Treasures in the Mids of Jakarta
Treasures hunter still exist. There is Michael Hatcher, an Englishman from Australia that’s widely known as “The Wreck Salvage King” and mostly wanted by Indonesian Government. Indonesia climed Hatcher has stolen much asset on many Indonesian teritorial since 1986. His latest treasures hunting activity in the deep of Indonesian see recorded in Bangka archipelago, 1999. He succesfully lifted up the Teng Sing ship and take its treasures with estimated cost around 500 billion Rupiah.
The next
question is, where the hell the treasures sold? When I read some information
about an Antique Market in the mids of Jakarta, I curious to go there to saw
what are they offered. This Antique Market is located in Jalan Surabaya,
Menteng, Center Jakarta. I arrived right at the same time whit the high traffic
jamm peak, after work hour season. Those Antique Market of Jakarta suddenly
become a float of vehicles and antiques.
Along 500
meters of those stright road, the antiques were just scattered on the
pedestrian side. Indeed, the shops were too narrow to placed too many antique
things inside. Many of them were hundred years old antique-colonial-era things,
arts, handycrafts, scluptures, vinyl, and every old interesting things.
I walked
slowly through the pedestrian side, watched my steps carefully to avoid
undesirable touch. I believe, even an experienced historian will fall in love
with this place. Honestly, I feel I’m being a time traveler amongs those
things. With more than 170 shops and thousands antique choise, an arts lovers
and collectors could be confused too.
Jalan
Surabaya was famous since 1960’s as an Antique Market of Jakarta. It’s
officially opened by the Jakarta legendary Governor, Mr. Ali Sadikin. In 1994,
Bill Clinton, former President of USA, have been visited the market. “He spends
200 USD for a couple of scluptures, the Loro Blonyo.” Said Mr. Anwar, the owner
of antique shops number 80 that have being antique seller since 1980’s.
The saddest part of this story is when I found Mr. Anwar and view seller sold the artifacts which is believe came
from Majapahit empire era. Mr. Anwar his self sold a kind of stone tools
artifact, as seems as hundred years old-traditional nutcracker. He climed that
he could earn 2-3 million Rupiah from those kind of artifact.
Another seller
near Mr. Anwar shop also sold more precious artifacts. With only 2,5-4 million
Rupiah, we can bring an ancient sclupture of Buddhist head or a Hindus Main God
sclupture.
I asked
them, where were they bought those -actually, priceless- artifacts? They told
me that they got it from another person. I guessed, if the artifacts is real,
they might were stolen from uncared temples around Java. Indeed, in Java Island
itself, there are so many hiden Hindu-Buddhist temples that uncovered, lying on
typically cloistered villages. Teens to hundreds artifacts such as, scluptures,
stone tools, inscription, bas-relief, were lost.
Half of them
might were stranded on these pedestrian side of Jalan Surabaya, Menteng, Center
Jakarta. They are waiting to be save or found by the treasure hunters.
Rabu, 10 September 2014
Posted by
Unknown
Pemburu Vinil
Awal tahun 2000-an merupakan masa-masa akhir zaman kaset rekaman dan piringan CD. Waktu itu mungkin teman-teman masih mengenal Tara, toko kaset dan CD musik paling hit di zamannya. Ada sebuah kisah saat aku masih suka mengoleksi kaset musik dan rutin mengunjungi Tara, menghabiskan uang simpanan dari menyisihkan uang jajan masa sekolah. Aku sempat bertemu dengan seorang traveler asing yang ingin mencari vinil atau lebih dikenal dengan nama, piringan hitam.
Mungkin musisi Indonesia yang banyak dikenal pemuda kekinian hanya sebatas legenda-legenda macam, Koes Plus, God Bless, Ebiet G. Ade, Chrisye, atau Doel Sumbang saja. Namun ternyata dua lusin lebih piringan hitam yang dites Alessandro menyimpan banyak sekali dokumen sejarah musik nasional yang direkam para musisi-musisi terlupakan. Tak satupun musisi di dalam vinil tersebut yang familiar di telingaku. Genre musik mereka pun tak selamanya pop lambat yang sendu-sendu atau keroncong saja. Musik-musik psikadelik ala Jimmy Hendrik, Rock n Roll ala Elvis Presley, grup sewarna the Beatles pun menggempur telinga kami waktu itu, sukses membuat kepala Alessandro terangguk-angguk bak DJ.
Aku ingat, waktu itu aku membantu petugas kasir untuk berkomunikasi dengan pelanggannya. Sang petugas menyarankan untuk mencari vinil ke Jakarta saja, karena di Lombok akan sangat sulit -kalau tidak ingin dikatakan mustahil- menemukan vinil.
Belasan tahun setelah peristiwa itu, aku seperti melakukan lompatan perjalanan waktu. Selasa, 2 September 2014 lalu aku mendapati diriku tengah memperhatikan koleksi-koleksi piringan hitam di Jl. Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat. Jalan ini memang dikenal luas sejak 1960-an sebagai pasar antik, dan secara resmi dibuka oleh salah satu gubernur legendaris Jakarta, bapak Ali Sadikin.
Jalan sepanjang 500 meter tersebut benar-benar merupakan galeri barang antik terpanjang yang pernah aku kunjungi selama ini. Di sini bertebaran dan benar-benar berserakan beragam barang bercita rasa seni dan klasik seperti ; lukisan, patung-patung kayu primitif dari hampir seluruh penjuru negeri. Semua berjejalan sampai luber ke pinggir trotoar.
Di jalan inilah aku bertemu Alessandro, mahasiswa jurusan kesehatan dari Italia beserta kawan perjalanannya, seorang chief asal Australia. Alessandro yang bertubuh kurus tinggi namun sedikit garang karena memelihara janggut ternyata penggila vinil. Belum sampai dua puluh menit ia menikmati perjalanannya di pasar antik, ia telah menghabiskan 275 ribu rupiah untuk setengah lusin vinil seharga 35-50 ribu rupiah per bijinya. Tidak berhenti di satu kios, Alessandro, sang chief, dan aku sendiri pun ikut-ikutan membantu Alessandro, berburu ke lapak yang lain. Sampai akhirnya kami pun berhenti di kios milik abang Irwan yang berperawakan tambun di sudut Jl. Surabaya itu.
Di sini Alessandro dipuaskan oleh banyak pilihan, apalagi si pemilik toko dimudahkan karena adanya interpreter dadakan yang membantunya, gratis tanpa meminta bayaran.
"I wanna buy something sound groovy and it's especially Indonesian music." pinta Alessandro, yang segera aku terjemahkan dengan, "Lagu Indonesia, klasik tapi nggak terlalu slow bang!"
Entah memiliki ingatan berapa gigabyte, bang Irwan pun mengeluarkan koleksi vinil terbaiknya di antara ratusan vinil yang ia miliki. Alessandro pun mengecek satu per satu track-track lagu yang ada dalam vinil yang ditawarkan tersebut.
Kualitas suara piringan hitam memang tidak secanggih hasil racikan mixing masa kini, namun cirinya khas, sound yang dimilikinya benar-benar mampu membuat kita bernostalgia. Akan tetapi lebih dari semua itu, nilai paling unik yang dikandung dalam sepiring besar vinil ialah hasrat manusia untuk menyimpan kenangan dalam bentuk suara lewat media teknologi rekam di zaman "sejadul" itu. Menemukan vinil yang berkualitas bagus rasanya seperti sejarawan yang menemukan prasasti dari zaman dahulu yang masih jelas terbaca dan memiliki banyak aspek untuk diteliti. Begitulah Alessandro menikmati penemuannya. Selain itu, pilihan bang Irwan yang mengaku sering mendapat pelanggan orang asing, memang "tokcer". Saya sendiri jadi tahu, jika ternyata khazanah musik Indonesia zaman dahulu begitu variatif.
Mungkin musisi Indonesia yang banyak dikenal pemuda kekinian hanya sebatas legenda-legenda macam, Koes Plus, God Bless, Ebiet G. Ade, Chrisye, atau Doel Sumbang saja. Namun ternyata dua lusin lebih piringan hitam yang dites Alessandro menyimpan banyak sekali dokumen sejarah musik nasional yang direkam para musisi-musisi terlupakan. Tak satupun musisi di dalam vinil tersebut yang familiar di telingaku. Genre musik mereka pun tak selamanya pop lambat yang sendu-sendu atau keroncong saja. Musik-musik psikadelik ala Jimmy Hendrik, Rock n Roll ala Elvis Presley, grup sewarna the Beatles pun menggempur telinga kami waktu itu, sukses membuat kepala Alessandro terangguk-angguk bak DJ.
Cukup lama Alessandro memilih vinil, sampai aku hitung sudah dua kali ia meminta maaf kepada kami yang menunggunya. Akhirnya ia memilih 5 vinil dengan koleksi terbaik menurut pendengarannya. Keputusannya tepat diambil sehabis menuntaskan vinil koleksi musik dangdut dan keroncong tawaran bang Irwan.
Semua vinil bang Irwan dijual 50 ribu rupiah satuannya, tanpa mau ditawar lagi. Alessandro yang terlanjur menganggap itu harga yang murah, sekaligus kurang berpengalaman dalam hal menawar barang ala Indonesia, akhirnya ijab kabul juga. Dua tangan berbeda warna kulit pun berjabat erat sore itu, sepakat dengan harga 250 ribu rupiah untuk kelima vinil tersebut. Tak lupa sehabis momen yang penuh rasa persahabatan itu berlangsung, Alessandro memintaku untuk mengabadikan dirinya sedang berangkulan dengan sahabat barunya, abang penjual vinil dari Jl. Surabaya.
Ah, andai saja di awal tahun 2000-an dulu aku tahu tempat ini, mungkin satu pemburu vinil lagi yang akan bahagia dan lebih banyak vinil Indonesia lainnya yang akan terselamatkan, jatuh di tangan yang tepat seperti Alessandro sang pelancong dari Italia.
Jumat, 05 September 2014
Posted by
Unknown
Ronald Talk's : How to Living Spontaneously
Jakarta (28/08/2014), Thursday night after work and sticking my butts on those cheap chair for almost 10 hours. Me and my co-worker getting faster to a special talk show. That's night, one famous Indonesian writer, speaker, and men's love motivator, would speaking about something that could be precious. First important reason why i come even quite tired after work and willing to break through the Jakarta high traffic, because he -the speaker- already known as very high rate speaker in Indonesia -he can earn millions only for an hour-. But those night, his talk show was for free!!!
Finally we come -too fast- to the venue. A simplicity-designed cafe called Coffee Institute. It's located in Gunawarman Street No.71, Kebayoran Baru, South Jakarta. The Ronald Frank's talk show was delayed but still go on. Only for your information, i was read his e-book about how to be the damn great lover since in college. It's work, really really work to me. That's the second important reason why i have to gather in his talk show.
When he started to speaking, every single eyes and ears in those typically small room suddenly hypnotized including me and my co-worker, even he just trying to chit-chat with his audience that i assumed as a little bit mediocre introduction. These men is great, i already knew it from the first words that slide out from his mouth.
He opened with his past part of life, the hardest and most depressive one. He told us that he was bankrupt in 2006. He carried teens million debt after failed in running an IT company. Yeah, he was inspired by Bill Gates, he walked out from college soon at the first year. His slut -pardon me with my carefully chosen word- break their relationship and fell into another mature-rich men's arm.
In the end, those milestones of his life, enlightened him to hear his own intuition. Spectacularly the most depressive part of life turn to be his greatest discovery of life. What the hell's happened? As i know, he wrote an e-book later, about how to be the great lover. Can you imagine this? A broken heart men who failed in his own relationship with his girl friend wrote an e-book that rapidly help the other men in the world to find and work out their lover ability. You might laugh out loud, but it's the truth.
In term of truth, Ronald said that, the truth that we believes was programmed since we was a kids. The truth is actually a neutral condition. We named it with our self or another person's perception, like our parents for example. So, almost nothing absolute truth, but there is individual truth exist among us. So, we can't impose our self truth to another person.
Ronald believe that we -he also believe that we are such an energy and God its self also exist within human energy- already created our self destiny since we in our mother's womb -or in the further more past time- but we forgot about it since we growth.
I personally struggle in this topic before, do we have our self certain destiny or we simply created our own destiny with our hands while living ? Ronald said that each of us already have a certain destiny. It's up to us, are we willing to follow it or not. Follow our own destiny means we are walking on our happiness of life. In other hand, refuse it means we are walking on the suffering life.
Sure, we always wanted to be happy in life, but how to make it? How could we considered that we are on our destinies track? Ronald said that, hear the sound from the bottom of your heart. Try to living spontaneously, it's an awesome life experience at least for our own self. Usually this intuition extremely irrational. Because when your intuition answered by your "ego" -he said that with his hand placed on his forehead- your mind already makes a negation.
For the example, men who stay to denied their intuition, they are always making hard plan for their happiness but they'll always hit the wall too, because their destiny -intuition- has try to kick them to the right way that they should be fit in. For now on, just follow your truly willingness, if you're willingness said that you must sleep and don't go to work today, you have to sleep immediately. Sounds ridiculous, doesn't it? Yeah i know, but i believe him. Once, i follow my intuition and suddenly i feel the God hands directing me to a road. For the first time, this is kind of a haze but in the end i recognized that this road is the truth and thus i feel life never be flat anymore. Actually, i left my work twice, surely i have worried about that, about my employers appraisal to me, but nothing really big happened and i am still working as usual.
Like Steve Job, the founder of Apple Inc, he saw life is spots that seems unconnected but actually it's connected. You can't see the web in the future, but you can analyzed it at from past until the present time. I would love to tell you about prediction which was clime that human can't living on earth over four billion populations, now we are seven billion! Who the hell are they -men who always predicting something? Are they God that created the destinies and can see the future?
The conclusion is, are we ready to living spontaneously and joy the dynamics of life or not, that's two kind of different destination. But if you want to be a great person, life out of the box, hear your own intuition, traveling with no itinerary, traveling every time you want, leave your bored job. You know, every time i remaining about it and reflecting on my own life experience over and over, i still struggling in follow my self intuition or not, but i do really wanted to living spontaneously forever!
Finally we come -too fast- to the venue. A simplicity-designed cafe called Coffee Institute. It's located in Gunawarman Street No.71, Kebayoran Baru, South Jakarta. The Ronald Frank's talk show was delayed but still go on. Only for your information, i was read his e-book about how to be the damn great lover since in college. It's work, really really work to me. That's the second important reason why i have to gather in his talk show.
When he started to speaking, every single eyes and ears in those typically small room suddenly hypnotized including me and my co-worker, even he just trying to chit-chat with his audience that i assumed as a little bit mediocre introduction. These men is great, i already knew it from the first words that slide out from his mouth.
He opened with his past part of life, the hardest and most depressive one. He told us that he was bankrupt in 2006. He carried teens million debt after failed in running an IT company. Yeah, he was inspired by Bill Gates, he walked out from college soon at the first year. His slut -pardon me with my carefully chosen word- break their relationship and fell into another mature-rich men's arm.
In the end, those milestones of his life, enlightened him to hear his own intuition. Spectacularly the most depressive part of life turn to be his greatest discovery of life. What the hell's happened? As i know, he wrote an e-book later, about how to be the great lover. Can you imagine this? A broken heart men who failed in his own relationship with his girl friend wrote an e-book that rapidly help the other men in the world to find and work out their lover ability. You might laugh out loud, but it's the truth.
In term of truth, Ronald said that, the truth that we believes was programmed since we was a kids. The truth is actually a neutral condition. We named it with our self or another person's perception, like our parents for example. So, almost nothing absolute truth, but there is individual truth exist among us. So, we can't impose our self truth to another person.
Ronald believe that we -he also believe that we are such an energy and God its self also exist within human energy- already created our self destiny since we in our mother's womb -or in the further more past time- but we forgot about it since we growth.
I personally struggle in this topic before, do we have our self certain destiny or we simply created our own destiny with our hands while living ? Ronald said that each of us already have a certain destiny. It's up to us, are we willing to follow it or not. Follow our own destiny means we are walking on our happiness of life. In other hand, refuse it means we are walking on the suffering life.
Sure, we always wanted to be happy in life, but how to make it? How could we considered that we are on our destinies track? Ronald said that, hear the sound from the bottom of your heart. Try to living spontaneously, it's an awesome life experience at least for our own self. Usually this intuition extremely irrational. Because when your intuition answered by your "ego" -he said that with his hand placed on his forehead- your mind already makes a negation.
For the example, men who stay to denied their intuition, they are always making hard plan for their happiness but they'll always hit the wall too, because their destiny -intuition- has try to kick them to the right way that they should be fit in. For now on, just follow your truly willingness, if you're willingness said that you must sleep and don't go to work today, you have to sleep immediately. Sounds ridiculous, doesn't it? Yeah i know, but i believe him. Once, i follow my intuition and suddenly i feel the God hands directing me to a road. For the first time, this is kind of a haze but in the end i recognized that this road is the truth and thus i feel life never be flat anymore. Actually, i left my work twice, surely i have worried about that, about my employers appraisal to me, but nothing really big happened and i am still working as usual.
Like Steve Job, the founder of Apple Inc, he saw life is spots that seems unconnected but actually it's connected. You can't see the web in the future, but you can analyzed it at from past until the present time. I would love to tell you about prediction which was clime that human can't living on earth over four billion populations, now we are seven billion! Who the hell are they -men who always predicting something? Are they God that created the destinies and can see the future?
The conclusion is, are we ready to living spontaneously and joy the dynamics of life or not, that's two kind of different destination. But if you want to be a great person, life out of the box, hear your own intuition, traveling with no itinerary, traveling every time you want, leave your bored job. You know, every time i remaining about it and reflecting on my own life experience over and over, i still struggling in follow my self intuition or not, but i do really wanted to living spontaneously forever!
Sabtu, 30 Agustus 2014
Posted by
Unknown
Ziarah Makam Nyatoq : Menggali Akar Meruntuhkan Dongeng
Hari itu Rabu yang cukup cerah. Hari Rabu dengan Matahari di
bulan Mei yang mulai menyembul hangat. Cahanya menerobos membentuk sebuah sorotan
lemah yang menerabas kabut perbukitan. Sepagi itu aku diajak berziarah oleh ibu
ke Makam Nyatoq, desa Rambitan, Lombok Tengah. Ini makam dari seorang pemuka
agama yang meletakkan dasar keislaman di daerah Lombok, khususnya daerah Lombok
Selatan dan sekitarnya.
Hari itu hari Rabu, hari yang spesial sebab menurut kepercayaan sebagian besar orang, wali nyatoq memberikan keberkahan di makam tersebut di hari tersebut,
sehingga apapun keinginan, harapan, niatan, keresahan, dan semua yang ada
dihati akan diringankan ketika berziarah terutama pada hari Rabu.
Aku tidak memungkiri di beberapa belahan di dunia ini terdapat
tempat-tempat yang spesial untuk berdoa kepada Yang Maha Esa. Mungkin saja Makam
Nyatoq ini salah satu tempatnya, suasananya damai, rindang, hijau dan apabila
kau datang pagi-pagi sekali, kabut-kabut bak gulali manis akan menyapa menyentuh permukaan kulitmu.
Sungguh sebuah peristirahatan sempurna di atas bukit tanpa harus berebutan
tempat dengan makam-makam yang lain. Ya, di komplek tersebut hanya ada beberapa
makam saja. Namun wilayah itu terlalu luas untuk tiga nisan dari abad lampau.
Aku masuk ke makam nyatoq tidak berniat apa-apa –eh kupikir
niatku waktu itu hanya ziarah kubur biasa, tanpa ekspektasi apapun sama sekali-
sebab aku tahu dibalik metafor yang bertaburan dalam kisah kehidupan waliullah
yang satu ini, ada banyak kesalah pahaman sejarah yang terjadi disekeliling
kita. Entah apa yang menjadi niat dan ekspektasi ibuku waktu itu, semoga ia
tidak melenceng terlalu jauh dan kuburan ini hanya menjadi media penguhubung
semata ke Kursi Yang Maha Kuasa.
Tidak ada yang salah dari ziarah ini, yang salah adalah
superioritas yang terlalu mengada-ada yang disematkan pada objek dan subjek
yang sebenarnya hanyalah manusia dan kuburan semata. Saat alunan yasin dan
tahlil mengalun di telinga, aku pun berjalan mundur jauh ratusan tahun ke
belakang ke-abad ke-13 Masehi.
***
AsySyaikh As-Sayyid Nururrasyid Ibnu Hajar al-Haytami,
As-Sayyid sendiri adalah gelar untuk kerabat Nabi Muhammad SAW, datang ke tanah
Lombok melalui jalur laut utara. Pertama kali mendarat di pesisir utara
memasuki daerah Bayan, Lombok Utara. Beliau lebih dikenal sebagai Gaus
Abdurrazzaq. Dalam lelontar
(manuskrip daun lontar) ia dikenal juga dengan nama Betara tunggal Nala. Entah
mengapa dalam versi nenekku (almarhumah) Betara Tunggal Nala ini datang
menunggang Labu ajaib dan berubah versi menjadi Umar? Betara Nala inilah yang
memiliki putra bernama Deneq Mas Putra Pengendeng Segara Katon Rembitan, nama
ini tentunya adalah sebuah gelar dalam bahasa kuna sama seperti gelar-gelar raja Jawa yang panjang dan memiliki
arti sembah sujud yang mendalam. Nama asli sang pangeran ini adalah Sayyid
Abdurrahman atau yang dikenal dengan wali Nyatoq yang makamnya sedang kuziarahi
kali itu.
Seratus tahun lamanya sebelum Ayahanda wali Nyatoq mendaratkan kaki ddi pulau Lombok, peradaban suku sasak yang asli
menghilang ditelan letusan gunung paling membunuh di abad ke-12, gunung Samalas,
ini adalah hasil penelitian ilmiah yang dilakukan baru-baru ini. Gunung Samalas
sendiri sebuah gunung rakasasa yang ketinggianya hampir mencapai 5000 meter
dari permukaan laut.
Abad ke-12 masehi gunung ini meledak dan menciptakan
kaldera yang sekarang menjadi danau segara anakan di gunung Rinjani. Selain
menciptakan kaldera indah, dalam dan amat sangat mendebarkan bagi peneliti
vulkanologi, gunung ini pun memiliki anak yang dikenal dengan sebutan gunung
Baru Jari. Jadi melihat kedalaman kaldera hasil ledakan maha dahsyat -lebih dahsyat
dari Tambora di tahun 1815- kemungkinan besar suku dan kerajaan sasak abad ke-12
ini telah terkubur dalam debu vulkanik.
![]() |
| kaldera gunung Samalas seluas 3.500X4.800 meter. |
Kembali ke kisah wali Nyatoq sendiri, dialah yang kemudian
menjadi akar sultan-sultan kerajaan Lombok dengan mendirikan kerajaan Kayangan.
Saudara wali nyatoq, Sayyid Umar mendirikan kerajaan Pujut, oleh sebab itulah
tidak aneh di gunung pujut, Lombok Selatan, ada masjid kuno mirip seperti di
Bayan, begitu pula masjid kuno Rembitan yang dibangun sendiri oleh wali Nyatoq
pun memiliki kemiripan konstruksi yang sama dengan kedua masjid yang lain.
Sedangkan saudari wali Nyatoq bertanggung jawab di daerah utara yang dikenal
dengan nama Syarifah Qomariyah atau secara mistikus disebut sebagai Dewi
Anjani.
Wali Nyatoq Sendiri lebih mengutamakan menyebarkan agama Islam
daripada menjadi raja, hingga ia tidak heran memiliki 33 nama di beragam tempat
di Bali, Lombok dan Sumbawa. Sebagai mubaligh beliau mensyarkan islam ke
mana-mana hingga dikenal di Bali sebagi Pedanda Sakti Mawu Rauh, di Sumbawa
dikenal sebagai Tuan Semeru, di pulau Jawa dikenal sebagai Aji Duta Semu. Di
daerah lain di Lombok ia juga dikenal sebagai Datu Pangeran Djajing Sorga yang
dipercaya berasal dari Majapahit.
Islam di bumi sasak pun disebarkan bernafaskan animisme dan filsafat hindu Advaita
Vedanta di kalangan masyarakat, lebih diterima, singkritisme
pun terjadi lalu bergabunglah sufisme dalam nafas filsafat Hindu. Hingga
akhirnya Lombok pun sepenuhnya menjalankan syariat islam seperti yang terjadi
di masa ini. Namun siapapun yang murni menyandang nama Lalu dan Lale di depan
namanya, wali Nyatoqlah nenek moyang mereka, mungkin saja ada kelebihan yang
dikaruniakan oleh Allah kepadanya namun tetap saja wali Nyatoq hanya manusia saleh berilmu
tinggi, entah cerita mana yang mau dipercayai, yang dipenuh mukjizat atau cerita ini? Yang terpenting ketika mengunjungi akar dan bapaknya
raja-raja Lombok ke makam Nyatoq, niatkan untuk mendoakan semoga beliau diterima
amal ibadahnya di dunia, dan semoga kita diberi kesempatan untuk mengikuti
jejak-jejak kearifannya agar selamat di dunia akhirat. Itu saja tidak kurang
tidak lebih.
Dari berbagai sumber
Denting Piano Daniel yang Memabukkan
“Rambutnya berwarna putih dan abu-abu, malam itu ia mengenakan batik berwarna campuran jingga dan peach dipadukan dengan celana katun hitam, Daniel Herscovitch, siap memainkan impromptu No.1 karya Franz Schubert, musisi klasik asal Austria yang hidup di abad ke 19 masehi.”
Ini lagu kedua dari 6 biji lagu yang akan dibawakannya malam
ini (02/07/2014). Sebelumnya aku melewatkan lagu pembuka gubahan Beethoven : Sonate
Es-Dur Op. 81a (Das Lebewohl), pasalnya aku terlambat datang ke
Goethehaus-Jakarta sehingga tidak bisa masuk di pembukaan pertama. Sebelum satu
lagu selesai dimainkan penonton resital piano tidak diperkenakan masuk ke dalam
ruangan konser.
Tepat saat aku duduk di bangku, grand piano hitam itu pun berkumandang memenuhi ruangan akustiknya
yang menggugah. Jemari lelaki tua itu menari lincah di atas tuts, nada-nada
dibangunnya cermat, nuansa diciptakan, ada ratusan mata yang memandangnya dan
lebih banyak telinga lagi yang terhipnotis terbuai ke dalam imajinasi liar masing-masing
jiwa. Kami diam menerjemahkan nada-nada rumit yang mengantarkan pesan-pesan si
pembuat lagu yang rata-rata telah ratusan tahun mati. Inilah tantangannya,
apakah pesan yang ingin disampaikan pencipta lagu bisa disampaikan ke telinga
pendengarnya oleh sang pianis?
Tentu ini juga pertama kalinya aku mendengar karya Schubert.
Memang tak banyak karya klasik yang aku dengarkan, kecuali sedikit sekali
simponi-simponi gubahan Beethoven, Mozart dan Chopin. Secara teoritis aku tak sebaik
kritikus, praktisi maupun wartawan musik. Dengan jujur aku merasa emosional
ketika nada-nada klasik dimainkan lewat denting piano yang sedang dimainkan
laki-laki berkewarganegaraan Australia itu. Secara aneh aku menikmati simponi
yang dimainkan sampai simponi ketiga berjudul Aida : Danza Sacra e Duetto
Finale pun berhenti mengalir. Luar biasa!
Devoirs
Daniel berdiri mengambil mike yang dipersiapkan panitia.
Setiap kali ia selesai dengan satu lagu ia akan mengumumkan lagu berikutnya,
bercerita tentang lagu yang akan dimainkan dan membungkuk untuk menikmati tepuk
tangan penonton.
Kali ini ia akan memainkan “Devoirs” (baca : Devoa) gubahan
Yazeed Djamin, salah satu pianis kebanggan Indonesia. Daniel lama mengenal
Yazeed Djamin dan “Devoirs” selalu mengingatkannya akan tragedi bom bali 2002.
Aku penasaran ,alisku mengkerut.
Betul saja, intro yang cukup mencekam pun dimainkan. Nadanya
bagai teror mengancam dalam sentuhan teknik broken kord (semoga aku tidak salah) yang menyayat sisi tergelap kemanusiaanku,
apalagi dimainkan di octave terendah.
“Mengerikan sekali simponi ini” batinku.
Nuansa gelap menenggelamkanku membuatku berpikir jauh, apa
sebenarnya yang dirasakan oleh Djamin? Bahkan sampai notasi nada-nada khas bali
yang ritmik dan dinamis dimainkan di tengah-tengah lagu, aku bersumpah aku
mengangguk-angguk terbuai ritme yang sinistik bercampur gamang sekaligus. Demi
apapun “Devoirs” resmi kujadikan nada-nada kesedihan, tragedi sekaligus mistikus
terindah yang pernah kudengar selama ini. Ini membuat nada-nada kematian yang
diwakili genre musik death, black, dan progresif metal terdengar seperti lagu
ABG galau saja.
Schumann yang Panjang dan Sukarlan yang Singkat
Sonata Fis-Moll Op.11 adalah simponi terpanjang yang dimainkan
Daniel malam itu. Lagu ini gubahan komposer Romantik eropa terbesar dizamannya,
Robert Schumann, dari Jerman. Mataku terpejam kala Daniel memainkan lagu aneh
yang personal itu. Kepalaku terhipnotis dan aku merasa aku ada dalam kondisi Alpha, sebentuk nuansa canggung silih
berganti menghampiri jiwa. Secara subjektif aku merasakan ada keceriaan, kemunafikan,
kontra dan kesalahan yang disengaja. Ah! Lagu ini begitu kalut, sampai-sampai
aku yakin umur dan pengalamanku belum cukup matang untuk meencerna kisah yang
ingin disampaikan Schumann dalam nada berdurasi panjang tersebut.
Hah! Lega rasanya ketika sonata itu berhenti dan jiwaku yang
tertawan belasan menit segera kembali. Daniel kembali berdiri, menutup malam
itu dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar unuk ukuran orang asing seperti
dia. Sebagai penutup malam ini ia akan memberikan penonton sebuah karya milik
Sukarlan. Rapsodia Nusantara No. 10. Penutup yang epik dan cukup singkat, lagu
yang tak sampai dua menit lebih sedikit, jauh lebih singkat dari lagu-lagu
sebelumnya yang bisa berdurasi hingga sepuluh menit lebih. Ah, kami pun berdiri
dibuatnya setelah ia selesai memainkan musiknya. Benar-benar racikan luar biasa,
seperti menyantap makanan, dari pembuka sampai menu utamanya sangat mengenyangkan
dan penutupnya manis tak berlebihan. Sampai jumpa di konser-konser berikutnya!
Jumat, 04 Juli 2014
Posted by
Unknown







