin Granit.

Selain menikmati debur ombak yang cukup menggoda. Serta lembutnya pasir putih yang bersih. Kami pun melakukan Light Tracking di perbukitan sekitar yang menghijau. Meresapi angin laut yang sepoi-sepoi. Panjangnya garis pantai yang diberi jeda oleh perbukitan rendah sungguh menawan. Inilah harta karun tersembunyi di pulau Lombok yang selama ini kami cari-cari.



http://caderabdul.wordpress.com/
Foto Source : http://caderabdul.wordpress.com/ 
Tak puas dengan pantai. Teman-teman pun mengajak berkunjung ke desa Sade, Kecamatan Pujut Lombok Tengah. Satu Jam perjalanan dari Selong Belanak. Menyusuri jalan menuju arah ke selatan lalu berputar ke utara setelah menemukan Pantai Kuta Lombok.

Desa Sade, memang sudah kondang sebagai warisan budaya asli etnis Lombok di daerah Selatan Lombok Tengah. Berkat rumah-rumah tradisional suku sasak beratapkan jerami dan beralaskan tanah. Sade adalah keeksotisan lain yang ditawarkan Lombok kepada para pemburu keindahan.

Tidak sulit untuk menemukan desa ini. Tidak butuh tracking yang lama, karena ia tidak tersembuyi di balik pegunungan yang tinggi. Letaknya persis di pinggir jalan raya menuju Kuta. Oleh sebab itu, banyak pengunjung yang singgah sebelum bertualang ke Kuta, atau sepulang mereka dari Kuta.

Ada banyak guide lokal yang nongkrong di tempat parkir. Menunggu pengunjung yang ingin diantarkan berkeliling sembari mendengarkan kisah eksotis. Pria-pria bersarung khas pulau Lombok ini tersenyum menawarkan keramahan kepada calon pengguna jasa-jasa mereka.

Mengelilingi desa sade tidak perlu menghabiskan waktu yang lama. Cukup setengah jam saja. maka habislah sudah perjalanan menelusuri desa budaya tersebut. Ada banyak cerita yang bisa dibawa pulang di tempat ini. Tentu saja yang paling menarik adalah cerita tentang kebiasaan mereka yang membersihkan lantai dengan (maaf) tahi kerbau. Di sini Saya juga masih bisa menemukan benda dan alat tradisional mereka yang hingga saat ini, masih mereka simpan dan gunakan untuk melaut dan menggarap sawah.

Teman saya pun tak lupa membawa pulang kain tenun songket dengan harga yang cukup murah. Berkat kegigihannya dalam melakukan penawaran yang sangat keras, untuk dua buah songket. Total harga yang dikeluarkan untuk mendapatkan kedua kain eksotis tersebut. hanya Rp. 135.000.

Sabtu, 30 November 2013
Posted by Unknown

Menemukan Keindahan Senggigi Di Malang

Sebuah jalan berbelok ke kiri sekitar 5km sebelum Sendang Biru, jalan beraspal yang sudah lama membuat saya tertarik untuk menulusurinya hingga menemukan ujungnya. bagaimana jiwa petualanganku tidak tertarik, jika tepat di persimpangan tersebut. Berdiri tegak plang besi berwarna hijau bertuliskan "Pantai Tamban" yang terlihat masih baru. Pantai yang belum pernah kudengar namanya sebelumnya.

Saya dan seorang rekan yang tidak pernah merencanakan perjalanan ini sebelumnya, suatu kali berkesempatan mengunjungi pantai Tamban. Sebelumnya saya sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk mendaki gunung semeru di hari itu, tapi sayang, TNBTS memperpanjang masa penutupan sementara jalur pendakian gunung semeru hingga 25 april yang akan datang. Keinginan bertualang yang tak tersalurkan pun dilampiaskan untuk berkemah semalam ke pantai. Kamipun berangkat siang itu ke arah Sendang biru, Sumbermanjing, Kabupaten Malang menggunakan sepeda motor.

Musim hujan masih mendera, di tengah perjalanan pun hujan tiba-tiba mengguyur kami dengan derasnya. Kami sempat berhenti sejenak untuk berteduh di sebuah emperan toko yang sudah tutup menanti hujan reda. Hari yang semakin beranjak sore memaksa kami membuat keputusan cepat, karena kami tidak mau sampai lokasi terlalu malam. Hujan deras yang akhirnya berubah menjadi gerimis pun kami terjang. Perjalanan mencari pantai Tamban pun dimulai kembali.

Kami tiba saat lokasi Pantai Tamban telah berubah gelap total di malam hari. Pantai sepi itu hanya riuh oleh debur ombak samudra Hindia. Tepat di bibir pantai di bawah rimbunnya pepohonan kami mendirikan tenda dan memasak makan malam sambil menyaksikan keindahan malam di pinggir pantai. Bulan belum genap menjadi purnama, tapi cerahnya malam itu membuat kami betah menikmati keindahan alam menyaksikan taburan bintang ditemani api unggun.

Pagipun mulai menjelang, dari punggungan bukit di sebelah timur. Matahari mulai muncul sambil memantulkan cahaya keemasannya ke permukaan air laut yang berombak kecil.

Pulau-pulau dan tebing yang menghiasi lautan di seberang pantai Tamban semakin melengkapi pemandangan keindahan alam pantai ini. Karena memiliki waktu yang lumayan lama, kami menyempatkan diri untuk mengeksplorasi lebih jauh kawasan tersebut.

Menurut informasi dari nelayan setempat, ada pantai perawann lagi di tempat ini yang tidak banyak diketahui oleh orang. Petualangan menyusuri pantai pun kami lakukan. Perjalanan selama 1 jam menyusuri pinggir pantai dan tebingkarang berbuah penemuan sebuah pantai indah yang diberi nama Senggigi oleh nelayan setempat.

Pantai ini langsung berbatasan dengan pinggiran hutan, dan jarang ada orang yang mengunjunginya. ombak di pantai Senggigi pun jauh lebih besar daripada di pantai tamban. Setelah menghabiskan bekal makan siang kami. Kami pun kembali pulang menyusuri tebing karang. Seperti kata pepatah lama. Tak Ada Rotan, Akarpun Jadi. Tak Ada Gunung, Pantaipun Disambangi.








Senin, 15 April 2013
Posted by Unknown

berlangganan

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © ESCAPE - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -