How To : Solo Back Packing ke Baduy Dalam Part 1#
Tekadku sudah bulat sejak awal. Dengan ataupun tanpa
partner, aku akan berangkat ke Baduy, kalau bisa sampai Baduy Dalam. Aku
sudah mengantongi nama Sapri Armani dari seorang sahabat lama yang
cukup sering berkunjung ke Baduy Dalam. Tiga hari libur sudah cukup
untuk kabur dari Jakarta. Aku ingin sendiri, bertemu orang-orang baru,
dan memandang bintang di langit bersih kala malam menjelang. Hanya itu
saja, tidak lebih.
Sumber: Wisata Halimun. Ilustrasi orang suku Baduy Dalam
Sumber: Wisata Halimun. Ilustrasi orang suku Baduy Dalam
Dari stasiun kereta api Palmerah, aku memulai perjalanan ke
Rangkas Bitung. Tiketnya hanya lima ribu rupiah. Berangkat pukul
sepuluh pagi dan tiba kurang lebih jam setengah satu siang nanti di
Stasiun Rangkas.
Kawanku undur diri dari perjalanan ini. Aku tak terkejut akan hal itu. Banyak yang berkeinginan untuk
berkelana, tapi sedikit saja yang berhasil mewujudkannya. Lagipula aku
selalu menyukai solo traveling, karena lebih fleksibel dan dirimu hanya
akan bertanggung jawab atas diri sendiri selama perjalanan.
Semakin kereta melaju meninggalkan Jakarta, semakin
bergemuruh jiwa petualanganku. Apalagi KA lokal menuju Rangkas Bitung
ini mengingatkan pada kereta ekonomi zaman "bar-bar". Semua bisa naik,
tapi tak semuanya bisa duduk. Hanya saja pedagang asongannya tak seperti
dulu lagi. Mereka tak menggendong lagi asongannya kedalaman kereta.
Para pengais rezeki itu menawarkan minuman, tahu, salak, lontong, dan
jeruk dari balik tas ransel dan kantung plastik.
Tiba di Rangkas Bitung, pejalan akan disambut terminal dan
pasar di luar stasiun. Aku lapar dan menemukan warung nasi di ujung
terminal. Ah, aku lupa nama warungnya, namun ramai, masakanya enak,
harga terjangkau dan kasirnya cantik berhijab, memancarkan kecantikan khas wanita Sunda. Bisa
jadi ia adalah si pemilik warung itu sendiri atau anak gadis pemilik warung, yang
pasti aku menikmatinya.
Dari pintu keluar stasiun, seharusnya aku mencari angkutan
kota ke terminal Aweh. Suzuki Cerry merah bernomor tujuh yang tak
kunjung hadir. Takut kesorean akhirnya aku memutuskan naik ojek ke
Terminal Aweh. Celakanya, ternyata aku salah mengambil tempat nongkrong.
Angkot nomor nomor tujuh ternyata ada di ujung pasar. Kalau keluar dari
stasiun, aku hany butuh berjalan terus melipir ke arah utara sampai bertemu perempatan. Di situ "si
nomor" tujuh nongkrong bergerombol menanti penumpang.
Sialnya aku sudah duduk di jok ojek dengan harga yang
ditawarkan tiga kali lipat harga angkot yang sebenarnya hanya lima ribu
rupiah saja. Cukup menyebalkan, karena orang lokal yang dimintai
keterangan tidak membantu sama sekali. Bahkan terlalu banyak orang
Rangkas yang tidak pernah ke Baduy sehingga tidak paham akses menuju ke
sana selain menyewa Elf untuk rombongan. Melihatku berani-beraninya sendirian tanpa teman menuju ke Baduy Dalam pun membuat mereka cukup resah.
Ojek membisikkan padaku untuk terus saja mengantarkan
sampai Ciboleger. No! kali ini cukup sekali saja aku miss. Terminal Aweh,
titik! Tanpa kompromi. Dapat elf ke Ciboleger sore ini atau tidak, aku
masih bisa tidur di emperan. "Nawaitu" sudah bulat untuk solo backpacking. No
tipu-tipu anymore!
Dari terminal Aweh, ada saja ojek lain yang menawarkan jasa
untuk mengantar ke Ciboleger dengan harga berkali-kali lipat. Ditambah
hasutan yang mengatakan bahwa elf ke Ciboleger sudah habis mengantar
rombongan sejak pagi. Aku tidak peduli! dengan sopan aku beralasan, jika aku tidak kuat
kalau harus naik motor dua tiga jam. Kali ini aku menguji
kesabaran dan keberuntunganku sendiri. Demi Rp. 25,000 ongkos ke
Ciboleger menggunakan elf, berbanding ratusan ribu yang ditawarkan tukang
ojek setengah memaksa. Akhirnya tumpangan yang ditunggu tiba juga.
Ongkos bayar dimuka persis 25,000 perak, tidak kurang, tidak lebih.
Notes :
- Jakarta (Stasiun KA Palmerah) - Stasiun KA Rangkas Bitung : Rp. 5,000
- Ojek St. Rangkas Bitung - Terminal Aweh Rp. 15,000 (Angkot No. 7 hanya Rp. 5,000)
- Elf dari Terminal Aweh - Ciboleger Rp. 25,000
Sendirian ke Baduy Dalam, Part #2
September 2015, saya menulis perjalanan backpacker saya sendirian ke Baduy Dalam, desa Cibeo. Saat itu Agustus 2015. Saya hanya mengantungi nama, Sapri Armani dari Mbak Mira. Teman sesama traveler, sekaligus sahabat baik saya yang kerap berkunjung ke Cibeo.
Ilustrasi lumbung padi orang-orang suku Baduy
Sapri Armani adalah lelaki Baduy Dalam. Ia suka menampung pengunjung ke rumah orang tuanya, bapak Adi. Tentu waktu itu saya tidak akan bisa menghubungi Sapri Armani seperti halnya menghubungi manusia modern yang sudah mengenal ponsel.
Tentu saja, saya harus bertemu muka dengan pemuda ini. Dan sepanjang perjalanan Jakarta-Rangkas Bitung, saya mengulang-ulang menyebut namanya agar tertanam di benak saya.
Saya tiba di pemberhentian terakhir, Ciboleger, menjelang senja. Saya sendirian, hanya ada beberapa turis (domestik) yang ditemani guide bersiap untuk pulang setelah kunungan sepintas melihat Baduy Luar. Salah seorang guide lokal yang menemani rombongan turis itu mencoba bertanya pada saya, "Mau ke mana?"
Saya bagai orang yang biasa pergi ke Baduy Dalam saja, enteng saya menjawab, "Mau ke dalam, ketemu Sapri Armani," kata saya tak lupa memberi senyum.
Saya kemudian mampir ke warung, membeli beberapa kebutuhan rumah tangga yang sepertinya lupa saya lengkapi. Kalau tidak salah ingat waktu itu saya membeli beras, telur yang saya masukkan dalam beras, mie instant, dan minyak goreng.
Saya berangkat memanggul Deuter 20 liter saya yang kecil dan ringan. Saya tidak tahu pasti berapa jam harus saya habiskan untuk menuju Cibeo dan bertemu Sapri Armani yang misterius. 2015, saya masih cukup sehat dan cukup sering berkeliaran mendaki gunung. Saya masih cukup percaya diri dengan kemampuan saya waktu itu. Berbeda jauh dengan kenyataan yang saya hadapi hari ini (2017).
Kontur jalur dari satu desa Baduy Luar ke Baduy Luar yang lain berbukit-bukit. Tiap orang Baduy yang saya temui di jalan, saya tanyai. "Ke Cibeo kang?"
Mereka menjawab "iya terus,"
Mayoritas mereka tidak lancar berebahasa Indonesia. Mereka semua bicara bahasa sunda. Itu membuat mereka aneh, ada turis macam saya pergi sendirian di sore yang mendung menuju Cibeo.
Anak-anak Baduy Luar yang kebanyakan sudah pakai kaos modern, sama seperti anak-anak desa lain di pelosok negeri, memandangi saya seperti melihat alien. Ada rasa penasaran sekaligus khawatir nampaknya dari raut wajah mereka. Namun saya balas dengan senyuman. Nampaknya mereka melengos. Waktu itu saya pikir, mungkinkah mereka bukan penduduk yang ramah? Biasanya tiap kali saya tersenyum ke arah anak-anak kecil di pedesaan manapun, mereka akan tersipu malu-malu. Tapi di sini mereka bersikap lebih dingin.
Sampai akhirnya hujan menghentikan langkahku. Aku harus berteduh di sebuah lumbung padi. Sementara puluhan desa dan ladang sudah aku lewati, namun Cibeo belum juga terasa dekat. Peluh sudah bercucuran di sekujur tubuh. Hujan memberikan kesejukan. Aku lihat anak-anak laki-laki dan ayahnya-ayahnya mandi di pancuran. Telanjang bulat tanpa sepotong kain pun melekat.
Saya tersenyum, dan saat itulah ide untuk mandi pun terbersit. Tidak saya sangka, bersosialiasisi dengan cara seperti ini efektif juga. Kami mandi menjadi manusia seutuhnya, tapi saya masih agak malu-malu memperlihatkan kepolosan. Kemudian berinisiatif dengan hanya menggunakan celana dalam saja.
Sang ayah tidak bisa berbahasa Indonesia. Hanya sepatah dua patah kata saja yang bisa ia kuasai. Tapi ia orang yang baik. Kendati wajah dan suaranya tegas. Hujan makin deras, tidak mungkin saya kembali berjalan. Saya pun bermalam di Baduy Luar. Beruntung saya menemukan teman baru. Meski komunikasi kami terbatas.
Ia menawari saya menginap di rumahnya. Dalam bahasa sunda yang tidak saya mengerti, namun gerak tubuhnya menunjukkan penawaran tersebut. Baiklah.
Saya pun bermalam di rumahnya. Benar saja, malam segera menyergap pedukuhan di tengah belantara ini. sekitar pukul setengah tujuh, gulita sudah pekat di sini.
Sesungguhnya, si Ayah mencoba hangat kepada saya. Sementara istrinya menyalakan penerangan dari lampu minyak. Di desa ini tidak ada listrik. Nasi bercampur singkong disuguhkan sebagai sajian makan malam. Lauknya mie rebus dan ikan asin, itu saja. Sementara ibu dan anak laki-lakinya makan hanya mie instan saja.
Saya tidak tahu, apakah ini adalah sajian sehari-hari, atau karena ada orang asing yang menginap, mereka menyuguhkan makanan terbaik yang mereka punya?
Saya mencari isi ransel. Sebagian sembako yang niatnya untuk Sapri Armani saya berikan ke sang ibu. Mereka menerimanya tanpa ragu. Sementara di pojok ruangan beralas dipan kayu, saya melihat anak kecil. Kurus kering, kekurangan gizi, dan hanya bisa tergolek lemah. Menagis pun tidak. Saya hampir berteriak, karena tidak menyadari keberadaannya.
Saya tanyakan itu siapa? Sang Ayah bilang, "Oh, anak." katanya. Kemudian melanjutkan keterangannya dalam bahasa sunda. Saya mencerna keterangannya setengah mati.
Malam itu, saya tidur dijejali banyak pikiran. Hati saya sembilu rasanya menyaksikan ketidak berdayaan orang tua itu menghadapi cobaan, anaknya sakit keras. Sementara saya, manusia yang menggap diri modern ini, tidak melakukan apa-apa demi menyelamatkan sang anak. Semua pun perlahan menjadi gelap.
Ilustrasi lumbung padi orang-orang suku Baduy
Sapri Armani adalah lelaki Baduy Dalam. Ia suka menampung pengunjung ke rumah orang tuanya, bapak Adi. Tentu waktu itu saya tidak akan bisa menghubungi Sapri Armani seperti halnya menghubungi manusia modern yang sudah mengenal ponsel.
Tentu saja, saya harus bertemu muka dengan pemuda ini. Dan sepanjang perjalanan Jakarta-Rangkas Bitung, saya mengulang-ulang menyebut namanya agar tertanam di benak saya.
Saya tiba di pemberhentian terakhir, Ciboleger, menjelang senja. Saya sendirian, hanya ada beberapa turis (domestik) yang ditemani guide bersiap untuk pulang setelah kunungan sepintas melihat Baduy Luar. Salah seorang guide lokal yang menemani rombongan turis itu mencoba bertanya pada saya, "Mau ke mana?"
Saya bagai orang yang biasa pergi ke Baduy Dalam saja, enteng saya menjawab, "Mau ke dalam, ketemu Sapri Armani," kata saya tak lupa memberi senyum.
Saya kemudian mampir ke warung, membeli beberapa kebutuhan rumah tangga yang sepertinya lupa saya lengkapi. Kalau tidak salah ingat waktu itu saya membeli beras, telur yang saya masukkan dalam beras, mie instant, dan minyak goreng.
Saya berangkat memanggul Deuter 20 liter saya yang kecil dan ringan. Saya tidak tahu pasti berapa jam harus saya habiskan untuk menuju Cibeo dan bertemu Sapri Armani yang misterius. 2015, saya masih cukup sehat dan cukup sering berkeliaran mendaki gunung. Saya masih cukup percaya diri dengan kemampuan saya waktu itu. Berbeda jauh dengan kenyataan yang saya hadapi hari ini (2017).
Kontur jalur dari satu desa Baduy Luar ke Baduy Luar yang lain berbukit-bukit. Tiap orang Baduy yang saya temui di jalan, saya tanyai. "Ke Cibeo kang?"
Mereka menjawab "iya terus,"
Mayoritas mereka tidak lancar berebahasa Indonesia. Mereka semua bicara bahasa sunda. Itu membuat mereka aneh, ada turis macam saya pergi sendirian di sore yang mendung menuju Cibeo.
Anak-anak Baduy Luar yang kebanyakan sudah pakai kaos modern, sama seperti anak-anak desa lain di pelosok negeri, memandangi saya seperti melihat alien. Ada rasa penasaran sekaligus khawatir nampaknya dari raut wajah mereka. Namun saya balas dengan senyuman. Nampaknya mereka melengos. Waktu itu saya pikir, mungkinkah mereka bukan penduduk yang ramah? Biasanya tiap kali saya tersenyum ke arah anak-anak kecil di pedesaan manapun, mereka akan tersipu malu-malu. Tapi di sini mereka bersikap lebih dingin.
Sampai akhirnya hujan menghentikan langkahku. Aku harus berteduh di sebuah lumbung padi. Sementara puluhan desa dan ladang sudah aku lewati, namun Cibeo belum juga terasa dekat. Peluh sudah bercucuran di sekujur tubuh. Hujan memberikan kesejukan. Aku lihat anak-anak laki-laki dan ayahnya-ayahnya mandi di pancuran. Telanjang bulat tanpa sepotong kain pun melekat.
Saya tersenyum, dan saat itulah ide untuk mandi pun terbersit. Tidak saya sangka, bersosialiasisi dengan cara seperti ini efektif juga. Kami mandi menjadi manusia seutuhnya, tapi saya masih agak malu-malu memperlihatkan kepolosan. Kemudian berinisiatif dengan hanya menggunakan celana dalam saja.
Sang ayah tidak bisa berbahasa Indonesia. Hanya sepatah dua patah kata saja yang bisa ia kuasai. Tapi ia orang yang baik. Kendati wajah dan suaranya tegas. Hujan makin deras, tidak mungkin saya kembali berjalan. Saya pun bermalam di Baduy Luar. Beruntung saya menemukan teman baru. Meski komunikasi kami terbatas.
Ia menawari saya menginap di rumahnya. Dalam bahasa sunda yang tidak saya mengerti, namun gerak tubuhnya menunjukkan penawaran tersebut. Baiklah.
Saya pun bermalam di rumahnya. Benar saja, malam segera menyergap pedukuhan di tengah belantara ini. sekitar pukul setengah tujuh, gulita sudah pekat di sini.
Sesungguhnya, si Ayah mencoba hangat kepada saya. Sementara istrinya menyalakan penerangan dari lampu minyak. Di desa ini tidak ada listrik. Nasi bercampur singkong disuguhkan sebagai sajian makan malam. Lauknya mie rebus dan ikan asin, itu saja. Sementara ibu dan anak laki-lakinya makan hanya mie instan saja.
Saya tidak tahu, apakah ini adalah sajian sehari-hari, atau karena ada orang asing yang menginap, mereka menyuguhkan makanan terbaik yang mereka punya?
Saya mencari isi ransel. Sebagian sembako yang niatnya untuk Sapri Armani saya berikan ke sang ibu. Mereka menerimanya tanpa ragu. Sementara di pojok ruangan beralas dipan kayu, saya melihat anak kecil. Kurus kering, kekurangan gizi, dan hanya bisa tergolek lemah. Menagis pun tidak. Saya hampir berteriak, karena tidak menyadari keberadaannya.
Saya tanyakan itu siapa? Sang Ayah bilang, "Oh, anak." katanya. Kemudian melanjutkan keterangannya dalam bahasa sunda. Saya mencerna keterangannya setengah mati.
Malam itu, saya tidur dijejali banyak pikiran. Hati saya sembilu rasanya menyaksikan ketidak berdayaan orang tua itu menghadapi cobaan, anaknya sakit keras. Sementara saya, manusia yang menggap diri modern ini, tidak melakukan apa-apa demi menyelamatkan sang anak. Semua pun perlahan menjadi gelap.
Posted by
Unknown
Memahami Baduy Dalam
Pengalaman saya solo backpacking ke Baduy Dalam, seolah tak habis diuraikan dalam dua-tiga seri tulisan. Tak akan cukup mendeskripsikan kebaikan Sapri Armani, Bapak Ardi, Istri dan anak cucunya yang begitu banyak. Bahkan mungkin butuh satu seri ekstra untuk menceritakan beberapa jam perjalananku dengan Sanip muda yang pendiam.
sumber : wacan.co
sumber : wacan.co
Dengan Sanip, aku jadi paham sedikit aturan-aturan adat suku Baduy Dalam yang terkadang diluar nalar kosmopolis-ku. Di luar logika peradaban urban.
30 desa Baduy Luar plus 3 desa Baduy Dalam bukan sekedar kerumunan komunitas yang cuma mempertahankan kearifan arsitektur masa lalu. Tak pula sekedar kerumunan komunitas yang mengolah tanah ulayat untuk bertahan hidup dengan bercocok tanam semata.
Ada sesuatu yang membuatku berjanji untuk kembali lagi ke Cibeo, desa Baduy Dalam tempat aku menginap dan mengenal mereka semua, Armani, Bapak Ardi, Sanip, dan nama-nama lain yang terlupa.
Kupikir, kerinduan untuk kembali ke Cibeo, karena satu alasan. Kesederhanaan. Itu yang dibutuhkan olehku dan orang-orang yang memutuskan pergi mencari kehidupan baru. Kesederhanaan yang tidak lagi bisa aku rasakan di Jakarta.
Gaya hidup urban yang kompleks telah menjejaliku bertahun-tahun belakangan ini. Mungkin sampai-sampai telah mengikis rasa kemanusiaan dan mengelabui caraku memandang arti hidup. Aku memang merasa mulai materialistis akhir-akhir ini, dan konsumtif.
Di Baduy Dalam, semua hal kompleks sooal hidup bisa menjadi begitu sederhana. Bagi orang luar yang berpikiran sempit, mungkin fanatisme mereka terhadap adat, akan bergesekan dengan logika juga alam demokrasi yang selama ini orang kota agungkan. Namun sebenarnya, kekolotan mereka adalah sistem yang menjaga mereka untuk tetap menjadi Baduy Dalam. Murni!
Jadi saran saya, bila Anda berkunjung ke Baduy Dalam nanti, jadilah pengamat dan nikmati cara mereka memandang dunia. Mereka sudah cukup demokratis untuk membuka diri terhadap pengunjung luar. Padahal, sebagai suku yang cukup konservatif, frikisi ini berdampak bagi sosiologi dan kultur mereka.
Banyak anak muda Baduy Dalam yang akhirnya memilih keluar dari Cibeo, karena tergiur kapitalisme yang lebih mudah mereka dapatkan tanpa harus terjerat adat yang ketat. Ekonomi memang menjadi alsan, kenapa akhirnya lebih banyak kampung-kampung Baduy Luar dan makin sedikit penduduk Baduy Dalam. Tentu yang paling cepat terpengaruh oleh ekonomi ini adalah anak muda. Namun disadari atau tidak, anak muda Baduy Dalam adalah tulang punggung. Rantai generasi yang tidak boleh putus. Bayangkan bila smeua anak muda seperti Armani keluar dari Baduy Dalam. Lama-lama tidak ada Baduy Dalam murni dalam satu dekade ke depan. Karena akan putus di generasi tua.
Sistem politik dan sosial
Keluarga merupakan pondasi terkokoh yang menopang sistem pemerintahan Baduy Dalam. Landasan ideologi adalah, "kemanusiaan yang adil dan beradab,". Implementasinya terukir dalam sistem kekeluargaan yang kental, meski memang masih partiarkal dan feodal.
Banyak aturan masyarakat Baduy yang saya tanyakan kepada Sanip, yang ia jawab sebagai kepatuhan tanpa kenal perdebatan. "Tidak boleh, ya sudah adat," begitu katanya.
Peradaban Baduy Dalam harus Anda lihat sekali-sekali. Setidaknya untuk memasukkan perspektif baru dalam memandang hidup (insight).- Bagi mereka yang ingin mereguk pelajaran dari pengalaman, terutama lewat sebuah petualangan -
Posted by
Unknown
Healing Me!
Beberapa lagu manis yang terdengar dari balik headset, suasana sore yang hangat di luar jendela kaca. Oh ya, ada angin menggoyangkan ranting pohon. Walau sejuk ruangan yang kutempati kali ini berasal dari alat pendingin ruangan. Itu semua menjadi pendukung tulisan kali ini.
Aku hanya sekedar ingin menulis cerita perjalanan terakhirku mendaki gunung beberapa waktu lalu. Aku tidak kehilangan semangat waktu mendaki Papandayaan waktu itu. Aku ingat betapa bersemangatya aku ketika melihat pemandangan, merasakan lelah, tertawa dan bertemu dengan kawan-kawan pendaki lain di tengah hutan.
Tapi ada sesuatu yang kurasa hilang kali ini. Ada sesuatu yang terasa menyangkut. Kurasa tepat menyelinap di rongga dada.
Aku pikir awalnya aku kehilangan motivasi untuk menulis lagi di blog ini. Tidak, ternyata aku telah sakit dari dulu. Sakit yang sulit disembuhkan dan telah cukup kronis.
Walau memendam, walau tidak mau jujur, walau munafik. Dalam hati sejujurnya aku merasa kesal. Karena tahu hanya akan menulis mengenai perjalanan menuju satu puncak gunung. Satu puncak yang membasuh dahagaku akan petualangan setelah berbulan lamanya dibekap kesibukan yang lain. Satu puncak yang membutuhkan dua hari saja untuk mencapainya. Satu puncak yang menyisakan cerita dan menggodaku untuk menikmati perjalanan yang lainnya, yang lebih jauh, yang lebih bergetar, yang lebih luar biasa.
Pada dasarnya, inilah penyakit setiap pejalan. Oh! mungkin juga telah menjadi naluri dasar manusia. Mencoba mencari tahu apa yang ada di balik kabut. Mencoba memeras kemampuan diri sendiri hingga titik nadir. Berjalan lebih jauh lagi.
Ah! Sepertinya aku menginginkan satu petualangan besar, agar jari-jari tanganku mau menulis lebih banyak lagi. Lebih dari beberapa paragraf yang kini berakhir di titik ini.
Aku hanya sekedar ingin menulis cerita perjalanan terakhirku mendaki gunung beberapa waktu lalu. Aku tidak kehilangan semangat waktu mendaki Papandayaan waktu itu. Aku ingat betapa bersemangatya aku ketika melihat pemandangan, merasakan lelah, tertawa dan bertemu dengan kawan-kawan pendaki lain di tengah hutan.
Tapi ada sesuatu yang kurasa hilang kali ini. Ada sesuatu yang terasa menyangkut. Kurasa tepat menyelinap di rongga dada.
Aku pikir awalnya aku kehilangan motivasi untuk menulis lagi di blog ini. Tidak, ternyata aku telah sakit dari dulu. Sakit yang sulit disembuhkan dan telah cukup kronis.
Walau memendam, walau tidak mau jujur, walau munafik. Dalam hati sejujurnya aku merasa kesal. Karena tahu hanya akan menulis mengenai perjalanan menuju satu puncak gunung. Satu puncak yang membasuh dahagaku akan petualangan setelah berbulan lamanya dibekap kesibukan yang lain. Satu puncak yang membutuhkan dua hari saja untuk mencapainya. Satu puncak yang menyisakan cerita dan menggodaku untuk menikmati perjalanan yang lainnya, yang lebih jauh, yang lebih bergetar, yang lebih luar biasa.
Pada dasarnya, inilah penyakit setiap pejalan. Oh! mungkin juga telah menjadi naluri dasar manusia. Mencoba mencari tahu apa yang ada di balik kabut. Mencoba memeras kemampuan diri sendiri hingga titik nadir. Berjalan lebih jauh lagi.
Ah! Sepertinya aku menginginkan satu petualangan besar, agar jari-jari tanganku mau menulis lebih banyak lagi. Lebih dari beberapa paragraf yang kini berakhir di titik ini.
Minggu, 17 Mei 2015
Posted by
Unknown
Sebuah Kisah Petualangan Di Gunung Prau
(Published&Edited:Indonesiakaya.com)
Akbar, Joko, Jane, Lida, Prama, Septi dan Yeni tak sabar lagi menunggu hujan reda. Sedari tiba di Dieng, tepatnya di Desa Patak Banteng, hujan memang tak henti menerpa. Akan tetapi niat sudah dipatri dari jauh-jauh hari dan ketika cuaca mereka rasa sudah cukup aman, ketujuh pendaki itu siap menjajal tanjakan menuju puncak Prau. Sayang rasanya jika pendakian kali ini gagal, sebab sudah jauh-jauh hari mereka berencana ke Jawa Tengah, apalagi mereka datang dari Jakarta, Surabaya dan Malang. Sulit membayangkan untuk menyurutkan semangat bertualang mereka yang menyala-nyala kala itu.
Ketika hujan deras kian melemah menjadi gerimis dan perlahan sirna menyisakan mendung. Ketujuh orang tersebut bersama tim liputan indonesiakaya.com pun langsung bersiap-siap untuk memulai pendakian. Tak hanya kelompok Joko saja yang memulai petualangan pada pukul 15.00 WIB lewat sedikit itu, kelompok lain yang berasal dari Jakarta dan kota-kota lain pun turut berangkat saat cuaca mulai mendukung. Setelah melakukan registrasi di basecamp Patak Banteng dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 8,000 per kepala, mereka berdoa sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak setinggi 2565 meter dari permukaan laut tersebut.
Dataran Tinggi Dieng memang dikenal sebagai daerah pegunungan dan Gunung Prau merupakan satu dari sekian banyak puncak gunung di Dataran Tinggi Dieng yang kian menjadi primadona baru di antara para pendaki, pecinta alam dan petualang dari berbagai kota-kota besar khususnya di pulau Jawa. Beberapa pendaki dari Jakarta bahkan mengaku lebih memilih untuk mendaki Gunung Prau sebagai pengisi akhir pekan mereka, daripada ke Gunung Gede atau Gunung Pangrango yang notabene jaraknya lebih dekat dari ibu kota.
Di waktu akhir pekan, puluhan hingga ratusan pendaki rela jauh-jauh mengunjungi Gunung Prau yang tepat berada di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini. Puncak Gunung Prau sendiri menjanjikan panorama yang sedikit berbeda dari gunung-gunung yang lainnya. Dari sana, pendaki bisa menyaksikan bagaimana Dataran Tinggi Dieng diapit betul oleh deretan pegunungan seperti, Sindoro, Sumbing, Sikunir dan lain-lain. Satu hal yang lebih menarik lagi ialah, salah satu jalur menuju puncak Prau memang memiliki panorama layaknya deretan bukit di lembah Teletubbies.
Bagi Joko dan kawan-kawan, keindahan bukanlah tujuan utama yang mereka cari dari pendakian Prau kali ini. Keinginan yang kuat untuk mengembara dan menyambangi gunung baru merupakan alasan mereka melakukan pendakian kali ini. Petualangan mereka kali ini bisa dikatakan sebagai reuni sembari mengingat-ingat pertemuan pertama mereka di puncak Anjani, Gunung Rinjani, NTB, beberapa waktu silam. Saat itulah jalinan persahabatan mereka terjalin dan kisah semacam ini memang tak jarang terjadi di kalangan para pecinta petualangan.
Jalur Patak Banteng yang mereka pilih pun merupakan jalur singkat yang cukup menantang dengan kontur menanjak hampir tanpa jeda. Bagi Joko dan kawan-kawan, jalur yang terdiri dari tiga pos itu mengingatkan mereka pada pendakian-pendakian lain yang selama ini pernah mereka lakukan di gunung-gunung lain di Indonesia. Rutenya sendiri menawarkan beragam warna lingkungan mulai dari, petak-petak kebun sayur penduduk, hutan pinus hingga bukit-bukit savana yang semakin cantik dihiasi hamparan bunga-bunga daisy kecil-kecil.
Pendakian mereka pun terbilang cukup lancar dan sesuai dengan rencana awal. Tiga jam perjalanan dari basecamp Patak Banteng hingga ke puncak Prau dipenuhi canda dan tawa. Jalur menanjak dan liat pun sukses didaki hingga menuju puncak. Kekompakan tim pun diuji, apalagi separuh dari mereka merupakan pendaki wanita. Namun tak satupun anggota tim yang tertinggal dan semuanya selamat sampai tujuan walau sesekali sisa-sisa hujan dan gigitan kabut yang dingin menerpa sepanjang perjalanan. Letih dan peluh pun terbayarkan dengan segala cerita petualangan dan keindahan menuju Gunung Prau.
Akbar, Joko, Jane, Lida, Prama, Septi dan Yeni tak sabar lagi menunggu hujan reda. Sedari tiba di Dieng, tepatnya di Desa Patak Banteng, hujan memang tak henti menerpa. Akan tetapi niat sudah dipatri dari jauh-jauh hari dan ketika cuaca mereka rasa sudah cukup aman, ketujuh pendaki itu siap menjajal tanjakan menuju puncak Prau. Sayang rasanya jika pendakian kali ini gagal, sebab sudah jauh-jauh hari mereka berencana ke Jawa Tengah, apalagi mereka datang dari Jakarta, Surabaya dan Malang. Sulit membayangkan untuk menyurutkan semangat bertualang mereka yang menyala-nyala kala itu.
Ketika hujan deras kian melemah menjadi gerimis dan perlahan sirna menyisakan mendung. Ketujuh orang tersebut bersama tim liputan indonesiakaya.com pun langsung bersiap-siap untuk memulai pendakian. Tak hanya kelompok Joko saja yang memulai petualangan pada pukul 15.00 WIB lewat sedikit itu, kelompok lain yang berasal dari Jakarta dan kota-kota lain pun turut berangkat saat cuaca mulai mendukung. Setelah melakukan registrasi di basecamp Patak Banteng dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 8,000 per kepala, mereka berdoa sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak setinggi 2565 meter dari permukaan laut tersebut.
Dataran Tinggi Dieng memang dikenal sebagai daerah pegunungan dan Gunung Prau merupakan satu dari sekian banyak puncak gunung di Dataran Tinggi Dieng yang kian menjadi primadona baru di antara para pendaki, pecinta alam dan petualang dari berbagai kota-kota besar khususnya di pulau Jawa. Beberapa pendaki dari Jakarta bahkan mengaku lebih memilih untuk mendaki Gunung Prau sebagai pengisi akhir pekan mereka, daripada ke Gunung Gede atau Gunung Pangrango yang notabene jaraknya lebih dekat dari ibu kota.
Di waktu akhir pekan, puluhan hingga ratusan pendaki rela jauh-jauh mengunjungi Gunung Prau yang tepat berada di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini. Puncak Gunung Prau sendiri menjanjikan panorama yang sedikit berbeda dari gunung-gunung yang lainnya. Dari sana, pendaki bisa menyaksikan bagaimana Dataran Tinggi Dieng diapit betul oleh deretan pegunungan seperti, Sindoro, Sumbing, Sikunir dan lain-lain. Satu hal yang lebih menarik lagi ialah, salah satu jalur menuju puncak Prau memang memiliki panorama layaknya deretan bukit di lembah Teletubbies.
Bagi Joko dan kawan-kawan, keindahan bukanlah tujuan utama yang mereka cari dari pendakian Prau kali ini. Keinginan yang kuat untuk mengembara dan menyambangi gunung baru merupakan alasan mereka melakukan pendakian kali ini. Petualangan mereka kali ini bisa dikatakan sebagai reuni sembari mengingat-ingat pertemuan pertama mereka di puncak Anjani, Gunung Rinjani, NTB, beberapa waktu silam. Saat itulah jalinan persahabatan mereka terjalin dan kisah semacam ini memang tak jarang terjadi di kalangan para pecinta petualangan.
Jalur Patak Banteng yang mereka pilih pun merupakan jalur singkat yang cukup menantang dengan kontur menanjak hampir tanpa jeda. Bagi Joko dan kawan-kawan, jalur yang terdiri dari tiga pos itu mengingatkan mereka pada pendakian-pendakian lain yang selama ini pernah mereka lakukan di gunung-gunung lain di Indonesia. Rutenya sendiri menawarkan beragam warna lingkungan mulai dari, petak-petak kebun sayur penduduk, hutan pinus hingga bukit-bukit savana yang semakin cantik dihiasi hamparan bunga-bunga daisy kecil-kecil.
Pendakian mereka pun terbilang cukup lancar dan sesuai dengan rencana awal. Tiga jam perjalanan dari basecamp Patak Banteng hingga ke puncak Prau dipenuhi canda dan tawa. Jalur menanjak dan liat pun sukses didaki hingga menuju puncak. Kekompakan tim pun diuji, apalagi separuh dari mereka merupakan pendaki wanita. Namun tak satupun anggota tim yang tertinggal dan semuanya selamat sampai tujuan walau sesekali sisa-sisa hujan dan gigitan kabut yang dingin menerpa sepanjang perjalanan. Letih dan peluh pun terbayarkan dengan segala cerita petualangan dan keindahan menuju Gunung Prau.
Treasures in the Mids of Jakarta
Treasures hunter still exist. There is Michael Hatcher, an Englishman from Australia that’s widely known as “The Wreck Salvage King” and mostly wanted by Indonesian Government. Indonesia climed Hatcher has stolen much asset on many Indonesian teritorial since 1986. His latest treasures hunting activity in the deep of Indonesian see recorded in Bangka archipelago, 1999. He succesfully lifted up the Teng Sing ship and take its treasures with estimated cost around 500 billion Rupiah.
The next
question is, where the hell the treasures sold? When I read some information
about an Antique Market in the mids of Jakarta, I curious to go there to saw
what are they offered. This Antique Market is located in Jalan Surabaya,
Menteng, Center Jakarta. I arrived right at the same time whit the high traffic
jamm peak, after work hour season. Those Antique Market of Jakarta suddenly
become a float of vehicles and antiques.
Along 500
meters of those stright road, the antiques were just scattered on the
pedestrian side. Indeed, the shops were too narrow to placed too many antique
things inside. Many of them were hundred years old antique-colonial-era things,
arts, handycrafts, scluptures, vinyl, and every old interesting things.
I walked
slowly through the pedestrian side, watched my steps carefully to avoid
undesirable touch. I believe, even an experienced historian will fall in love
with this place. Honestly, I feel I’m being a time traveler amongs those
things. With more than 170 shops and thousands antique choise, an arts lovers
and collectors could be confused too.
Jalan
Surabaya was famous since 1960’s as an Antique Market of Jakarta. It’s
officially opened by the Jakarta legendary Governor, Mr. Ali Sadikin. In 1994,
Bill Clinton, former President of USA, have been visited the market. “He spends
200 USD for a couple of scluptures, the Loro Blonyo.” Said Mr. Anwar, the owner
of antique shops number 80 that have being antique seller since 1980’s.
The saddest part of this story is when I found Mr. Anwar and view seller sold the artifacts which is believe came
from Majapahit empire era. Mr. Anwar his self sold a kind of stone tools
artifact, as seems as hundred years old-traditional nutcracker. He climed that
he could earn 2-3 million Rupiah from those kind of artifact.
Another seller
near Mr. Anwar shop also sold more precious artifacts. With only 2,5-4 million
Rupiah, we can bring an ancient sclupture of Buddhist head or a Hindus Main God
sclupture.
I asked
them, where were they bought those -actually, priceless- artifacts? They told
me that they got it from another person. I guessed, if the artifacts is real,
they might were stolen from uncared temples around Java. Indeed, in Java Island
itself, there are so many hiden Hindu-Buddhist temples that uncovered, lying on
typically cloistered villages. Teens to hundreds artifacts such as, scluptures,
stone tools, inscription, bas-relief, were lost.
Half of them
might were stranded on these pedestrian side of Jalan Surabaya, Menteng, Center
Jakarta. They are waiting to be save or found by the treasure hunters.
Rabu, 10 September 2014
Posted by
Unknown
Pemburu Vinil
Awal tahun 2000-an merupakan masa-masa akhir zaman kaset rekaman dan piringan CD. Waktu itu mungkin teman-teman masih mengenal Tara, toko kaset dan CD musik paling hit di zamannya. Ada sebuah kisah saat aku masih suka mengoleksi kaset musik dan rutin mengunjungi Tara, menghabiskan uang simpanan dari menyisihkan uang jajan masa sekolah. Aku sempat bertemu dengan seorang traveler asing yang ingin mencari vinil atau lebih dikenal dengan nama, piringan hitam.
Mungkin musisi Indonesia yang banyak dikenal pemuda kekinian hanya sebatas legenda-legenda macam, Koes Plus, God Bless, Ebiet G. Ade, Chrisye, atau Doel Sumbang saja. Namun ternyata dua lusin lebih piringan hitam yang dites Alessandro menyimpan banyak sekali dokumen sejarah musik nasional yang direkam para musisi-musisi terlupakan. Tak satupun musisi di dalam vinil tersebut yang familiar di telingaku. Genre musik mereka pun tak selamanya pop lambat yang sendu-sendu atau keroncong saja. Musik-musik psikadelik ala Jimmy Hendrik, Rock n Roll ala Elvis Presley, grup sewarna the Beatles pun menggempur telinga kami waktu itu, sukses membuat kepala Alessandro terangguk-angguk bak DJ.
Aku ingat, waktu itu aku membantu petugas kasir untuk berkomunikasi dengan pelanggannya. Sang petugas menyarankan untuk mencari vinil ke Jakarta saja, karena di Lombok akan sangat sulit -kalau tidak ingin dikatakan mustahil- menemukan vinil.
Belasan tahun setelah peristiwa itu, aku seperti melakukan lompatan perjalanan waktu. Selasa, 2 September 2014 lalu aku mendapati diriku tengah memperhatikan koleksi-koleksi piringan hitam di Jl. Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat. Jalan ini memang dikenal luas sejak 1960-an sebagai pasar antik, dan secara resmi dibuka oleh salah satu gubernur legendaris Jakarta, bapak Ali Sadikin.
Jalan sepanjang 500 meter tersebut benar-benar merupakan galeri barang antik terpanjang yang pernah aku kunjungi selama ini. Di sini bertebaran dan benar-benar berserakan beragam barang bercita rasa seni dan klasik seperti ; lukisan, patung-patung kayu primitif dari hampir seluruh penjuru negeri. Semua berjejalan sampai luber ke pinggir trotoar.
Di jalan inilah aku bertemu Alessandro, mahasiswa jurusan kesehatan dari Italia beserta kawan perjalanannya, seorang chief asal Australia. Alessandro yang bertubuh kurus tinggi namun sedikit garang karena memelihara janggut ternyata penggila vinil. Belum sampai dua puluh menit ia menikmati perjalanannya di pasar antik, ia telah menghabiskan 275 ribu rupiah untuk setengah lusin vinil seharga 35-50 ribu rupiah per bijinya. Tidak berhenti di satu kios, Alessandro, sang chief, dan aku sendiri pun ikut-ikutan membantu Alessandro, berburu ke lapak yang lain. Sampai akhirnya kami pun berhenti di kios milik abang Irwan yang berperawakan tambun di sudut Jl. Surabaya itu.
Di sini Alessandro dipuaskan oleh banyak pilihan, apalagi si pemilik toko dimudahkan karena adanya interpreter dadakan yang membantunya, gratis tanpa meminta bayaran.
"I wanna buy something sound groovy and it's especially Indonesian music." pinta Alessandro, yang segera aku terjemahkan dengan, "Lagu Indonesia, klasik tapi nggak terlalu slow bang!"
Entah memiliki ingatan berapa gigabyte, bang Irwan pun mengeluarkan koleksi vinil terbaiknya di antara ratusan vinil yang ia miliki. Alessandro pun mengecek satu per satu track-track lagu yang ada dalam vinil yang ditawarkan tersebut.
Kualitas suara piringan hitam memang tidak secanggih hasil racikan mixing masa kini, namun cirinya khas, sound yang dimilikinya benar-benar mampu membuat kita bernostalgia. Akan tetapi lebih dari semua itu, nilai paling unik yang dikandung dalam sepiring besar vinil ialah hasrat manusia untuk menyimpan kenangan dalam bentuk suara lewat media teknologi rekam di zaman "sejadul" itu. Menemukan vinil yang berkualitas bagus rasanya seperti sejarawan yang menemukan prasasti dari zaman dahulu yang masih jelas terbaca dan memiliki banyak aspek untuk diteliti. Begitulah Alessandro menikmati penemuannya. Selain itu, pilihan bang Irwan yang mengaku sering mendapat pelanggan orang asing, memang "tokcer". Saya sendiri jadi tahu, jika ternyata khazanah musik Indonesia zaman dahulu begitu variatif.
Mungkin musisi Indonesia yang banyak dikenal pemuda kekinian hanya sebatas legenda-legenda macam, Koes Plus, God Bless, Ebiet G. Ade, Chrisye, atau Doel Sumbang saja. Namun ternyata dua lusin lebih piringan hitam yang dites Alessandro menyimpan banyak sekali dokumen sejarah musik nasional yang direkam para musisi-musisi terlupakan. Tak satupun musisi di dalam vinil tersebut yang familiar di telingaku. Genre musik mereka pun tak selamanya pop lambat yang sendu-sendu atau keroncong saja. Musik-musik psikadelik ala Jimmy Hendrik, Rock n Roll ala Elvis Presley, grup sewarna the Beatles pun menggempur telinga kami waktu itu, sukses membuat kepala Alessandro terangguk-angguk bak DJ.
Cukup lama Alessandro memilih vinil, sampai aku hitung sudah dua kali ia meminta maaf kepada kami yang menunggunya. Akhirnya ia memilih 5 vinil dengan koleksi terbaik menurut pendengarannya. Keputusannya tepat diambil sehabis menuntaskan vinil koleksi musik dangdut dan keroncong tawaran bang Irwan.
Semua vinil bang Irwan dijual 50 ribu rupiah satuannya, tanpa mau ditawar lagi. Alessandro yang terlanjur menganggap itu harga yang murah, sekaligus kurang berpengalaman dalam hal menawar barang ala Indonesia, akhirnya ijab kabul juga. Dua tangan berbeda warna kulit pun berjabat erat sore itu, sepakat dengan harga 250 ribu rupiah untuk kelima vinil tersebut. Tak lupa sehabis momen yang penuh rasa persahabatan itu berlangsung, Alessandro memintaku untuk mengabadikan dirinya sedang berangkulan dengan sahabat barunya, abang penjual vinil dari Jl. Surabaya.
Ah, andai saja di awal tahun 2000-an dulu aku tahu tempat ini, mungkin satu pemburu vinil lagi yang akan bahagia dan lebih banyak vinil Indonesia lainnya yang akan terselamatkan, jatuh di tangan yang tepat seperti Alessandro sang pelancong dari Italia.
Jumat, 05 September 2014
Posted by
Unknown
Ronald Talk's : How to Living Spontaneously
Jakarta (28/08/2014), Thursday night after work and sticking my butts on those cheap chair for almost 10 hours. Me and my co-worker getting faster to a special talk show. That's night, one famous Indonesian writer, speaker, and men's love motivator, would speaking about something that could be precious. First important reason why i come even quite tired after work and willing to break through the Jakarta high traffic, because he -the speaker- already known as very high rate speaker in Indonesia -he can earn millions only for an hour-. But those night, his talk show was for free!!!
Finally we come -too fast- to the venue. A simplicity-designed cafe called Coffee Institute. It's located in Gunawarman Street No.71, Kebayoran Baru, South Jakarta. The Ronald Frank's talk show was delayed but still go on. Only for your information, i was read his e-book about how to be the damn great lover since in college. It's work, really really work to me. That's the second important reason why i have to gather in his talk show.
When he started to speaking, every single eyes and ears in those typically small room suddenly hypnotized including me and my co-worker, even he just trying to chit-chat with his audience that i assumed as a little bit mediocre introduction. These men is great, i already knew it from the first words that slide out from his mouth.
He opened with his past part of life, the hardest and most depressive one. He told us that he was bankrupt in 2006. He carried teens million debt after failed in running an IT company. Yeah, he was inspired by Bill Gates, he walked out from college soon at the first year. His slut -pardon me with my carefully chosen word- break their relationship and fell into another mature-rich men's arm.
In the end, those milestones of his life, enlightened him to hear his own intuition. Spectacularly the most depressive part of life turn to be his greatest discovery of life. What the hell's happened? As i know, he wrote an e-book later, about how to be the great lover. Can you imagine this? A broken heart men who failed in his own relationship with his girl friend wrote an e-book that rapidly help the other men in the world to find and work out their lover ability. You might laugh out loud, but it's the truth.
In term of truth, Ronald said that, the truth that we believes was programmed since we was a kids. The truth is actually a neutral condition. We named it with our self or another person's perception, like our parents for example. So, almost nothing absolute truth, but there is individual truth exist among us. So, we can't impose our self truth to another person.
Ronald believe that we -he also believe that we are such an energy and God its self also exist within human energy- already created our self destiny since we in our mother's womb -or in the further more past time- but we forgot about it since we growth.
I personally struggle in this topic before, do we have our self certain destiny or we simply created our own destiny with our hands while living ? Ronald said that each of us already have a certain destiny. It's up to us, are we willing to follow it or not. Follow our own destiny means we are walking on our happiness of life. In other hand, refuse it means we are walking on the suffering life.
Sure, we always wanted to be happy in life, but how to make it? How could we considered that we are on our destinies track? Ronald said that, hear the sound from the bottom of your heart. Try to living spontaneously, it's an awesome life experience at least for our own self. Usually this intuition extremely irrational. Because when your intuition answered by your "ego" -he said that with his hand placed on his forehead- your mind already makes a negation.
For the example, men who stay to denied their intuition, they are always making hard plan for their happiness but they'll always hit the wall too, because their destiny -intuition- has try to kick them to the right way that they should be fit in. For now on, just follow your truly willingness, if you're willingness said that you must sleep and don't go to work today, you have to sleep immediately. Sounds ridiculous, doesn't it? Yeah i know, but i believe him. Once, i follow my intuition and suddenly i feel the God hands directing me to a road. For the first time, this is kind of a haze but in the end i recognized that this road is the truth and thus i feel life never be flat anymore. Actually, i left my work twice, surely i have worried about that, about my employers appraisal to me, but nothing really big happened and i am still working as usual.
Like Steve Job, the founder of Apple Inc, he saw life is spots that seems unconnected but actually it's connected. You can't see the web in the future, but you can analyzed it at from past until the present time. I would love to tell you about prediction which was clime that human can't living on earth over four billion populations, now we are seven billion! Who the hell are they -men who always predicting something? Are they God that created the destinies and can see the future?
The conclusion is, are we ready to living spontaneously and joy the dynamics of life or not, that's two kind of different destination. But if you want to be a great person, life out of the box, hear your own intuition, traveling with no itinerary, traveling every time you want, leave your bored job. You know, every time i remaining about it and reflecting on my own life experience over and over, i still struggling in follow my self intuition or not, but i do really wanted to living spontaneously forever!
Finally we come -too fast- to the venue. A simplicity-designed cafe called Coffee Institute. It's located in Gunawarman Street No.71, Kebayoran Baru, South Jakarta. The Ronald Frank's talk show was delayed but still go on. Only for your information, i was read his e-book about how to be the damn great lover since in college. It's work, really really work to me. That's the second important reason why i have to gather in his talk show.
When he started to speaking, every single eyes and ears in those typically small room suddenly hypnotized including me and my co-worker, even he just trying to chit-chat with his audience that i assumed as a little bit mediocre introduction. These men is great, i already knew it from the first words that slide out from his mouth.
He opened with his past part of life, the hardest and most depressive one. He told us that he was bankrupt in 2006. He carried teens million debt after failed in running an IT company. Yeah, he was inspired by Bill Gates, he walked out from college soon at the first year. His slut -pardon me with my carefully chosen word- break their relationship and fell into another mature-rich men's arm.
In the end, those milestones of his life, enlightened him to hear his own intuition. Spectacularly the most depressive part of life turn to be his greatest discovery of life. What the hell's happened? As i know, he wrote an e-book later, about how to be the great lover. Can you imagine this? A broken heart men who failed in his own relationship with his girl friend wrote an e-book that rapidly help the other men in the world to find and work out their lover ability. You might laugh out loud, but it's the truth.
In term of truth, Ronald said that, the truth that we believes was programmed since we was a kids. The truth is actually a neutral condition. We named it with our self or another person's perception, like our parents for example. So, almost nothing absolute truth, but there is individual truth exist among us. So, we can't impose our self truth to another person.
Ronald believe that we -he also believe that we are such an energy and God its self also exist within human energy- already created our self destiny since we in our mother's womb -or in the further more past time- but we forgot about it since we growth.
I personally struggle in this topic before, do we have our self certain destiny or we simply created our own destiny with our hands while living ? Ronald said that each of us already have a certain destiny. It's up to us, are we willing to follow it or not. Follow our own destiny means we are walking on our happiness of life. In other hand, refuse it means we are walking on the suffering life.
Sure, we always wanted to be happy in life, but how to make it? How could we considered that we are on our destinies track? Ronald said that, hear the sound from the bottom of your heart. Try to living spontaneously, it's an awesome life experience at least for our own self. Usually this intuition extremely irrational. Because when your intuition answered by your "ego" -he said that with his hand placed on his forehead- your mind already makes a negation.
For the example, men who stay to denied their intuition, they are always making hard plan for their happiness but they'll always hit the wall too, because their destiny -intuition- has try to kick them to the right way that they should be fit in. For now on, just follow your truly willingness, if you're willingness said that you must sleep and don't go to work today, you have to sleep immediately. Sounds ridiculous, doesn't it? Yeah i know, but i believe him. Once, i follow my intuition and suddenly i feel the God hands directing me to a road. For the first time, this is kind of a haze but in the end i recognized that this road is the truth and thus i feel life never be flat anymore. Actually, i left my work twice, surely i have worried about that, about my employers appraisal to me, but nothing really big happened and i am still working as usual.
Like Steve Job, the founder of Apple Inc, he saw life is spots that seems unconnected but actually it's connected. You can't see the web in the future, but you can analyzed it at from past until the present time. I would love to tell you about prediction which was clime that human can't living on earth over four billion populations, now we are seven billion! Who the hell are they -men who always predicting something? Are they God that created the destinies and can see the future?
The conclusion is, are we ready to living spontaneously and joy the dynamics of life or not, that's two kind of different destination. But if you want to be a great person, life out of the box, hear your own intuition, traveling with no itinerary, traveling every time you want, leave your bored job. You know, every time i remaining about it and reflecting on my own life experience over and over, i still struggling in follow my self intuition or not, but i do really wanted to living spontaneously forever!
Sabtu, 30 Agustus 2014
Posted by
Unknown
Ziarah Makam Nyatoq : Menggali Akar Meruntuhkan Dongeng
Hari itu Rabu yang cukup cerah. Hari Rabu dengan Matahari di
bulan Mei yang mulai menyembul hangat. Cahanya menerobos membentuk sebuah sorotan
lemah yang menerabas kabut perbukitan. Sepagi itu aku diajak berziarah oleh ibu
ke Makam Nyatoq, desa Rambitan, Lombok Tengah. Ini makam dari seorang pemuka
agama yang meletakkan dasar keislaman di daerah Lombok, khususnya daerah Lombok
Selatan dan sekitarnya.
Hari itu hari Rabu, hari yang spesial sebab menurut kepercayaan sebagian besar orang, wali nyatoq memberikan keberkahan di makam tersebut di hari tersebut,
sehingga apapun keinginan, harapan, niatan, keresahan, dan semua yang ada
dihati akan diringankan ketika berziarah terutama pada hari Rabu.
Aku tidak memungkiri di beberapa belahan di dunia ini terdapat
tempat-tempat yang spesial untuk berdoa kepada Yang Maha Esa. Mungkin saja Makam
Nyatoq ini salah satu tempatnya, suasananya damai, rindang, hijau dan apabila
kau datang pagi-pagi sekali, kabut-kabut bak gulali manis akan menyapa menyentuh permukaan kulitmu.
Sungguh sebuah peristirahatan sempurna di atas bukit tanpa harus berebutan
tempat dengan makam-makam yang lain. Ya, di komplek tersebut hanya ada beberapa
makam saja. Namun wilayah itu terlalu luas untuk tiga nisan dari abad lampau.
Aku masuk ke makam nyatoq tidak berniat apa-apa –eh kupikir
niatku waktu itu hanya ziarah kubur biasa, tanpa ekspektasi apapun sama sekali-
sebab aku tahu dibalik metafor yang bertaburan dalam kisah kehidupan waliullah
yang satu ini, ada banyak kesalah pahaman sejarah yang terjadi disekeliling
kita. Entah apa yang menjadi niat dan ekspektasi ibuku waktu itu, semoga ia
tidak melenceng terlalu jauh dan kuburan ini hanya menjadi media penguhubung
semata ke Kursi Yang Maha Kuasa.
Tidak ada yang salah dari ziarah ini, yang salah adalah
superioritas yang terlalu mengada-ada yang disematkan pada objek dan subjek
yang sebenarnya hanyalah manusia dan kuburan semata. Saat alunan yasin dan
tahlil mengalun di telinga, aku pun berjalan mundur jauh ratusan tahun ke
belakang ke-abad ke-13 Masehi.
***
AsySyaikh As-Sayyid Nururrasyid Ibnu Hajar al-Haytami,
As-Sayyid sendiri adalah gelar untuk kerabat Nabi Muhammad SAW, datang ke tanah
Lombok melalui jalur laut utara. Pertama kali mendarat di pesisir utara
memasuki daerah Bayan, Lombok Utara. Beliau lebih dikenal sebagai Gaus
Abdurrazzaq. Dalam lelontar
(manuskrip daun lontar) ia dikenal juga dengan nama Betara tunggal Nala. Entah
mengapa dalam versi nenekku (almarhumah) Betara Tunggal Nala ini datang
menunggang Labu ajaib dan berubah versi menjadi Umar? Betara Nala inilah yang
memiliki putra bernama Deneq Mas Putra Pengendeng Segara Katon Rembitan, nama
ini tentunya adalah sebuah gelar dalam bahasa kuna sama seperti gelar-gelar raja Jawa yang panjang dan memiliki
arti sembah sujud yang mendalam. Nama asli sang pangeran ini adalah Sayyid
Abdurrahman atau yang dikenal dengan wali Nyatoq yang makamnya sedang kuziarahi
kali itu.
Seratus tahun lamanya sebelum Ayahanda wali Nyatoq mendaratkan kaki ddi pulau Lombok, peradaban suku sasak yang asli
menghilang ditelan letusan gunung paling membunuh di abad ke-12, gunung Samalas,
ini adalah hasil penelitian ilmiah yang dilakukan baru-baru ini. Gunung Samalas
sendiri sebuah gunung rakasasa yang ketinggianya hampir mencapai 5000 meter
dari permukaan laut.
Abad ke-12 masehi gunung ini meledak dan menciptakan
kaldera yang sekarang menjadi danau segara anakan di gunung Rinjani. Selain
menciptakan kaldera indah, dalam dan amat sangat mendebarkan bagi peneliti
vulkanologi, gunung ini pun memiliki anak yang dikenal dengan sebutan gunung
Baru Jari. Jadi melihat kedalaman kaldera hasil ledakan maha dahsyat -lebih dahsyat
dari Tambora di tahun 1815- kemungkinan besar suku dan kerajaan sasak abad ke-12
ini telah terkubur dalam debu vulkanik.
![]() |
| kaldera gunung Samalas seluas 3.500X4.800 meter. |
Kembali ke kisah wali Nyatoq sendiri, dialah yang kemudian
menjadi akar sultan-sultan kerajaan Lombok dengan mendirikan kerajaan Kayangan.
Saudara wali nyatoq, Sayyid Umar mendirikan kerajaan Pujut, oleh sebab itulah
tidak aneh di gunung pujut, Lombok Selatan, ada masjid kuno mirip seperti di
Bayan, begitu pula masjid kuno Rembitan yang dibangun sendiri oleh wali Nyatoq
pun memiliki kemiripan konstruksi yang sama dengan kedua masjid yang lain.
Sedangkan saudari wali Nyatoq bertanggung jawab di daerah utara yang dikenal
dengan nama Syarifah Qomariyah atau secara mistikus disebut sebagai Dewi
Anjani.
Wali Nyatoq Sendiri lebih mengutamakan menyebarkan agama Islam
daripada menjadi raja, hingga ia tidak heran memiliki 33 nama di beragam tempat
di Bali, Lombok dan Sumbawa. Sebagai mubaligh beliau mensyarkan islam ke
mana-mana hingga dikenal di Bali sebagi Pedanda Sakti Mawu Rauh, di Sumbawa
dikenal sebagai Tuan Semeru, di pulau Jawa dikenal sebagai Aji Duta Semu. Di
daerah lain di Lombok ia juga dikenal sebagai Datu Pangeran Djajing Sorga yang
dipercaya berasal dari Majapahit.
Islam di bumi sasak pun disebarkan bernafaskan animisme dan filsafat hindu Advaita
Vedanta di kalangan masyarakat, lebih diterima, singkritisme
pun terjadi lalu bergabunglah sufisme dalam nafas filsafat Hindu. Hingga
akhirnya Lombok pun sepenuhnya menjalankan syariat islam seperti yang terjadi
di masa ini. Namun siapapun yang murni menyandang nama Lalu dan Lale di depan
namanya, wali Nyatoqlah nenek moyang mereka, mungkin saja ada kelebihan yang
dikaruniakan oleh Allah kepadanya namun tetap saja wali Nyatoq hanya manusia saleh berilmu
tinggi, entah cerita mana yang mau dipercayai, yang dipenuh mukjizat atau cerita ini? Yang terpenting ketika mengunjungi akar dan bapaknya
raja-raja Lombok ke makam Nyatoq, niatkan untuk mendoakan semoga beliau diterima
amal ibadahnya di dunia, dan semoga kita diberi kesempatan untuk mengikuti
jejak-jejak kearifannya agar selamat di dunia akhirat. Itu saja tidak kurang
tidak lebih.
Dari berbagai sumber
Denting Piano Daniel yang Memabukkan
“Rambutnya berwarna putih dan abu-abu, malam itu ia mengenakan batik berwarna campuran jingga dan peach dipadukan dengan celana katun hitam, Daniel Herscovitch, siap memainkan impromptu No.1 karya Franz Schubert, musisi klasik asal Austria yang hidup di abad ke 19 masehi.”
Ini lagu kedua dari 6 biji lagu yang akan dibawakannya malam
ini (02/07/2014). Sebelumnya aku melewatkan lagu pembuka gubahan Beethoven : Sonate
Es-Dur Op. 81a (Das Lebewohl), pasalnya aku terlambat datang ke
Goethehaus-Jakarta sehingga tidak bisa masuk di pembukaan pertama. Sebelum satu
lagu selesai dimainkan penonton resital piano tidak diperkenakan masuk ke dalam
ruangan konser.
Tepat saat aku duduk di bangku, grand piano hitam itu pun berkumandang memenuhi ruangan akustiknya
yang menggugah. Jemari lelaki tua itu menari lincah di atas tuts, nada-nada
dibangunnya cermat, nuansa diciptakan, ada ratusan mata yang memandangnya dan
lebih banyak telinga lagi yang terhipnotis terbuai ke dalam imajinasi liar masing-masing
jiwa. Kami diam menerjemahkan nada-nada rumit yang mengantarkan pesan-pesan si
pembuat lagu yang rata-rata telah ratusan tahun mati. Inilah tantangannya,
apakah pesan yang ingin disampaikan pencipta lagu bisa disampaikan ke telinga
pendengarnya oleh sang pianis?
Tentu ini juga pertama kalinya aku mendengar karya Schubert.
Memang tak banyak karya klasik yang aku dengarkan, kecuali sedikit sekali
simponi-simponi gubahan Beethoven, Mozart dan Chopin. Secara teoritis aku tak sebaik
kritikus, praktisi maupun wartawan musik. Dengan jujur aku merasa emosional
ketika nada-nada klasik dimainkan lewat denting piano yang sedang dimainkan
laki-laki berkewarganegaraan Australia itu. Secara aneh aku menikmati simponi
yang dimainkan sampai simponi ketiga berjudul Aida : Danza Sacra e Duetto
Finale pun berhenti mengalir. Luar biasa!
Devoirs
Daniel berdiri mengambil mike yang dipersiapkan panitia.
Setiap kali ia selesai dengan satu lagu ia akan mengumumkan lagu berikutnya,
bercerita tentang lagu yang akan dimainkan dan membungkuk untuk menikmati tepuk
tangan penonton.
Kali ini ia akan memainkan “Devoirs” (baca : Devoa) gubahan
Yazeed Djamin, salah satu pianis kebanggan Indonesia. Daniel lama mengenal
Yazeed Djamin dan “Devoirs” selalu mengingatkannya akan tragedi bom bali 2002.
Aku penasaran ,alisku mengkerut.
Betul saja, intro yang cukup mencekam pun dimainkan. Nadanya
bagai teror mengancam dalam sentuhan teknik broken kord (semoga aku tidak salah) yang menyayat sisi tergelap kemanusiaanku,
apalagi dimainkan di octave terendah.
“Mengerikan sekali simponi ini” batinku.
Nuansa gelap menenggelamkanku membuatku berpikir jauh, apa
sebenarnya yang dirasakan oleh Djamin? Bahkan sampai notasi nada-nada khas bali
yang ritmik dan dinamis dimainkan di tengah-tengah lagu, aku bersumpah aku
mengangguk-angguk terbuai ritme yang sinistik bercampur gamang sekaligus. Demi
apapun “Devoirs” resmi kujadikan nada-nada kesedihan, tragedi sekaligus mistikus
terindah yang pernah kudengar selama ini. Ini membuat nada-nada kematian yang
diwakili genre musik death, black, dan progresif metal terdengar seperti lagu
ABG galau saja.
Schumann yang Panjang dan Sukarlan yang Singkat
Sonata Fis-Moll Op.11 adalah simponi terpanjang yang dimainkan
Daniel malam itu. Lagu ini gubahan komposer Romantik eropa terbesar dizamannya,
Robert Schumann, dari Jerman. Mataku terpejam kala Daniel memainkan lagu aneh
yang personal itu. Kepalaku terhipnotis dan aku merasa aku ada dalam kondisi Alpha, sebentuk nuansa canggung silih
berganti menghampiri jiwa. Secara subjektif aku merasakan ada keceriaan, kemunafikan,
kontra dan kesalahan yang disengaja. Ah! Lagu ini begitu kalut, sampai-sampai
aku yakin umur dan pengalamanku belum cukup matang untuk meencerna kisah yang
ingin disampaikan Schumann dalam nada berdurasi panjang tersebut.
Hah! Lega rasanya ketika sonata itu berhenti dan jiwaku yang
tertawan belasan menit segera kembali. Daniel kembali berdiri, menutup malam
itu dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar unuk ukuran orang asing seperti
dia. Sebagai penutup malam ini ia akan memberikan penonton sebuah karya milik
Sukarlan. Rapsodia Nusantara No. 10. Penutup yang epik dan cukup singkat, lagu
yang tak sampai dua menit lebih sedikit, jauh lebih singkat dari lagu-lagu
sebelumnya yang bisa berdurasi hingga sepuluh menit lebih. Ah, kami pun berdiri
dibuatnya setelah ia selesai memainkan musiknya. Benar-benar racikan luar biasa,
seperti menyantap makanan, dari pembuka sampai menu utamanya sangat mengenyangkan
dan penutupnya manis tak berlebihan. Sampai jumpa di konser-konser berikutnya!
Jumat, 04 Juli 2014
Posted by
Unknown
Jakarta Macet
Jalanan bagi sebagian orang dianggap sekolah. Gurunya adalah
pengalaman. Tidak hanya pengalaman manis, pengalaman sepahit empedu pun mata
pelajaran yang berharga di jalan.
Oleh sebab itulah aku menganggap diriku sedang melakukan
perjalanan setiap waktu. Aku menyukai apa yang diberikan jalanan kepadaku.
Kebetulan hidupku -entah itu suratan atau kesengajaan- sampai saat ini terus
mengembara hampir tanpa jeda. Kalau tidak berpindah tempat tinggal, aku
berkelana saat senggang. Tak peduli itu ke pantai, gunung, desa, kota, atau di
menyusuri trotoar sekalipun. Semuanya secara filosofis di mataku adalah jalanan
dan perjalanan.
Hingga akhirnya bulan Mei 2014 ini aku merantau lagi,
tujuannya ke Jakarta. Aku berencana menetap di ibu kota sampai bosan. Sampai instingku
suatu saat nanti menyuruhku untuk berjalan lagi.
Bisa saja pembaca menganggap aku berdusta –tak masalah
bagiku-. Tapi bukan uang semata yang aku cari di Jakarta. Jati diri, ya jati
diri. Aku percaya, untuk mengenal diri sendiri lebih jauh lagi. Tubuh dan
mental harus digembleng sekeras-kerasnya. Aku terobsesi menikmati dua sisi
ekstrim kehidupan manusia. Aku sudah terlalu lama menikmati kedamaian di ceruk.
Aku pergi ke bukit, gunung, dan pulau yang hampir terpencil
di sudut-sudut Indonesia. Aku juga pernah mengembara dan hidup hampir mirip
pertapa di daerah pertanian kaki bukit mur peji yang hampir terisolasi. Tapi aku
belum merasa mengenal kehidupan seutuhnya. Hingga suatu waktu, aku berkata pada
diriku sendiri. Aku akan menantang metropolitan. Belajar kehidupan yang lain di
sana.
Satu-satunya keraguanku saat itu adalah, bisakah aku menghadapi
kemacetan? Macet, mengapa hal itu yang aku ragukan? Dari banyaknya kegilaan
tidak manusiawi yang mewarnai metropolitan. Masihkah macet jadi hantu yang harus
ditakutkan? Bagiku yang belum pernah merantau ke Jakarta. Tentu aku ngeri
dengan kemacetan. Hei! Pedofilia menghantui, homoseksual menjangkiti
kepribadian, pembunuhan, bahkan orang tidak bersalah yang sedang duduk di
trotoar pun bisa saja dihajar segerombolan tak dikenal. Macet sepertinya bukan
bencana lagi bung! Itu rutinitas, yang harus ditelan bulat-bulat.
Ini sekedar hipotesa subjektif yang dangkal dari awam
sepertiku. Aku yakin, kemacetan salah satu sektor penting sebagai sumber permasalahan sosial di Jakarta.
Aku takut, aku berubah menjadi pribadi yang tidak kukenali lagi. Aku takut
macet menggrogoti jiwaku diam-diam.
Lihatlah orang jakarta yang lari ke daerah -istilah populer untuk
tempat lain di luar jabodetabek-. Mereka sampai rela menganut gaya hidup model
baru. Sebagai pelancong dan pemburu keindahan demi dapat tersenyum bebas,
kemudian menjadi dirinya sendiri di pantai-pantai nan elok atau gunung-gunung
yang sunyi. Aku menduga, mereka tak sadar sedang menghindari kemacetan.
Data
Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyebutkan, setiap harinya populasi
kendaraan bertambah sekitar 1.172 kendaraan. Sementara, pertumbuhan panjang
jalan hanya 0,01 persen per tahun.
Menurut
studi yang dipimpin oleh Profesor Psikologi dan Perilaku Sosial, Susan Charles,
kekesalan yang dihadapi setiap hari akibat terjebak macet dapat menumpuk
terus-menerus dan menyebabkan masalah kejiwaan di kemudian hari. “Bagaimana
kita mengatur emosi dalam menghadapi persoalan sehari-hari berpengaruh pada
kesehatan jiwa kita. Kita sangat fokus pada tujuan jangka panjang sehingga
melupakan pentingnya mengatur emosi kita.” kata Charles.
Sedikit
Cerita Di Atas Busway
Aku mengawali menjelajahi Jakarta dengan Busway. Transportasi publik sistematis
paling awal yang diterapkan untuk mengentas kemacetan di Jakarta. Sayangnya di
halte-halte busway pun tejadi kemacetan. Bus trans jakarta tersebut sering overload penumpang. Kami berhimpit
dengan orang asing hampir setiap waktu. Kami dorong-dorongan dengan orang lain
dan mengumpat “Woy, jangan dorong!”, namun tak ada yang peduli.
Ketika malam-malam aku pulang dari kantor –saat itu aku sudah terbiasa naik
busway dan sudah mendapat pekerjaan di Jakarta Barat- ke kos saudara tempatku
tinggal sementara. Aku harus ikut antrian panjang menunggu bus jurusan pulo
gadung datang menjemput kami di halte dukuh atas 2.
Suatu kali aku melihat antrian mengular yang sama di halte dukuh atas 2.
Kali ini letaknya di sisi kiri jembatan transit –antrian busway ke arah pulo
gadung biasanya di sisi kanan-. Aku bertanya untuk meyakinkan diriku sendiri
kepada seorang pria dewasa. “Pak ini antrian yang mau ke pulo gadung ya pak?”
tanyaku.
Dijawabnya aku dengan nada seperti bentakan. “INI KE RAGUNAN!” jawabnya
dengan nada dan pandangan cukup tajam.
Apa
salahku? Aku hanya bertanya baik-baik? Kenapa aku seperti dibentaknya? Tapi aku
tak peduli, memang sudah tabiat orang stres seperti itu. Aku pun berlalu tanpa
mengucapkan “terima kasih.” Ucapan yang selama ini selalu aku utamakan ketika
bertanya lalu dijawab -walaupun dengan jawaban“tidak tahu” atau kekesalan
sekalipun-. Aku ingat kalau aku lupa mengucapkan terima kasih kepada bapak itu,
sayang aku tidak mungkin kembali lagi karena aku harus menunggu Busway arah
pulo gadung. Lalu berlomba untuk naik paling cepat bersama puluhan pengantri
lainnya.
Diagnosa Awal Perubahan
Ah,
akankah aku bertemu muka dengan pendaki-pendaki dari Jakarta yang sering aku
temui di gunung-gunung? Apakah kami masih akan bersalam sapa jika bertemu penggendong-penggendong
keril itu, lalu memecah kesunyian di tengah alam metropolis seperti ini seperti
ketika di alam pegunungan? Padahal beberapa kali aku melihat mereka berkeliaran
di halte maupun Busway penuh sesak.
Ah
mengapa aku kaku sekali ketika melempar senyum dan sedikit anggukan kepala saat
tidak sengaja bertatapan dengan wajah-wajah asing? Padahal di desa-desa yang
aku kunjungi dahulu di seantero pedalaman Jawa, Madura, Bali, Lombok, aku bisa
menyeringai memperlihatkan deretan gigi kuningku pada orang asing sekalipun.
Kapankah aku bisa berkenalan dengan wanita-wanita pemakai masker? Apakah mereka
tidak bisa dan tidak mau mengobrol remeh-temeh dengan orang asing sepertiku
selain dengan smartphone di genggaman
mereka masing-masing? Padahal begitu menyenangkannya basa-basi dengan penumpang
lain di kendaraan umum.
Pejalan/Pelancong
dari Jakarta bisa ditemui dimana saja di sudut Indonesia. Di luar kota ini aku
melihat mereka menyebarkan senyuman, mengumbar keceriaan, lebih-lebih antusiasme
manusiawi mereka terpancar alamiah ketika melancong ke daerah lain. Padahal
pejalan dari Jakarta adalah wisatawan domestik yang paling sering bepergian
mengecap pengalaman baru. Tapi kenapa di kota dengan kemacetan brutal ini,
semua pelajaran yang didapat di perjalanan ikut macet total?
Jumlah
penumpang angkutan udara domestik Januari-Mei 2013 mencapai 22,3 juta orang.
Jumlah penumpang terbesar tercatat di Soekarno Hatta-Jakarta mencapai 7,7 juta
orang atau 34,72 persen dari keseluruhan penumpang domestik, sumber : Badan
Pusat Statistik
Aku
memandangi jalan raya dari balik jendela busway, melihat kendaraan di jalur
biasa, yang menurut statisik berjumlah 10 juta lebih di seluruh ruas jalanan
Jakarta. Klakson panjang bertalu-talu bukan pertanda untuk menyuruh maju, tapi
cara halus para pengemudi untuk mengumpati keadaan. Jelas tidak mungkin maju.
Aku
tersenyum, benar-benar tersenyum tak tahu malu. Aku menikmati dinamika
kehidupan ini. Aku menyaksikan manusia berjejalan dengan keriangan. Aku
mendengar umpatan bagai lagu keseharian. Aku bertemu orang asing setiap hari
dan mulai merasa mereka bukan manusia, hanya seonggok daging segar yang
bernafas dan berpakaian di tengah kemacetan kota. Hei! Apa ini awal perubahan
kejiwaanku? Apa aku sudah mulai gila? Wah, betul kalau begitu hipotesa dan
teori-teori itu. Awal keruntuhan sosial dan moral di Jakarta itu ya, di jalanan
dan kemacetan. Ha ha ha ha ha...
Sumber
lain:
http://www.nyunyu.com/main-article/detail/problematika-jalanan-di-jakarta-2#.U5ATVCg6_6E
http://www.lintas.me/article/editor/7-fakta-menarik-yang-bakal-kamu-rasakan-jika-naik-transjakarta/slide/3














