Widgets

Posted by : Lalu Ahmad Hamdani Rabu, 31 Juli 2013

Kraton Mataram Islam; Peradaban Yang Kembali Kosong

Tanpa bangunan Keraton. Kerajaan Mataram hanya meninggalkan singgasana sederhana milik panembahan Senopati sebagai salah satu penanda, bahwa memang di atas tanah kosong dekat kampung itu. Dahulu sempat berdiri sebuah kerajaan besar Islam di Pulau Jawa. Singgasana dari batu hitam berbentuk persegi tersebut. Menghenyakkanku dari balik fantasi.

“Ya inilah singgasana Panembahan Senopati, raja Mataram yang terkenal itu” kata seorang abdi dalem yang siang itu menemaniku berkeliling di situs keraton.

“Sederhana sekali ya pak” komentarku. “Saya pikir, kalau namanya singgasana itu pasti megah.” sahutku lagi.


“Yah mas. Kitakan nggak hidup pada zaman itu. Kita nggak tahu realnya seperti apa.”

Kata-kata abdi dalem yang lugas itulah yang menamparku dari khayalanku. Memang khayalan seringkali menjadi musuh dari kenyataan. Kenyataan yang kutemui di kompleks keraton Mataram yang di tunjukkan oleh abdi dalem. Bukanlah sebuah istana megah. Namun sebuah lahan kosong di kepungan kampong. Dua buah pohon beringin besar di depan bangunan kecil itulah. Tempat singgasana panembahan Senopati kini disimpan.

Keraton kerajaan Mataram, hanyalah praduga-praduga yang dikuatkan oleh reruntuhan situs. Kraton kerajaan Mataram saat ini tidak lagi bisa kita saksikan seperti halnya kraton Yogyakarta. Kraton kerajaan Mataram adalah sebuah esensi. Yang dikuatkan dengan teori filosfi jawa Kuno.

Filosofi yang dituturan oleh sang abdi dalem tersebut adalah : Utara itu adalah pasar, Selatan adalah Kraton, Timur adalah alun-alun dan Barat adalah masjid. Dari akumulasi falsafah planologi kuno itulah. Wilayah yang kini hanya meninggalkan bukti singgasana Panembahan Senopati. Dianggap generasi-generasi selanjutnya sebagai lokasi Kraton Mataram Islam.

Mengelola Sejarah Sebagai Komuditas:

Mataram, Singosari, Majapahit, Kediri. Adalah nama-nama kerajaan yang mungkin sejak bangku Sekolah Dasar dan Menengah Pertama. Telah kita ketahui keberadaannya.

Sebagian orang menganggap sejarah sebagai hal yang biasa-biasa saja, sebagian lagi ada yang tertarik dengan sejarah. Bahkan hingga ada yang memilih berprofesi sebagai sejarawan, arkeolog, dan profesi turunan ilmu sejarah lainnya.

Bangsa Indonesia, adalah bangsa yang besar, dengan sejarah yang panjang. Kerajaan-kerajaan yang Escaperz tuliskan di atas bukanlah cerita dongeng yang hidup di alam fantasi. Tapi realita di masa lalu. Namun kini peninggalan kerajaan-kerajaan besar tersebut bagai hilang tak berbekas.

Majapahit, sebagai kerajaan imperialis yang mampu menyatukan Nusantara di abad ke-14. Hanya bisa kita ketahui lewat kertas dan tinta yang membentuk kata dan frasa.Hingga detik ini, sisa-sisa kebesarannya belum mampu kita lihat dengan mata kepala kita sendiri.

Kesadaran Bangsa ini akan sejarah masa lalunya, memang masih sangat rendah. Mungkin karena masyarakat Indonesia belum menemukan manfaat dari ilmu sejarah selain dari sekedar pengetahuan saja. Atau mereka tidak tahu cara mengelola Bangunan batu-batu hitam, serat-serat lontar, dan istana-istana kuno tersebut, secara maksimal dan menguntungkan. Ilmu dan pengetahuan memang hampa jika tanpa ada pengalaman dan sesuatu yang bisa dihasilkan dari ilmu tersebut.

Berjalan-jalan di kawasan Sejarah Kotagede dan Yogyakarta. Escaperz seperti menemukan ilham. Di sana, Sejarah, budaya, dan unsur heritage telah bermetamorfosa menjadi sebuah komoditas. Escaperz menilai, potensi ekonomi wisata sejarah, budaya, dan unsur-unsur heritage sangat besar sekali, jika digarap dengan serius sebagai objek pariwisata, atau digodok dengan bumbu industri kreatif. 

Selain di daerah Yogyakarta. Daerah lain yang berhasil menjual komoditas semacam ini adalah, Bali. Terdapat benang merah di antara kedua daerah ini, yang menurut Escaperz sebagai pondasi pembentuk semua hal tersebut. Yaitu ketaatan masyarakat di daerah tersebut kepada elemen-elemen budaya seperti. Budaya Jawa (Yogyakarta), dan budaya Religius (Bali)

Untuk dapat meniru kedua daerah tersebut agak sedikit susah. Karena membutuhkan pondasi yang kuat untuk membangun kultur yang dimaksud. Hanya pondasi instan yang bisa dijadikan sedikit solusi bagi daerah lain. Sebagai motivator pembangkit unsur-unsur lokal genius di daerah-daerah. Tentu saja motiv tersebut bermuatkan ekonomi.

Oleh karena itulah, Escaperz berpendapat bahwa. Cara paling ampuuh untuk membangun kembali sejarah yang terkubur itu adalah. Dengan menumbuhkan jiwa kreatif, inovatif, dan entrepreneurship, dalam masyarakat dan pebisnis industri pariwisata.

Apabila semua hal itu benar-benar terjadi. Escaperz pun bisa membayangkan. Suatu saat makna wisata sejarah di Indonesia. Tak lagi melulu tentang mengunjungi Museum. Namun akan sama mengasyikkan, seperti mengunjungi Taman Safari, Dufan, atau Destinasi Wisata yang lain. Sudah saatnya untuk mengembangkan potensi wisata sejarah dan industri kreatif bangsa ini.

Image Source:
http://panyutro.blogspot.com
http://pariwisata.jogjakota.go.id
www.yogyes.com

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

berlangganan

Total Tayangan Laman

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © ESCAPE - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -