Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Memahami Baduy Dalam
Pengalaman saya solo backpacking ke Baduy Dalam, seolah tak habis diuraikan dalam dua-tiga seri tulisan. Tak akan cukup mendeskripsikan kebaikan Sapri Armani, Bapak Ardi, Istri dan anak cucunya yang begitu banyak. Bahkan mungkin butuh satu seri ekstra untuk menceritakan beberapa jam perjalananku dengan Sanip muda yang pendiam.
sumber : wacan.co
sumber : wacan.co
Dengan Sanip, aku jadi paham sedikit aturan-aturan adat suku Baduy Dalam yang terkadang diluar nalar kosmopolis-ku. Di luar logika peradaban urban.
30 desa Baduy Luar plus 3 desa Baduy Dalam bukan sekedar kerumunan komunitas yang cuma mempertahankan kearifan arsitektur masa lalu. Tak pula sekedar kerumunan komunitas yang mengolah tanah ulayat untuk bertahan hidup dengan bercocok tanam semata.
Ada sesuatu yang membuatku berjanji untuk kembali lagi ke Cibeo, desa Baduy Dalam tempat aku menginap dan mengenal mereka semua, Armani, Bapak Ardi, Sanip, dan nama-nama lain yang terlupa.
Kupikir, kerinduan untuk kembali ke Cibeo, karena satu alasan. Kesederhanaan. Itu yang dibutuhkan olehku dan orang-orang yang memutuskan pergi mencari kehidupan baru. Kesederhanaan yang tidak lagi bisa aku rasakan di Jakarta.
Gaya hidup urban yang kompleks telah menjejaliku bertahun-tahun belakangan ini. Mungkin sampai-sampai telah mengikis rasa kemanusiaan dan mengelabui caraku memandang arti hidup. Aku memang merasa mulai materialistis akhir-akhir ini, dan konsumtif.
Di Baduy Dalam, semua hal kompleks sooal hidup bisa menjadi begitu sederhana. Bagi orang luar yang berpikiran sempit, mungkin fanatisme mereka terhadap adat, akan bergesekan dengan logika juga alam demokrasi yang selama ini orang kota agungkan. Namun sebenarnya, kekolotan mereka adalah sistem yang menjaga mereka untuk tetap menjadi Baduy Dalam. Murni!
Jadi saran saya, bila Anda berkunjung ke Baduy Dalam nanti, jadilah pengamat dan nikmati cara mereka memandang dunia. Mereka sudah cukup demokratis untuk membuka diri terhadap pengunjung luar. Padahal, sebagai suku yang cukup konservatif, frikisi ini berdampak bagi sosiologi dan kultur mereka.
Banyak anak muda Baduy Dalam yang akhirnya memilih keluar dari Cibeo, karena tergiur kapitalisme yang lebih mudah mereka dapatkan tanpa harus terjerat adat yang ketat. Ekonomi memang menjadi alsan, kenapa akhirnya lebih banyak kampung-kampung Baduy Luar dan makin sedikit penduduk Baduy Dalam. Tentu yang paling cepat terpengaruh oleh ekonomi ini adalah anak muda. Namun disadari atau tidak, anak muda Baduy Dalam adalah tulang punggung. Rantai generasi yang tidak boleh putus. Bayangkan bila smeua anak muda seperti Armani keluar dari Baduy Dalam. Lama-lama tidak ada Baduy Dalam murni dalam satu dekade ke depan. Karena akan putus di generasi tua.
Sistem politik dan sosial
Keluarga merupakan pondasi terkokoh yang menopang sistem pemerintahan Baduy Dalam. Landasan ideologi adalah, "kemanusiaan yang adil dan beradab,". Implementasinya terukir dalam sistem kekeluargaan yang kental, meski memang masih partiarkal dan feodal.
Banyak aturan masyarakat Baduy yang saya tanyakan kepada Sanip, yang ia jawab sebagai kepatuhan tanpa kenal perdebatan. "Tidak boleh, ya sudah adat," begitu katanya.
Peradaban Baduy Dalam harus Anda lihat sekali-sekali. Setidaknya untuk memasukkan perspektif baru dalam memandang hidup (insight).- Bagi mereka yang ingin mereguk pelajaran dari pengalaman, terutama lewat sebuah petualangan -
Minggu, 19 November 2017
Posted by
Unknown
Healing Me!
Beberapa lagu manis yang terdengar dari balik headset, suasana sore yang hangat di luar jendela kaca. Oh ya, ada angin menggoyangkan ranting pohon. Walau sejuk ruangan yang kutempati kali ini berasal dari alat pendingin ruangan. Itu semua menjadi pendukung tulisan kali ini.
Aku hanya sekedar ingin menulis cerita perjalanan terakhirku mendaki gunung beberapa waktu lalu. Aku tidak kehilangan semangat waktu mendaki Papandayaan waktu itu. Aku ingat betapa bersemangatya aku ketika melihat pemandangan, merasakan lelah, tertawa dan bertemu dengan kawan-kawan pendaki lain di tengah hutan.
Tapi ada sesuatu yang kurasa hilang kali ini. Ada sesuatu yang terasa menyangkut. Kurasa tepat menyelinap di rongga dada.
Aku pikir awalnya aku kehilangan motivasi untuk menulis lagi di blog ini. Tidak, ternyata aku telah sakit dari dulu. Sakit yang sulit disembuhkan dan telah cukup kronis.
Walau memendam, walau tidak mau jujur, walau munafik. Dalam hati sejujurnya aku merasa kesal. Karena tahu hanya akan menulis mengenai perjalanan menuju satu puncak gunung. Satu puncak yang membasuh dahagaku akan petualangan setelah berbulan lamanya dibekap kesibukan yang lain. Satu puncak yang membutuhkan dua hari saja untuk mencapainya. Satu puncak yang menyisakan cerita dan menggodaku untuk menikmati perjalanan yang lainnya, yang lebih jauh, yang lebih bergetar, yang lebih luar biasa.
Pada dasarnya, inilah penyakit setiap pejalan. Oh! mungkin juga telah menjadi naluri dasar manusia. Mencoba mencari tahu apa yang ada di balik kabut. Mencoba memeras kemampuan diri sendiri hingga titik nadir. Berjalan lebih jauh lagi.
Ah! Sepertinya aku menginginkan satu petualangan besar, agar jari-jari tanganku mau menulis lebih banyak lagi. Lebih dari beberapa paragraf yang kini berakhir di titik ini.
Aku hanya sekedar ingin menulis cerita perjalanan terakhirku mendaki gunung beberapa waktu lalu. Aku tidak kehilangan semangat waktu mendaki Papandayaan waktu itu. Aku ingat betapa bersemangatya aku ketika melihat pemandangan, merasakan lelah, tertawa dan bertemu dengan kawan-kawan pendaki lain di tengah hutan.
Tapi ada sesuatu yang kurasa hilang kali ini. Ada sesuatu yang terasa menyangkut. Kurasa tepat menyelinap di rongga dada.
Aku pikir awalnya aku kehilangan motivasi untuk menulis lagi di blog ini. Tidak, ternyata aku telah sakit dari dulu. Sakit yang sulit disembuhkan dan telah cukup kronis.
Walau memendam, walau tidak mau jujur, walau munafik. Dalam hati sejujurnya aku merasa kesal. Karena tahu hanya akan menulis mengenai perjalanan menuju satu puncak gunung. Satu puncak yang membasuh dahagaku akan petualangan setelah berbulan lamanya dibekap kesibukan yang lain. Satu puncak yang membutuhkan dua hari saja untuk mencapainya. Satu puncak yang menyisakan cerita dan menggodaku untuk menikmati perjalanan yang lainnya, yang lebih jauh, yang lebih bergetar, yang lebih luar biasa.
Pada dasarnya, inilah penyakit setiap pejalan. Oh! mungkin juga telah menjadi naluri dasar manusia. Mencoba mencari tahu apa yang ada di balik kabut. Mencoba memeras kemampuan diri sendiri hingga titik nadir. Berjalan lebih jauh lagi.
Ah! Sepertinya aku menginginkan satu petualangan besar, agar jari-jari tanganku mau menulis lebih banyak lagi. Lebih dari beberapa paragraf yang kini berakhir di titik ini.
Minggu, 17 Mei 2015
Posted by
Unknown
Sebuah Kisah Petualangan Di Gunung Prau
(Published&Edited:Indonesiakaya.com)
Akbar, Joko, Jane, Lida, Prama, Septi dan Yeni tak sabar lagi menunggu hujan reda. Sedari tiba di Dieng, tepatnya di Desa Patak Banteng, hujan memang tak henti menerpa. Akan tetapi niat sudah dipatri dari jauh-jauh hari dan ketika cuaca mereka rasa sudah cukup aman, ketujuh pendaki itu siap menjajal tanjakan menuju puncak Prau. Sayang rasanya jika pendakian kali ini gagal, sebab sudah jauh-jauh hari mereka berencana ke Jawa Tengah, apalagi mereka datang dari Jakarta, Surabaya dan Malang. Sulit membayangkan untuk menyurutkan semangat bertualang mereka yang menyala-nyala kala itu.
Ketika hujan deras kian melemah menjadi gerimis dan perlahan sirna menyisakan mendung. Ketujuh orang tersebut bersama tim liputan indonesiakaya.com pun langsung bersiap-siap untuk memulai pendakian. Tak hanya kelompok Joko saja yang memulai petualangan pada pukul 15.00 WIB lewat sedikit itu, kelompok lain yang berasal dari Jakarta dan kota-kota lain pun turut berangkat saat cuaca mulai mendukung. Setelah melakukan registrasi di basecamp Patak Banteng dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 8,000 per kepala, mereka berdoa sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak setinggi 2565 meter dari permukaan laut tersebut.
Dataran Tinggi Dieng memang dikenal sebagai daerah pegunungan dan Gunung Prau merupakan satu dari sekian banyak puncak gunung di Dataran Tinggi Dieng yang kian menjadi primadona baru di antara para pendaki, pecinta alam dan petualang dari berbagai kota-kota besar khususnya di pulau Jawa. Beberapa pendaki dari Jakarta bahkan mengaku lebih memilih untuk mendaki Gunung Prau sebagai pengisi akhir pekan mereka, daripada ke Gunung Gede atau Gunung Pangrango yang notabene jaraknya lebih dekat dari ibu kota.
Di waktu akhir pekan, puluhan hingga ratusan pendaki rela jauh-jauh mengunjungi Gunung Prau yang tepat berada di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini. Puncak Gunung Prau sendiri menjanjikan panorama yang sedikit berbeda dari gunung-gunung yang lainnya. Dari sana, pendaki bisa menyaksikan bagaimana Dataran Tinggi Dieng diapit betul oleh deretan pegunungan seperti, Sindoro, Sumbing, Sikunir dan lain-lain. Satu hal yang lebih menarik lagi ialah, salah satu jalur menuju puncak Prau memang memiliki panorama layaknya deretan bukit di lembah Teletubbies.
Bagi Joko dan kawan-kawan, keindahan bukanlah tujuan utama yang mereka cari dari pendakian Prau kali ini. Keinginan yang kuat untuk mengembara dan menyambangi gunung baru merupakan alasan mereka melakukan pendakian kali ini. Petualangan mereka kali ini bisa dikatakan sebagai reuni sembari mengingat-ingat pertemuan pertama mereka di puncak Anjani, Gunung Rinjani, NTB, beberapa waktu silam. Saat itulah jalinan persahabatan mereka terjalin dan kisah semacam ini memang tak jarang terjadi di kalangan para pecinta petualangan.
Jalur Patak Banteng yang mereka pilih pun merupakan jalur singkat yang cukup menantang dengan kontur menanjak hampir tanpa jeda. Bagi Joko dan kawan-kawan, jalur yang terdiri dari tiga pos itu mengingatkan mereka pada pendakian-pendakian lain yang selama ini pernah mereka lakukan di gunung-gunung lain di Indonesia. Rutenya sendiri menawarkan beragam warna lingkungan mulai dari, petak-petak kebun sayur penduduk, hutan pinus hingga bukit-bukit savana yang semakin cantik dihiasi hamparan bunga-bunga daisy kecil-kecil.
Pendakian mereka pun terbilang cukup lancar dan sesuai dengan rencana awal. Tiga jam perjalanan dari basecamp Patak Banteng hingga ke puncak Prau dipenuhi canda dan tawa. Jalur menanjak dan liat pun sukses didaki hingga menuju puncak. Kekompakan tim pun diuji, apalagi separuh dari mereka merupakan pendaki wanita. Namun tak satupun anggota tim yang tertinggal dan semuanya selamat sampai tujuan walau sesekali sisa-sisa hujan dan gigitan kabut yang dingin menerpa sepanjang perjalanan. Letih dan peluh pun terbayarkan dengan segala cerita petualangan dan keindahan menuju Gunung Prau.
Akbar, Joko, Jane, Lida, Prama, Septi dan Yeni tak sabar lagi menunggu hujan reda. Sedari tiba di Dieng, tepatnya di Desa Patak Banteng, hujan memang tak henti menerpa. Akan tetapi niat sudah dipatri dari jauh-jauh hari dan ketika cuaca mereka rasa sudah cukup aman, ketujuh pendaki itu siap menjajal tanjakan menuju puncak Prau. Sayang rasanya jika pendakian kali ini gagal, sebab sudah jauh-jauh hari mereka berencana ke Jawa Tengah, apalagi mereka datang dari Jakarta, Surabaya dan Malang. Sulit membayangkan untuk menyurutkan semangat bertualang mereka yang menyala-nyala kala itu.
Ketika hujan deras kian melemah menjadi gerimis dan perlahan sirna menyisakan mendung. Ketujuh orang tersebut bersama tim liputan indonesiakaya.com pun langsung bersiap-siap untuk memulai pendakian. Tak hanya kelompok Joko saja yang memulai petualangan pada pukul 15.00 WIB lewat sedikit itu, kelompok lain yang berasal dari Jakarta dan kota-kota lain pun turut berangkat saat cuaca mulai mendukung. Setelah melakukan registrasi di basecamp Patak Banteng dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 8,000 per kepala, mereka berdoa sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak setinggi 2565 meter dari permukaan laut tersebut.
Dataran Tinggi Dieng memang dikenal sebagai daerah pegunungan dan Gunung Prau merupakan satu dari sekian banyak puncak gunung di Dataran Tinggi Dieng yang kian menjadi primadona baru di antara para pendaki, pecinta alam dan petualang dari berbagai kota-kota besar khususnya di pulau Jawa. Beberapa pendaki dari Jakarta bahkan mengaku lebih memilih untuk mendaki Gunung Prau sebagai pengisi akhir pekan mereka, daripada ke Gunung Gede atau Gunung Pangrango yang notabene jaraknya lebih dekat dari ibu kota.
Di waktu akhir pekan, puluhan hingga ratusan pendaki rela jauh-jauh mengunjungi Gunung Prau yang tepat berada di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini. Puncak Gunung Prau sendiri menjanjikan panorama yang sedikit berbeda dari gunung-gunung yang lainnya. Dari sana, pendaki bisa menyaksikan bagaimana Dataran Tinggi Dieng diapit betul oleh deretan pegunungan seperti, Sindoro, Sumbing, Sikunir dan lain-lain. Satu hal yang lebih menarik lagi ialah, salah satu jalur menuju puncak Prau memang memiliki panorama layaknya deretan bukit di lembah Teletubbies.
Bagi Joko dan kawan-kawan, keindahan bukanlah tujuan utama yang mereka cari dari pendakian Prau kali ini. Keinginan yang kuat untuk mengembara dan menyambangi gunung baru merupakan alasan mereka melakukan pendakian kali ini. Petualangan mereka kali ini bisa dikatakan sebagai reuni sembari mengingat-ingat pertemuan pertama mereka di puncak Anjani, Gunung Rinjani, NTB, beberapa waktu silam. Saat itulah jalinan persahabatan mereka terjalin dan kisah semacam ini memang tak jarang terjadi di kalangan para pecinta petualangan.
Jalur Patak Banteng yang mereka pilih pun merupakan jalur singkat yang cukup menantang dengan kontur menanjak hampir tanpa jeda. Bagi Joko dan kawan-kawan, jalur yang terdiri dari tiga pos itu mengingatkan mereka pada pendakian-pendakian lain yang selama ini pernah mereka lakukan di gunung-gunung lain di Indonesia. Rutenya sendiri menawarkan beragam warna lingkungan mulai dari, petak-petak kebun sayur penduduk, hutan pinus hingga bukit-bukit savana yang semakin cantik dihiasi hamparan bunga-bunga daisy kecil-kecil.
Pendakian mereka pun terbilang cukup lancar dan sesuai dengan rencana awal. Tiga jam perjalanan dari basecamp Patak Banteng hingga ke puncak Prau dipenuhi canda dan tawa. Jalur menanjak dan liat pun sukses didaki hingga menuju puncak. Kekompakan tim pun diuji, apalagi separuh dari mereka merupakan pendaki wanita. Namun tak satupun anggota tim yang tertinggal dan semuanya selamat sampai tujuan walau sesekali sisa-sisa hujan dan gigitan kabut yang dingin menerpa sepanjang perjalanan. Letih dan peluh pun terbayarkan dengan segala cerita petualangan dan keindahan menuju Gunung Prau.


