Widgets

Posted by : Lalu Ahmad Hamdani Minggu, 21 April 2013


Perjalanan panjang mencari Sirah Kencong dimulai dengan berkumpul bersama tim ekspedisi pada tanggal 12 April 2013 yang lalu. Di gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, ditemani gerimis yang rinai. Kami berkumpul dan memantapkan hati bersama untuk melakukan perjalanan menyambangi gunung Butak melewati jalur Sirah Kencong sebagai awal perjalanan sebagaimana kesepakatan bersama beberapa hari yang lalu sebelum pendakian.

Saya memasrahkan segalanya kepada anggota tim yang lain untuk mencari informasi jalur. Berbekal pengalaman mendaki bersama dalam mencari jalur menuju puncak Arjuno-Welirang beberapa waktu lalu, kali ini saya hanya ingin menjadi peserta saja, tanpa harus memikirkan persiapan pra pendakian yang lumayan menguras pikiran. Ada tertinggal rasa malas dalam diri, karena tenaga belum terlalu pulih dari pendakian berat ke puncak Arjuno-Welirang beberapa minggu yang lalu, sehingga saya pasrah menjadi buntut di dalam ekspedisi kali ini, yang siap mengekor kepada tim kemana saja.

Magrib sudah lama berlalu. Rintisan gerimis membawa kami pergi melaju dengan sepeda motor mengarungi gelap malam ke arah Blitar, tepatnya ke kecamatan Wlingi untuk mengurus izin di kantor polisi setempat. Kabarnya, setelah beberapa saat yang lalu, ketika 3 orang pendaki ditemukan tewas, semua petualang harus melapor ke polsek Wlingi untuk didata dan memperoleh izin mendaki. Tak ada masalah bagi kami, karena memang prosedur-prosedur perizinan selalu kami patuhi sesuai ketentuan-ketentuan yang berlaku. Kami bukanlah spesies pendaki liar yang tidak tahu aturan. Sejak memasuki Wlingi sudah terlihat aura keangkuhan gunung Butak yang berdiri paling tinggi di antara deretan perbukitan di sekitarnya. Tubuh perkasanya diselumuti warna hitam pekat awan yang mengerikan. Suasana yang sedikit menggetarkan dan menciutkan nyali saya saat itu.

Mencari jejak keberadaan Sirah Kencong menjadi seni tersendiri. Malam itu mulai beranjak dewasa, dan Kami sudah tiba di desa Pasir setelah bertanya arah pada beberapa penduduk sepanjang jalan yang kami lalui. Sempat seorang petugas keamanan sebuah pabrik – yang waktu itu saya tidak perhatikan pabrik apa- sedikit mewanti-wanti kami agar mengurungkan niat mendaki dimusim hujan seperti ini.

“Sudah ada yang mati loh, ini bukan main-main. Saya sudah enam kali naik ke gunung butak, dan pernah sampai tembus ke air terjun coban Rondo.” Kata sang petugas ketus.

Kami hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Tapi saya yakin, setiap gundah dalam hati teman-teman memiliki perasaan yang sama seperti yang saya rasakan. Tidak mungkin untuk menyerah setelah sejauh ini. Perjalanan hampir 4 jam mencari sang Sirah Kencong di Pedalaman Kabupaten Blitar sudah tidak bisa ditawar lagi. Setelah menitipkan pesan hati-hati, dan memberi arah menuju ke Sirah Kencong. Sang petugas keamanan yang sedikit jengkel dengan kami itu, kami beri ucapan banyak terima kasih, karena sudah mengingatkan kami.

Setiap perjalanan, apalagi ke alam liar selalu mengandung resiko besar. Pendakian ketika musim hujan memang mengandung resiko jauh lebih besar daripada musim kemarau. Longsor, terpeleset, hipotermia, adalah hantu yang selalu membuat takut setiap anak manusia di dalam gelap hutan rimba. Namun pendakian di musim kemarau bukan berarti selalu aman. Tidak pernah bisa dipastikan musim-musim yang terjadi di gunung-gunung seperti itu. Hawa dingin pun menjadi semakin memuncak kala musim kemarau tiba. Kesimpulannya, mendaki dimusim hujan maupun kemarau memiliki resiko yang hampir sama besarnya. Walau secara nalar dan statistik menunjukkan, bahwa mendaki saat musim kemarau lebih aman, daripada ketika mendaki saat musim hujan berlangsung.

Menjelang tengah malam, setelah melewati dua buah pertigaan yang hening dan gelap. Kami tiba di jalanan rusak parah tak beraspal yang disebut-sebut beberapa penduduk –yang menjadi sumber informasi kami temui- sebagai jalan menuju Sirah Kencong tersebut. Dalam gelap malam, kami merambat naik perlahan menggunakan sepeda motor menyusuri jalanan yang didominasi oleh batu-batu kerikil dan bongkahan aspal yang telah lama hancur tak terurus. Di kiri dan kanan, saya memperhatikan bahwa jalur ini adalah sebuah perkebunan cantik. Kebun milik masyrakat yang ditanami oleh pohon buah-buahan seperti kelengkeng, rambutan, kopi, dan segala jenis buah-buahan sertap pohon damar. Kunang-kunang pun menari memainkan cahayanya, semakin membawa saya dalam sentimental aneh yang terus mengusik sanubari. Beberapa pengendara yang sempat kami temui semakin meyakinkan kami bahwa kami di jalur yang benar menuju Sirah Kencong walau sempat tidak yakin, karena menemui beberapa persimpangan-persimpangan yang menyesatkan. Jalan yang sulit memaksa kami yang membonceng dibelakang, kerap kali turun untuk mempermudah sepeda motor melaju menaiki jalan menanjak yang berbatu. Salah satu sepeda motor teman saya pun sempat ngambek selama beberapa waktu. Beruntung sepeda motornya tidak terlalu lama merengek, hingga akhirnya mau berkompromi untuk melanjutkan perjalanan ini.

Suasana tengah malam di tengah perkebunan lebat yang sunyi kami dapati di desa perbatasan. Setelah sedikit berdiskusi akhirnya kami melanjutkan perjalanan, setelah akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke desa perbatasan tersebut, karena jalan yang kami temui di ujung mengalami percabangan. Kami takut tersesat, walau gunung butak begitu perkasa di hadapan kami sebagai patokan arah.

Di sebuah mushola sederhana, di desa yang kami tidak tahu namanya, kami beristirahat malam itu –kalau tidak ingin disebut menjelang subuh-. Di mushola tersebut, kami mulai menyusun kembali segala sesuatunya. Ada sedikit keraguan dalam diri saya tentang rencana ekspedisi kali ini, yang begitu janggal dirasakan. Insting saya merasakan, kurang mantapnya persiapan, dan informasi yang dibutuhkan mengenai jalur pendakian kali ini. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada ketua kelompok. Saya mengusulkan untuk mengganti komando pendakian dari Rizki ke kedua seniornya Kurniawan, atau Muklis agar keputusan benar-benar diambil dengan tegas, mengingat ketegasan Rizki sebagai ketua hampir belum bisa dibuktikan selama perjalanan.

Saya dan Muklis menunggu hingga larut malam untuk membahas rencana lebih lanjut, dan berharap malam ini juga bisa ada kepastian tentang lokasi tempat kita menginap saat ini. Apakah ini Sirah Kencong, atau desa yang lain sebelum Sirah Kencong. Tak perlu menunggu mentari terbit. Secercah cahaya dari gubuk yang berada di seberang Mushola tiba-tiba mengusik kami. Kami pun bergegas menuju lentera malam yang ternyata adalah senter dari seorang nenek sepuh penduduk yang ingin mengetahui ribut-ribut apa gerangan di luar rumahnya. Dengan sopan-santun khas jawa timuran kami bertanya kepada Si Mbah –yang kami lupa tanyakan namanya tersebut-.  Dari beliau, kami tahu bahwa jarak sirah kencong dari desa tersebut masih sekitar 8 kilo lagi. Jalur yang harus kami ambil setelah menemui persimpangan adalah jalanan menurun ke arah kanan. Alhamdulilah, setelah mengetahui pasti keberadaan tersebut, malam ini saya dan Mustofa bisa tidur nyenyak menyiapkan pagi menuju gunung Butak. Teman-teman Tim yang lain sudah lebih dulu meringkuk di Mushola berjejer seperti ikan asin di atas karpet.

Butak, 13 April 2013. Saya ingin memperkenalkan anda sekalian dengan tokoh antagonis cerita kita kali ini. Ia bernama “Ketidak pastian”. Ia memberi kami keindahan diawal perjalanan dan dengan lihai menyeret kami ke dalam alam liar yang ganas dengan godaan keindahan tersebut. Semakin dalam dan semakin jauh kami menyeret kaki melangkah, ketidak pastian semakin sadis mencengkram kami dengan jemari tangannya yang berkuku tajam. Tepat di rimbunnya pohon bunga edelweis di ketinggan lebih dari 2000 Mdpl. tim kami terkoyak-koyak di sebuah tanjakan tak berujung, jalur gunung butak yang liar. Saya dan Muklis berada puluhan langkah di depan tim yang sudah kehabisan tenaga dan semangat. Kami berhenti tidak jauh dari tim di belakang yang menyerah terduduk di gundukan tanah jalan setapak di antah berantah ini. Kami mendengar mereka bergumam, kesal, lelah, dan hancur dikoyak ketidak pastian. Ini seperti mengulang petualangan saya di pulau Sempu 2 tahun yang lalu. Beberapa orang menganggap saya cukup egois untuk membawa tim yang sudah terlalu lelah untuk terus merangkak mencapai puncak. Tapi sejujurnya saya tidak pernah berambisi mencapai puncak malam saat itu juga.

Hari sudah terlalu sore, dan kabut sudah turun sejak siang tadi. Puncak tak pernah terlihat selama perjalanan, ini menurunkan motivasi tim, dan semakin menjerumuskan mereka dalam perangkap sang ketidak pastian yang saya ceritakan itu. Saya berusaha mencari jalan keluar dari perangkapnya. Saya pun berharap menemukan dataran yang lebih aman untuk tempat mendirikan tenda ketika malam menjelang, karena saya merasakan sendiri aura mental yang keluar dari masing-masing individu yang sudah diperas keluar sampai tetes terakhir. Tidak mungkin bagi mereka terus memaksakan diri berjalan menggapai puncak gunung butak dalam kondisi seperti sekarang ini. Namun sumber air yang kami tahu keberadaanya, hanya terdapat di balik puncak gunung butak itu. Sumber air yang lain yang disebutkan di dalam salah satu sumber literature yang menjadi pegangan, tidak pernah kami temukan. Lahan yang cukup baik untuk tempat mendirikan tenda sudah terlalu jauh kami lewati siang tadi. Hanya ada lereng punggungan gunung yang kami dapati, dan pohon-pohon pinus yang tumbang menyiarkan kabar bahwa cukup berbahaya tempat ini jika diterjang angin yang mengamuk.

Saya melakukan tindakan darurat, setelah mendengarkan pertimbangan Muklis. Saya mengintruksikan tim untuk turun mencari tempat yang cukup datar untuk mendirikan tenda, dan air harus diatur setelahnya. 15 menit dari titik ketegangan tersebut, kamipun sampai pada lahan yang cukup untuk mendirikan tenda kami walau kontur yang sedikit miring dan tepat di sisi jurang. Tidak ada pilihan sebaik keputusan mendirikan tenda di tempat itu saat ini. Malam mulai menjelang, matahari telah condong ke barat. Setelah mendirikan tenda, air kami kumpulkan agar tidak disia-siakan oleh tim. Kami mengisi platipus (Wadah Air) hingga hampir penuh dan mengatur sisanya untuk keperluan makan malam. Dalam carut-marut kondisi saat itu, kabut tebal mulai tersingkap, dan pucuk gunung yang didaki pun terlihat jelas. spekulasi terjadi di dalam tenda. Benar dugaan saya, bahwa managemen pendakian dirancang sangat minim info. Hanya karena jalur tersebut adalah jalur terpendek, dan paling bersahabat menurut BLOG yang dibaca Rizki, tim memutuskan jalur tersebut sebagai titik awal pendakian. Sebenarnya ada banyak jalur menuju Butak yang kami tahu, dan informasi mengenai jalur yang lain lebih detail dari jalur yang kami tapaki kali ini. Hanya saja kami terlalu meremehkan alam. Mengetahui ketinggian gunung Butak yang tidak sampai 3000 Mdpl, dan akumulasi dari rasa bangga menggapai Arjuno-Welirang beberapa waktu lalu. Kami dihajar telak oleh gunung Butak yang perkasa.

Keadaan semakin mencekam, suara angin mulai menderu mengancam. Dalam diri ini saya begitu takut, karena menyadari begitu tidak aman berada di lereng ini saat ini. Satu batang saja pohon tumbang maka kami akan menjadi korban yang siap diangkut turun. Parahnya hujan di kejauhan mulai memberi tanda melalui kilatan petir yang menyambar-nyambar, seakan siap mencambuk apa saja di bawah kolong langit. Sebisa mungkin kami terus mengingat tuhan. Berharap dalam doa-doa kami agar selamat dari ancaman keganasan alam yang menunjukkan taringnya saat itu.

Pagi hari, di tanggal 14 April 2013. Sesuai kesepakatan semalam, tim memupuskan niat untuk menggapai puncak gunung Butak. Setelah melewati malam yang cukup mencekam, kami lega, kehawatiran yang kami pikirkan tidak sampai benar-benar terjadi. Dalam hati kami bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dalam perjalanan turun ke Sirah Kencong pagi itu. Pagi yang segar, dengan semburat merah merona di ufuk timur yang indah menyongsong kepergian sebuah tim yang menyerah kalah. Begitu kecewa sebenarnya kegagalan yang saya rasakan. Kegagalan menyaksikan keindahan matahari menyembul di balik awan. Padahal di tempat kami terpaku saat itu pemandangan sunrise di balik gunung begitu indahnya. Bayaran yang pantas didapatkan karena kami memang belum siap untuk menggapai puncak Butak. Alam hanya bias menyindir kami lewat keindahannya yang memancar, seperti mengejek kami.

Tapi melihat semangat, fisik, dan jarak tempuh. Pilihan terbaik saat ini adalah turun dan mundur perlahan. Kali ini logika kami bisa mengalahkan perangkap ketidak pastian. Jalur menanjak yang terjal tanpa akhir kemarin, kini kami turuni secara perlahan selangkah demi selangkah. Tanda yang kami berikan sepanjang perjalanan adalah penuntun kami untuk kembali pulang. Sampah pendaki terdahulu masih berceceran di beberapa tempat. Ini memberikan sedikit kepastian bahwa jalur kami mungkin benar. Sedang puncak pun terlihat jelas. tapi tanjakan tak berujung dan kelabilan satu tim memaksa kami mengurung ego pribadi masing-masing. Di sepanjang jalur pun yang katanya terdapat sumber air, ternyata tidak ditemukan sumber air. Mengingat sisa air yang kami bawa, kami seperti bertaruh nyawa dalam pendakian kali ini.

Menapaki napak tilas perjalanan kami kemarin seperti menelusuri jalur menurun yang kami lakukan saat ini. Jalan setapak dengan tanjakan tiada akhir, dikedua sisinya menganga jurang lebar yang dalam. Beberapa pohon pinus tumbang di jalur ini. Entah sejak kapan. Hanya saja hal itu menandakan bahwa angin badai begitu ganasnya di gunung Butak. Jalan menurun memasuki gerbang hutan hujan tropis yang banyak lintah bertebaran di dasar tanahnya yang lembab. Perjalanan yang kemarin sangat menyenangkan karena begitu jarang kami melewati hutan hujan tropis yang masih perawan dan begitu lebatnya. Setelah 5 jam perjalanan turun kami tiba di bibir hutan yang berbatasan langsung dengan perkebunan teh Afdeling (wilayah) Sirah Kencong. Sirah Kencong yang kami kira adalah nama sebuah desa, ternyata adalah sebuah perkebunan Teh yang dikelola PTPN, memiliki panorama indah dataran tinggi berwarna hijau yang luas dengan background gunung kelud yang menjulang kebiruan di hari yang cerah. Sungguh panorama yang menyegarkan.

Sesampainya di pos Sirah Kencong, kami berbagi pengalaman dengan pihak security pabrik di sana. Melalui informasi dari orang lokal seperti beliau, saya yakin jalur itu memang jalur satu-satunya menuju puncak, hanya info yang kami dapatkan sebelum pendakian terlalu sedikit dan tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

Info.
Gunung Butak Jalur Sirah Kencong

1.      Sirah Kencong, adalah Afdeling (Wilayah perkebunan Teh) yang dikelola PTPN, terletak di kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. setelah mencapai daerah Wlingi, tanyakan arah menuju daerah ini. Saya tidak merekomendasikan melalui desa Pasir karena track yang sangat berat. Cobalah melalui desa Sengon. jangan lupa melapor dan meminta izin ke polsek Wlingi.

2.      Setelah memasuki perkebunan Sirah Kencong, anda bisa menitipkan kendaraan di area parkir dengan tarif Rp. 2000/hari untuk satu sepeda motor.

3.      Persiapkan air yang cukup karena air tidak terdapat di sepanjang jalur pendakian. Air terdapat di daerah Sendang, menurut info, sumber air ini terdapat setelah turun sejauh 30 menit perjalanan dari puncak. (info penduduk lokal)

4.      Tidak terdapat tanda di tiap pos, kecuali pos satu. Yang sangat tidak informatif dan sudah sulit untuk diidentifikasi.

5.      Tracking melalui jalur ini amat sangat menguras tenaga dan mental karena sangat terjal, dan saat siang hari menjelang, puncak mulai berkabut sehingga tidak terlihat.

6.      Persiapkan peta dan kompas. Dan saya harap anda mengetahui basic dari navigasi darat.

7.      Perjalanan sangat relatif, sesuai kemampuan fisik pendaki. Tim kami berjalan selama hampir 9 jam untuk naik (tidak sampai puncak), dan butuh waktu 5 jam untuk turun.

8.      Selamat jalan dan semoga berhasil.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

berlangganan

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © ESCAPE - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -