Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Memahami Baduy Dalam
Pengalaman saya solo backpacking ke Baduy Dalam, seolah tak habis diuraikan dalam dua-tiga seri tulisan. Tak akan cukup mendeskripsikan kebaikan Sapri Armani, Bapak Ardi, Istri dan anak cucunya yang begitu banyak. Bahkan mungkin butuh satu seri ekstra untuk menceritakan beberapa jam perjalananku dengan Sanip muda yang pendiam.
sumber : wacan.co
sumber : wacan.co
Dengan Sanip, aku jadi paham sedikit aturan-aturan adat suku Baduy Dalam yang terkadang diluar nalar kosmopolis-ku. Di luar logika peradaban urban.
30 desa Baduy Luar plus 3 desa Baduy Dalam bukan sekedar kerumunan komunitas yang cuma mempertahankan kearifan arsitektur masa lalu. Tak pula sekedar kerumunan komunitas yang mengolah tanah ulayat untuk bertahan hidup dengan bercocok tanam semata.
Ada sesuatu yang membuatku berjanji untuk kembali lagi ke Cibeo, desa Baduy Dalam tempat aku menginap dan mengenal mereka semua, Armani, Bapak Ardi, Sanip, dan nama-nama lain yang terlupa.
Kupikir, kerinduan untuk kembali ke Cibeo, karena satu alasan. Kesederhanaan. Itu yang dibutuhkan olehku dan orang-orang yang memutuskan pergi mencari kehidupan baru. Kesederhanaan yang tidak lagi bisa aku rasakan di Jakarta.
Gaya hidup urban yang kompleks telah menjejaliku bertahun-tahun belakangan ini. Mungkin sampai-sampai telah mengikis rasa kemanusiaan dan mengelabui caraku memandang arti hidup. Aku memang merasa mulai materialistis akhir-akhir ini, dan konsumtif.
Di Baduy Dalam, semua hal kompleks sooal hidup bisa menjadi begitu sederhana. Bagi orang luar yang berpikiran sempit, mungkin fanatisme mereka terhadap adat, akan bergesekan dengan logika juga alam demokrasi yang selama ini orang kota agungkan. Namun sebenarnya, kekolotan mereka adalah sistem yang menjaga mereka untuk tetap menjadi Baduy Dalam. Murni!
Jadi saran saya, bila Anda berkunjung ke Baduy Dalam nanti, jadilah pengamat dan nikmati cara mereka memandang dunia. Mereka sudah cukup demokratis untuk membuka diri terhadap pengunjung luar. Padahal, sebagai suku yang cukup konservatif, frikisi ini berdampak bagi sosiologi dan kultur mereka.
Banyak anak muda Baduy Dalam yang akhirnya memilih keluar dari Cibeo, karena tergiur kapitalisme yang lebih mudah mereka dapatkan tanpa harus terjerat adat yang ketat. Ekonomi memang menjadi alsan, kenapa akhirnya lebih banyak kampung-kampung Baduy Luar dan makin sedikit penduduk Baduy Dalam. Tentu yang paling cepat terpengaruh oleh ekonomi ini adalah anak muda. Namun disadari atau tidak, anak muda Baduy Dalam adalah tulang punggung. Rantai generasi yang tidak boleh putus. Bayangkan bila smeua anak muda seperti Armani keluar dari Baduy Dalam. Lama-lama tidak ada Baduy Dalam murni dalam satu dekade ke depan. Karena akan putus di generasi tua.
Sistem politik dan sosial
Keluarga merupakan pondasi terkokoh yang menopang sistem pemerintahan Baduy Dalam. Landasan ideologi adalah, "kemanusiaan yang adil dan beradab,". Implementasinya terukir dalam sistem kekeluargaan yang kental, meski memang masih partiarkal dan feodal.
Banyak aturan masyarakat Baduy yang saya tanyakan kepada Sanip, yang ia jawab sebagai kepatuhan tanpa kenal perdebatan. "Tidak boleh, ya sudah adat," begitu katanya.
Peradaban Baduy Dalam harus Anda lihat sekali-sekali. Setidaknya untuk memasukkan perspektif baru dalam memandang hidup (insight).- Bagi mereka yang ingin mereguk pelajaran dari pengalaman, terutama lewat sebuah petualangan -
Minggu, 19 November 2017
Posted by
Unknown
Healing Me!
Beberapa lagu manis yang terdengar dari balik headset, suasana sore yang hangat di luar jendela kaca. Oh ya, ada angin menggoyangkan ranting pohon. Walau sejuk ruangan yang kutempati kali ini berasal dari alat pendingin ruangan. Itu semua menjadi pendukung tulisan kali ini.
Aku hanya sekedar ingin menulis cerita perjalanan terakhirku mendaki gunung beberapa waktu lalu. Aku tidak kehilangan semangat waktu mendaki Papandayaan waktu itu. Aku ingat betapa bersemangatya aku ketika melihat pemandangan, merasakan lelah, tertawa dan bertemu dengan kawan-kawan pendaki lain di tengah hutan.
Tapi ada sesuatu yang kurasa hilang kali ini. Ada sesuatu yang terasa menyangkut. Kurasa tepat menyelinap di rongga dada.
Aku pikir awalnya aku kehilangan motivasi untuk menulis lagi di blog ini. Tidak, ternyata aku telah sakit dari dulu. Sakit yang sulit disembuhkan dan telah cukup kronis.
Walau memendam, walau tidak mau jujur, walau munafik. Dalam hati sejujurnya aku merasa kesal. Karena tahu hanya akan menulis mengenai perjalanan menuju satu puncak gunung. Satu puncak yang membasuh dahagaku akan petualangan setelah berbulan lamanya dibekap kesibukan yang lain. Satu puncak yang membutuhkan dua hari saja untuk mencapainya. Satu puncak yang menyisakan cerita dan menggodaku untuk menikmati perjalanan yang lainnya, yang lebih jauh, yang lebih bergetar, yang lebih luar biasa.
Pada dasarnya, inilah penyakit setiap pejalan. Oh! mungkin juga telah menjadi naluri dasar manusia. Mencoba mencari tahu apa yang ada di balik kabut. Mencoba memeras kemampuan diri sendiri hingga titik nadir. Berjalan lebih jauh lagi.
Ah! Sepertinya aku menginginkan satu petualangan besar, agar jari-jari tanganku mau menulis lebih banyak lagi. Lebih dari beberapa paragraf yang kini berakhir di titik ini.
Aku hanya sekedar ingin menulis cerita perjalanan terakhirku mendaki gunung beberapa waktu lalu. Aku tidak kehilangan semangat waktu mendaki Papandayaan waktu itu. Aku ingat betapa bersemangatya aku ketika melihat pemandangan, merasakan lelah, tertawa dan bertemu dengan kawan-kawan pendaki lain di tengah hutan.
Tapi ada sesuatu yang kurasa hilang kali ini. Ada sesuatu yang terasa menyangkut. Kurasa tepat menyelinap di rongga dada.
Aku pikir awalnya aku kehilangan motivasi untuk menulis lagi di blog ini. Tidak, ternyata aku telah sakit dari dulu. Sakit yang sulit disembuhkan dan telah cukup kronis.
Walau memendam, walau tidak mau jujur, walau munafik. Dalam hati sejujurnya aku merasa kesal. Karena tahu hanya akan menulis mengenai perjalanan menuju satu puncak gunung. Satu puncak yang membasuh dahagaku akan petualangan setelah berbulan lamanya dibekap kesibukan yang lain. Satu puncak yang membutuhkan dua hari saja untuk mencapainya. Satu puncak yang menyisakan cerita dan menggodaku untuk menikmati perjalanan yang lainnya, yang lebih jauh, yang lebih bergetar, yang lebih luar biasa.
Pada dasarnya, inilah penyakit setiap pejalan. Oh! mungkin juga telah menjadi naluri dasar manusia. Mencoba mencari tahu apa yang ada di balik kabut. Mencoba memeras kemampuan diri sendiri hingga titik nadir. Berjalan lebih jauh lagi.
Ah! Sepertinya aku menginginkan satu petualangan besar, agar jari-jari tanganku mau menulis lebih banyak lagi. Lebih dari beberapa paragraf yang kini berakhir di titik ini.
Minggu, 17 Mei 2015
Posted by
Unknown
Sebuah Kisah Petualangan Di Gunung Prau
(Published&Edited:Indonesiakaya.com)
Akbar, Joko, Jane, Lida, Prama, Septi dan Yeni tak sabar lagi menunggu hujan reda. Sedari tiba di Dieng, tepatnya di Desa Patak Banteng, hujan memang tak henti menerpa. Akan tetapi niat sudah dipatri dari jauh-jauh hari dan ketika cuaca mereka rasa sudah cukup aman, ketujuh pendaki itu siap menjajal tanjakan menuju puncak Prau. Sayang rasanya jika pendakian kali ini gagal, sebab sudah jauh-jauh hari mereka berencana ke Jawa Tengah, apalagi mereka datang dari Jakarta, Surabaya dan Malang. Sulit membayangkan untuk menyurutkan semangat bertualang mereka yang menyala-nyala kala itu.
Ketika hujan deras kian melemah menjadi gerimis dan perlahan sirna menyisakan mendung. Ketujuh orang tersebut bersama tim liputan indonesiakaya.com pun langsung bersiap-siap untuk memulai pendakian. Tak hanya kelompok Joko saja yang memulai petualangan pada pukul 15.00 WIB lewat sedikit itu, kelompok lain yang berasal dari Jakarta dan kota-kota lain pun turut berangkat saat cuaca mulai mendukung. Setelah melakukan registrasi di basecamp Patak Banteng dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 8,000 per kepala, mereka berdoa sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak setinggi 2565 meter dari permukaan laut tersebut.
Dataran Tinggi Dieng memang dikenal sebagai daerah pegunungan dan Gunung Prau merupakan satu dari sekian banyak puncak gunung di Dataran Tinggi Dieng yang kian menjadi primadona baru di antara para pendaki, pecinta alam dan petualang dari berbagai kota-kota besar khususnya di pulau Jawa. Beberapa pendaki dari Jakarta bahkan mengaku lebih memilih untuk mendaki Gunung Prau sebagai pengisi akhir pekan mereka, daripada ke Gunung Gede atau Gunung Pangrango yang notabene jaraknya lebih dekat dari ibu kota.
Di waktu akhir pekan, puluhan hingga ratusan pendaki rela jauh-jauh mengunjungi Gunung Prau yang tepat berada di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini. Puncak Gunung Prau sendiri menjanjikan panorama yang sedikit berbeda dari gunung-gunung yang lainnya. Dari sana, pendaki bisa menyaksikan bagaimana Dataran Tinggi Dieng diapit betul oleh deretan pegunungan seperti, Sindoro, Sumbing, Sikunir dan lain-lain. Satu hal yang lebih menarik lagi ialah, salah satu jalur menuju puncak Prau memang memiliki panorama layaknya deretan bukit di lembah Teletubbies.
Bagi Joko dan kawan-kawan, keindahan bukanlah tujuan utama yang mereka cari dari pendakian Prau kali ini. Keinginan yang kuat untuk mengembara dan menyambangi gunung baru merupakan alasan mereka melakukan pendakian kali ini. Petualangan mereka kali ini bisa dikatakan sebagai reuni sembari mengingat-ingat pertemuan pertama mereka di puncak Anjani, Gunung Rinjani, NTB, beberapa waktu silam. Saat itulah jalinan persahabatan mereka terjalin dan kisah semacam ini memang tak jarang terjadi di kalangan para pecinta petualangan.
Jalur Patak Banteng yang mereka pilih pun merupakan jalur singkat yang cukup menantang dengan kontur menanjak hampir tanpa jeda. Bagi Joko dan kawan-kawan, jalur yang terdiri dari tiga pos itu mengingatkan mereka pada pendakian-pendakian lain yang selama ini pernah mereka lakukan di gunung-gunung lain di Indonesia. Rutenya sendiri menawarkan beragam warna lingkungan mulai dari, petak-petak kebun sayur penduduk, hutan pinus hingga bukit-bukit savana yang semakin cantik dihiasi hamparan bunga-bunga daisy kecil-kecil.
Pendakian mereka pun terbilang cukup lancar dan sesuai dengan rencana awal. Tiga jam perjalanan dari basecamp Patak Banteng hingga ke puncak Prau dipenuhi canda dan tawa. Jalur menanjak dan liat pun sukses didaki hingga menuju puncak. Kekompakan tim pun diuji, apalagi separuh dari mereka merupakan pendaki wanita. Namun tak satupun anggota tim yang tertinggal dan semuanya selamat sampai tujuan walau sesekali sisa-sisa hujan dan gigitan kabut yang dingin menerpa sepanjang perjalanan. Letih dan peluh pun terbayarkan dengan segala cerita petualangan dan keindahan menuju Gunung Prau.
Akbar, Joko, Jane, Lida, Prama, Septi dan Yeni tak sabar lagi menunggu hujan reda. Sedari tiba di Dieng, tepatnya di Desa Patak Banteng, hujan memang tak henti menerpa. Akan tetapi niat sudah dipatri dari jauh-jauh hari dan ketika cuaca mereka rasa sudah cukup aman, ketujuh pendaki itu siap menjajal tanjakan menuju puncak Prau. Sayang rasanya jika pendakian kali ini gagal, sebab sudah jauh-jauh hari mereka berencana ke Jawa Tengah, apalagi mereka datang dari Jakarta, Surabaya dan Malang. Sulit membayangkan untuk menyurutkan semangat bertualang mereka yang menyala-nyala kala itu.
Ketika hujan deras kian melemah menjadi gerimis dan perlahan sirna menyisakan mendung. Ketujuh orang tersebut bersama tim liputan indonesiakaya.com pun langsung bersiap-siap untuk memulai pendakian. Tak hanya kelompok Joko saja yang memulai petualangan pada pukul 15.00 WIB lewat sedikit itu, kelompok lain yang berasal dari Jakarta dan kota-kota lain pun turut berangkat saat cuaca mulai mendukung. Setelah melakukan registrasi di basecamp Patak Banteng dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 8,000 per kepala, mereka berdoa sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak setinggi 2565 meter dari permukaan laut tersebut.
Dataran Tinggi Dieng memang dikenal sebagai daerah pegunungan dan Gunung Prau merupakan satu dari sekian banyak puncak gunung di Dataran Tinggi Dieng yang kian menjadi primadona baru di antara para pendaki, pecinta alam dan petualang dari berbagai kota-kota besar khususnya di pulau Jawa. Beberapa pendaki dari Jakarta bahkan mengaku lebih memilih untuk mendaki Gunung Prau sebagai pengisi akhir pekan mereka, daripada ke Gunung Gede atau Gunung Pangrango yang notabene jaraknya lebih dekat dari ibu kota.
Di waktu akhir pekan, puluhan hingga ratusan pendaki rela jauh-jauh mengunjungi Gunung Prau yang tepat berada di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini. Puncak Gunung Prau sendiri menjanjikan panorama yang sedikit berbeda dari gunung-gunung yang lainnya. Dari sana, pendaki bisa menyaksikan bagaimana Dataran Tinggi Dieng diapit betul oleh deretan pegunungan seperti, Sindoro, Sumbing, Sikunir dan lain-lain. Satu hal yang lebih menarik lagi ialah, salah satu jalur menuju puncak Prau memang memiliki panorama layaknya deretan bukit di lembah Teletubbies.
Bagi Joko dan kawan-kawan, keindahan bukanlah tujuan utama yang mereka cari dari pendakian Prau kali ini. Keinginan yang kuat untuk mengembara dan menyambangi gunung baru merupakan alasan mereka melakukan pendakian kali ini. Petualangan mereka kali ini bisa dikatakan sebagai reuni sembari mengingat-ingat pertemuan pertama mereka di puncak Anjani, Gunung Rinjani, NTB, beberapa waktu silam. Saat itulah jalinan persahabatan mereka terjalin dan kisah semacam ini memang tak jarang terjadi di kalangan para pecinta petualangan.
Jalur Patak Banteng yang mereka pilih pun merupakan jalur singkat yang cukup menantang dengan kontur menanjak hampir tanpa jeda. Bagi Joko dan kawan-kawan, jalur yang terdiri dari tiga pos itu mengingatkan mereka pada pendakian-pendakian lain yang selama ini pernah mereka lakukan di gunung-gunung lain di Indonesia. Rutenya sendiri menawarkan beragam warna lingkungan mulai dari, petak-petak kebun sayur penduduk, hutan pinus hingga bukit-bukit savana yang semakin cantik dihiasi hamparan bunga-bunga daisy kecil-kecil.
Pendakian mereka pun terbilang cukup lancar dan sesuai dengan rencana awal. Tiga jam perjalanan dari basecamp Patak Banteng hingga ke puncak Prau dipenuhi canda dan tawa. Jalur menanjak dan liat pun sukses didaki hingga menuju puncak. Kekompakan tim pun diuji, apalagi separuh dari mereka merupakan pendaki wanita. Namun tak satupun anggota tim yang tertinggal dan semuanya selamat sampai tujuan walau sesekali sisa-sisa hujan dan gigitan kabut yang dingin menerpa sepanjang perjalanan. Letih dan peluh pun terbayarkan dengan segala cerita petualangan dan keindahan menuju Gunung Prau.
Treasures in the Mids of Jakarta
Treasures hunter still exist. There is Michael Hatcher, an Englishman from Australia that’s widely known as “The Wreck Salvage King” and mostly wanted by Indonesian Government. Indonesia climed Hatcher has stolen much asset on many Indonesian teritorial since 1986. His latest treasures hunting activity in the deep of Indonesian see recorded in Bangka archipelago, 1999. He succesfully lifted up the Teng Sing ship and take its treasures with estimated cost around 500 billion Rupiah.
The next
question is, where the hell the treasures sold? When I read some information
about an Antique Market in the mids of Jakarta, I curious to go there to saw
what are they offered. This Antique Market is located in Jalan Surabaya,
Menteng, Center Jakarta. I arrived right at the same time whit the high traffic
jamm peak, after work hour season. Those Antique Market of Jakarta suddenly
become a float of vehicles and antiques.
Along 500
meters of those stright road, the antiques were just scattered on the
pedestrian side. Indeed, the shops were too narrow to placed too many antique
things inside. Many of them were hundred years old antique-colonial-era things,
arts, handycrafts, scluptures, vinyl, and every old interesting things.
I walked
slowly through the pedestrian side, watched my steps carefully to avoid
undesirable touch. I believe, even an experienced historian will fall in love
with this place. Honestly, I feel I’m being a time traveler amongs those
things. With more than 170 shops and thousands antique choise, an arts lovers
and collectors could be confused too.
Jalan
Surabaya was famous since 1960’s as an Antique Market of Jakarta. It’s
officially opened by the Jakarta legendary Governor, Mr. Ali Sadikin. In 1994,
Bill Clinton, former President of USA, have been visited the market. “He spends
200 USD for a couple of scluptures, the Loro Blonyo.” Said Mr. Anwar, the owner
of antique shops number 80 that have being antique seller since 1980’s.
The saddest part of this story is when I found Mr. Anwar and view seller sold the artifacts which is believe came
from Majapahit empire era. Mr. Anwar his self sold a kind of stone tools
artifact, as seems as hundred years old-traditional nutcracker. He climed that
he could earn 2-3 million Rupiah from those kind of artifact.
Another seller
near Mr. Anwar shop also sold more precious artifacts. With only 2,5-4 million
Rupiah, we can bring an ancient sclupture of Buddhist head or a Hindus Main God
sclupture.
I asked
them, where were they bought those -actually, priceless- artifacts? They told
me that they got it from another person. I guessed, if the artifacts is real,
they might were stolen from uncared temples around Java. Indeed, in Java Island
itself, there are so many hiden Hindu-Buddhist temples that uncovered, lying on
typically cloistered villages. Teens to hundreds artifacts such as, scluptures,
stone tools, inscription, bas-relief, were lost.
Half of them
might were stranded on these pedestrian side of Jalan Surabaya, Menteng, Center
Jakarta. They are waiting to be save or found by the treasure hunters.
Rabu, 10 September 2014
Posted by
Unknown
Denting Piano Daniel yang Memabukkan
“Rambutnya berwarna putih dan abu-abu, malam itu ia mengenakan batik berwarna campuran jingga dan peach dipadukan dengan celana katun hitam, Daniel Herscovitch, siap memainkan impromptu No.1 karya Franz Schubert, musisi klasik asal Austria yang hidup di abad ke 19 masehi.”
Ini lagu kedua dari 6 biji lagu yang akan dibawakannya malam
ini (02/07/2014). Sebelumnya aku melewatkan lagu pembuka gubahan Beethoven : Sonate
Es-Dur Op. 81a (Das Lebewohl), pasalnya aku terlambat datang ke
Goethehaus-Jakarta sehingga tidak bisa masuk di pembukaan pertama. Sebelum satu
lagu selesai dimainkan penonton resital piano tidak diperkenakan masuk ke dalam
ruangan konser.
Tepat saat aku duduk di bangku, grand piano hitam itu pun berkumandang memenuhi ruangan akustiknya
yang menggugah. Jemari lelaki tua itu menari lincah di atas tuts, nada-nada
dibangunnya cermat, nuansa diciptakan, ada ratusan mata yang memandangnya dan
lebih banyak telinga lagi yang terhipnotis terbuai ke dalam imajinasi liar masing-masing
jiwa. Kami diam menerjemahkan nada-nada rumit yang mengantarkan pesan-pesan si
pembuat lagu yang rata-rata telah ratusan tahun mati. Inilah tantangannya,
apakah pesan yang ingin disampaikan pencipta lagu bisa disampaikan ke telinga
pendengarnya oleh sang pianis?
Tentu ini juga pertama kalinya aku mendengar karya Schubert.
Memang tak banyak karya klasik yang aku dengarkan, kecuali sedikit sekali
simponi-simponi gubahan Beethoven, Mozart dan Chopin. Secara teoritis aku tak sebaik
kritikus, praktisi maupun wartawan musik. Dengan jujur aku merasa emosional
ketika nada-nada klasik dimainkan lewat denting piano yang sedang dimainkan
laki-laki berkewarganegaraan Australia itu. Secara aneh aku menikmati simponi
yang dimainkan sampai simponi ketiga berjudul Aida : Danza Sacra e Duetto
Finale pun berhenti mengalir. Luar biasa!
Devoirs
Daniel berdiri mengambil mike yang dipersiapkan panitia.
Setiap kali ia selesai dengan satu lagu ia akan mengumumkan lagu berikutnya,
bercerita tentang lagu yang akan dimainkan dan membungkuk untuk menikmati tepuk
tangan penonton.
Kali ini ia akan memainkan “Devoirs” (baca : Devoa) gubahan
Yazeed Djamin, salah satu pianis kebanggan Indonesia. Daniel lama mengenal
Yazeed Djamin dan “Devoirs” selalu mengingatkannya akan tragedi bom bali 2002.
Aku penasaran ,alisku mengkerut.
Betul saja, intro yang cukup mencekam pun dimainkan. Nadanya
bagai teror mengancam dalam sentuhan teknik broken kord (semoga aku tidak salah) yang menyayat sisi tergelap kemanusiaanku,
apalagi dimainkan di octave terendah.
“Mengerikan sekali simponi ini” batinku.
Nuansa gelap menenggelamkanku membuatku berpikir jauh, apa
sebenarnya yang dirasakan oleh Djamin? Bahkan sampai notasi nada-nada khas bali
yang ritmik dan dinamis dimainkan di tengah-tengah lagu, aku bersumpah aku
mengangguk-angguk terbuai ritme yang sinistik bercampur gamang sekaligus. Demi
apapun “Devoirs” resmi kujadikan nada-nada kesedihan, tragedi sekaligus mistikus
terindah yang pernah kudengar selama ini. Ini membuat nada-nada kematian yang
diwakili genre musik death, black, dan progresif metal terdengar seperti lagu
ABG galau saja.
Schumann yang Panjang dan Sukarlan yang Singkat
Sonata Fis-Moll Op.11 adalah simponi terpanjang yang dimainkan
Daniel malam itu. Lagu ini gubahan komposer Romantik eropa terbesar dizamannya,
Robert Schumann, dari Jerman. Mataku terpejam kala Daniel memainkan lagu aneh
yang personal itu. Kepalaku terhipnotis dan aku merasa aku ada dalam kondisi Alpha, sebentuk nuansa canggung silih
berganti menghampiri jiwa. Secara subjektif aku merasakan ada keceriaan, kemunafikan,
kontra dan kesalahan yang disengaja. Ah! Lagu ini begitu kalut, sampai-sampai
aku yakin umur dan pengalamanku belum cukup matang untuk meencerna kisah yang
ingin disampaikan Schumann dalam nada berdurasi panjang tersebut.
Hah! Lega rasanya ketika sonata itu berhenti dan jiwaku yang
tertawan belasan menit segera kembali. Daniel kembali berdiri, menutup malam
itu dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar unuk ukuran orang asing seperti
dia. Sebagai penutup malam ini ia akan memberikan penonton sebuah karya milik
Sukarlan. Rapsodia Nusantara No. 10. Penutup yang epik dan cukup singkat, lagu
yang tak sampai dua menit lebih sedikit, jauh lebih singkat dari lagu-lagu
sebelumnya yang bisa berdurasi hingga sepuluh menit lebih. Ah, kami pun berdiri
dibuatnya setelah ia selesai memainkan musiknya. Benar-benar racikan luar biasa,
seperti menyantap makanan, dari pembuka sampai menu utamanya sangat mengenyangkan
dan penutupnya manis tak berlebihan. Sampai jumpa di konser-konser berikutnya!
Jumat, 04 Juli 2014
Posted by
Unknown
Memori Yoschi #1
Ketika teman-teman seangkatanku, hampir semuanya sudah
selesai melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Aku salah satu yang bimbang,
karena tempat magang yang kuincar. Pada saat bulan Desember seperti saat itu, amat
sulit untuk dijangkau. Sebab ombak laut Jawa mulai mengamuk di bulan-bulan seperti
itu.
“Kamu sebenarnya mau PKL kapan?” tanya salah seorang teman.
“Ya kalau bisa libur semester ini. Biar lamaan sedikit. Berasa
kerja beneran gitu.” terangku.
“Udah tahu mau PKL
di mana?”
“Rencananyya sih dari
kemarin-kemarin, pengen ke Karimun. Tapi belum sempat survey ke sana. hehehe.” kataku cengengesan.
Lalu beberapa teman
pun menyarankan pulang kampung seperti Laksmi. Temanku sekampung yang sama-sama
kuliah di jurusan yang sama. Ah! Tapi menurutku kurang seru juga, kalau harus
magang di kampung sendiri.
Tiap tahun aku pasti pulang kampung. Sensasi merantau,
berburu pengalaman hidup di tempat orang, belajar industri pariwisata yang
berbeda. Pokoknya out of the box deh.
Itu sesungguhnya yang aku harapkan.
Sebagai seorang insan dengan IP pas-pasan. Cerita hidup tak
boleh biasa-biasa saja. Apa yang bisa aku ceritakan kelak ke anak dan cucuku? Jika
sekedar cerita pernah bersekolah sampai ke luar pulau, kerja, jalan-jalan
sekedar refreshing, lalu mati. Apa cuma
itu? Rasa-rasanya pilihan jalan hidup seperti itu bukan aku. Itu orang lain.
Setiap kawan yang sudah selesai menjalankan PKL aku tanyai.
Fahmi menyarankan ke Jatim Park saja. Alasan yang dilontarkannya cukup
menarik.
“Enak coy, bisa
masuk wahana gratis. Setiap hari lagi, sampai bosen. Secret Garden yang belum dibuka untuk umum. Aku yang reyen (test drive -pen) duluan.”
seloroh Fahmi.
Beberapa malah menyarankan ke Bali saja. “Wah magang di Industri Pariwisata yang sudah mapan. Itu ide bagus.” pikirku waktu
itu.
“Sudah KKN aja Dan!
Bareng aku. Enak berbakti buat masyarakat desa.”celetuk Esty.
Memang di jurusanku, jika tidak mengambil mata kuliah pilihan
PKL. Mahasiswa wajib memilih KKN.
“Hemmm, KKN ke desa-desa terpencil di pelosok
negeri. kedengarannya seru juga tuh. Apalagi kalau bisa sampai Kalimantan,
Flores, atau ke daerah yang lebih jauh lagi.” pikirku waktu itu.
Sayang, setelah cek dan ricek. Untuk penempatan di
daerah-daerah seperti yang aku sebutkan di atas. Prosesnya cukup rumit dan
panjan juga.
Banyak pertimbangan tercipta, dari
segala jenis informasi yang aku gali. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk ke
Yoschi.
Wahyudi nama kawanku. Sebelumnya, Wahyudi
, Renda, dan Tezar sempat PKL di Yoschi. Sebuah hotel, restaurant, dan travel
agent di kawasan Bromo, kabupaten Probolinggo. Entah mengapa, aku jadi tertarik
ke tempat ini. Justru karena cerita Wahyudi tidak terlalu menggebu-gebu, tapi
juga tidak biasa-biasa saja. Tak seperti
cerita-cerita PKL membosankan teman-temanku yang lain di Dinas-Dinas
Pariwisata. Yoschi hotel, patut untuk diobservasi.
“Boleh tuh Yud, besok pagi anterin
ke Yoschi dong kalau gitu.” kataku antusias.
“Besok pagi ya? Oke bisa. Pinjemin
sepeda motornya Renda ya? Tapi kamu harus bangun pagi-pagi, nggak pakek telat!”
sergah Wahyudi. Sahabatku yang berperawakan kurus, dengan style rambut
intelektual sedikit akademis, dan punya banyak teman wanita itu. Tapi entah
kenapa, kalau berbicara tentang Eva (di zaman itu). Selalu aku merasa, ada yang
ditutup-tutupinya :P
Tepat seperti janji kami. Bahkan
untuk itu, aku rela tidur di bawah jam 12 malam. Supaya bisa bangun pagi.
Sekitar pukul enam pagi. Wahyudi
sudah setia menunggu di beranda kosku. Padahal aku harus mandi dulu, dan sedikit
bersiap-siap agak lama.
Kurang lebih dua jam lamanya, kami
melintasi jalanan Malang-Probolinggo, menuju Yoschi hotel. Itu kali pertama aku
ke Bromo setelah tiga tahun lamanya merantau.
Saat itu aku menyesal, mengapa
tidak dari dulu saja aku menjamah tempat ini? Kalau tahu, bahwa jiwaku memang selalu
terbius oleh jalanan berliku diperbukitan yang sepi. Kabut-kabut pegunungan
menggoda imanku. Anak-anak kecil, rumah-rumah penduduk desa di kaki-kaki bukit,
udara dingin yang menjalar di kulit, dan petani-petani lugu lewat di pinggir
jalan. Apa ada yang bisa menjelaskan, mengapa aku suka sekali dengan semua hal
tersebut? Mengapa aku jatuh cinta pada lukisan kehidupan di pegunungan? Selalu
saja aku merasa benar-benar di Indonesia, ketika masyarakat tani, bergumul
dengan alam, dan menciptakan harmonisasi.
Tanpa sepengetahuan Wahyudi. Beberapa bait pun seketika tercipta dalam benak. Akibat terperangah dengan segala realita di depan mata.
Awan Di Atas Aspal
Di aspal ada awan
Di rumput ada awan
Daun-daun mereguk awan
Pohon berselimut awan
Gunung pun mencengkram awan
Kenyataan pahit adalah, ketika kamu menyadari
Ternyata awan bukan segumpal gulali.
Itu hanya ilusi.
Akhirnya kami berdua pun tiba di tempat
itu. Hotel kelas melati di pinggir jalan sepi. Ornamen-ornamen hindu-Bali
menyemarakkan beranda luar ruangan front
office hotel tersebut. Sebuah palang kayu bertuliskan Yoschi Hotel,
Restaurant, and Travel melekat di dinding bata merah. Ada satu lagi tulisan
yang menggelitikku. Kurang lebih seperti ini bunyinya : “20 jahre bereit die
besten Kartoffelpüree”
Tebakanku, Mas Widi kakak
tingkatku di kampus dulu, menjadi tertarik untuk singgah ke Yoschi. Akibat dari
membaca slogan dalam bahasa jerman tersebut. Artinya kurang lebih seperti ini :
“20 tahun menyajikan Kentang tumbuk terbaik”.
Dialah anak magang pertama di Yoschi hotel
ini. Atas berkat laporan, dan petunjuknyalah, kami adik-adik kelasnya, macam
aku dan Wahyudi kemudian berjodoh dengan tempat tersebut.
Wahyudi memimpin masuk ke dalam front office (FO). Aku membuntutinya
dari belakang. Seorang pemuda berambut sekaku ijuk, sedikit gondrong, dengan
style menyamping alay. Langsung menyambut kedatangan Wahyudi, bak kawan lama.
Padahal belum terlalu lama Wahyudi selesai magang di tempat tersebut.
Aku pun menangkap aura
persahabatan kental, tengah menyeruak dari sudut-sudut ruangan berdekorasi kebali-balian
ini. Tak ada kesan formal dan kaku yang tersirat. Wahyudi mengobrol, dan
mengutarakan maksud kedatangannya kepada Dori. Salah seorang front officer dari Yoschi Hotel.
“Wah boleh-boleh.” kata Dori waktu
itu. Nada bicaranya yang sok bossy
membuatku menyangka, dia anak si empunya Hotel. Belum apa-apa dia sudah
memperbolehkan.
“Sama siapa nanti magangnya?”
lanjutnya lagi.
“Sendirian mas.” sahutku.
Tak berselang lama, seorang lelaki
sekitar 60 tahunan muncul. Perawakannya tinggi, ramping, berkulit agak gelap
(sawo kematengan). Pembawaanya santai, namun aura seorang entrepreneur tulen menyergap setiap orang di ruangan itu. Gelora khas
seorang pemimpin. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menerka. Ini dia bos
sesungguhnya.
“Wah kebetulan, pak Yok-nya sudah
datang.” Kata Dori. Doripun mengajak kami bertemu beliau. Laki-laki nyentrik
yang sudah duduk di meja FO manager. Gitar Akustik bersenar nylon
pun ia ambil dari sudut tembok ruangan. Sambil duduk dikursi, ia memangku gitar
itu, bersiap untuk memainkan lagu.
Dori pun melapor kepada beliau,
maksud dan kedatangan kami ke tempatnya. Agaknya beliau tidak terlalu kenal
dengan Wahyudi.
“Temannya Widi ini ya?” sahut
beliau yang tidak pernah melupakan nama Widi dalam ingatannya. Sorotan matanya,
melayangkan pandangan sedikit acuh tak acuh kepada kami.
Kami pun mengiyakan ucapan beliau.
Aku yang hendak menjabat tangan beliau pun dijahilinya. Tepat saat menyodorkan
tanganku ke arah beliau. Ia menyambut dengan sodoran kartu nama. Ah! Aku hanya
bisa senyum-senyum, sambil ikhlas menerimanya.
Leher gitar masih terus saja
beliau genggam. Siku kanannya melintang di bodi gitar yang bohai. Wahyudi dan
Dori pun sedikit menyingkir ke sofa yang agak jauh di belakangku. Dalam gugup
menghadapi sang big boss ini. Aku
sempat melirik ke arah Dori dan Wahyudi, yang mulai ngobrol berdua secara
sembunyi-sembunyi. Ditingkahi senyum misterius yang ganjil, dan hampir tak
kentara.
Pertanyaan-pertanyaan bak interview, meluncur ke luar dari mulut
pak Yok. Ditanyainya asalku, yang akhirnya mampu mengungkapkan sedikit sejarah
hidup lika-liku laki-lakinya.
“Ampenan.” runutnya. “Aku lahir di
sana, menghabiskan masa kecil di kota itu.” tuturnya berlanjut.
Tak pernah kusangka, beliau lahir
dan tumbuh di Lombok. Sedikit menjelaskan, mengapa desain arsitektur hotel ini
bergaya Bali. Lengkap dengan properti kain kotak-kotak hitam putih, payung
merah berumbai-rumbai dengan warna keemasan, serta pola ukiran-ukiran
meliuk-liuk di meja, kursi, dan sudut-sudut perabotan kayu dalam ruangan.
Kisah pak Yok tak berhenti di
cerita masa kecil saja. Mengaku hanya lulusan SD. Beliau pun mengisakan
petualangan hidupnya yang inspiratif. Takdir membawanya ke tanah dewata, dan
mempertemukannya dengan dunia entertainment
kapal pesiar. Tak lupa wejangan pun keluar dari mulut sang manusia lingsir ini.
Awalnya aku santai saja, tapi
jengah juga lama-lama dikuliahi beliau setelah satu jam pertama. Dori dan
Wahyudi pun melirik waktu yang ditayangkan jam dinding. Ba****t! Tak ada yang
memperingatkanku sebelumnya. Kalau ternyata beliau ini, susah direm saat sedang berbicara.
Tipikal orator ulung, maklum mantan entertainer
kapal pesiar, yang sukses dengan jalan hidup berliku.
“Oh, makanya hotel bapak kental
nuansa balinya ya pak?” kataku di saat beliau mengambil jeda dalam cerita
panjangnya. Saat itu aku bermaksud mencoba tidak terlalu pasif, dan menciptakan
komunikasi dua arah di antara kita berdua. Karena selama itu, aku hanya bisa
mengangguk-anggukan kepala saja mendengarkannya berbicara. Sampai lumayan pegal
rasanya leherku.
Keputusan yang salah telah aku
buat. Orasinya pun berlanjut ke tema sejarah. Berbicara tentang hubungan antara
Tengger, hindu, Jawa, Bali, pura Luhur Poten, dan tentang istri Jermannya, yang
lebih cinta Indonesia daripada pemuda masa kini. Sampai-sampai, wanita yang
kerap dipanggil Uschi tersebut. Menulis sebuah buku tentang suku tengger berjudul
: Putra Sang Dewa Api.
Disuruhnya pula aku banyak-banyak mengenal lebih
jauh lagi kebudayaan bangsa. Sarannya waktu itu, sebagai seorang mahasiswa, aku
harusnya banyak baca buku. Ah! Agak bingung aku saat itu. Siapa sebenarnya yang
diwawancarai hari itu?
Syukurlah, istri Indonesia pak Yok
pun datang menyelamatkanku. Perempuan Jawa yang membawa anak laki-laki bungsu
pak Yok itu pun berhasil menghentikan kuliah umum tersebut. Senyum pak Yok
terkembang menemui sang buah hati.
“Kamu.” sahut pak Yok menunjuk
Wahyudi.
“Wahyudi pak, masak bapak lupa?”
jawab Wahyudi.
“Ah saya memang suka lupa nama
orang. Pokoknya kamu nanti kalau pulang, bawa temanmu keliling Bromo. Terus
Kamu.”
“Dani pak.”
“Yah, kamu. Cari tahu juga rute
menuju Bromo dengan angkutan. Semua harus kamu tahu. Nah, kapan kamu mulai
magang?” katanya.
“Insyaallah, dua hari lagi saya
bisa langsung ke sini lagi pak. Butuh surat-surat pengantar dari kampus pak?”
“Kalau saya sih tidak perlu itu.
Kamu yang perlu itu. Ya, sudah dua hari lagi kamu datang kemari.”
“Baik, pak. Kalau begitu kami
pulang pak. Takut nanti kemalaman.”
“Ya sudah, ini kartu nama dibawa.”
“Kan sudah pak?” terangku sambil cengengesan.
Setelah semua itu, kami pun undur
diri dari Yoschi Hotel. Aku membungkus janji untuk kembali lagi. Setelah segala
perkara birokrasi kampus selesai dalam dua hari ke depannya.
“Masih ada Java Banana, Sion, sama
Lava View loh Dan?” kata Wahyudi lagi. Ia menawarkan alternatif hotel tempat
magang yang lain di daerah Bromo.
“Di Yoschi saja bro. Sudah sreg, he he he. . .”
“Bagaimana pak Yok Dan?”
“Gendeng! Rame bro! Hahahaha” kataku sambil mengemudikan motor.
***
Lautan pasir padat dan lembab pun
aku gilas. Motor kupacu menembus rute bentangan alam sureal, di balik bukit
teletabies, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Tak hentinya aku terpana oleh
alam disekelilingku. Oleh gundukan tanah berbalut permadani hijau tetumbuhan pakis.
Ada jalan setapak berbatu yang licin mengular menembus lautan pakis dan
bebungaan berbatang hijau. Kami serasa ditelan mentah-mentah oleh hijau
bernuansa magis. Kami terbuai kontur dinding pegunungan yang mengulir bagai
dipahat tangan Tuhan. Pada sore berkabut di bulan Desember itu. Untuk pertama
kalinya aku menembus hutan, kembali menuju Malang. (Bersambung)
![]() |
| Saat bukit Teletabies belum beken. Magically Romantis. Buat seseorang. "if you where here with me" |
Superman Berkunjung Ke Rinjani
15 Agustus 2013, aku harus sampai di pelawangan Sembalun
paling tidak sore nanti. Saat itu aku sedang mengatur nafas di barisan bukit
penyesalan yang melegenda. Track savanna di bukit tersebut, berdebu karena
sudah terlalu banyak orang berlalu-lalang hari ini.
Ada pendaki yang turun ke sembalun. Ada banyak yang naik
juga. Orang-orang dari berbagai bangsa, tak hanya dari Indonesia saja. Namun
lepas dari semua itu. Aku mengalihkan pandangan dari ransel-ransel besar, dan yang berukuran sedang. Aku melihat seorang pria tak sampai setinggi 170 cm. berjalan dengan
kecepatan tak terduga di bawahku. Sesekali ia menarik nafas, tak sampai semenit
ia melakukannya. Ia kembali berjalan cepat.
15 menit kemudian jarak panjang di antara kami pun dia
lahap. Tanpa ransel besar, hanya berbekal kaos, celana pendek, dan sepatu
treking. Ia menyantap dengan lahap tanjakan tak berperi kemanusian di barisan
bukit penyesalan tersebut.
Setelah mendahuluiku, baru aku membaca tulisan di balik
punggungnya. “Official”. Ah! Rupa-rupanya dia salah satu panitia Mount Rinjani
Ultra 2013. Tepat di hari peringatan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus nanti. Tak
kurang dari 80 orang akan dilepas dari Senaru. Melahap kurang lebih jarak
tempuh sejauh 52 kilometer. Sebuah track alam liar yang bisa menghancurkan
dengkul, paha, dan kaki orang biasa.
Melahap 52 kilometer di gunung Rinjani, bisa saja dilakukan
dengan berjalan santai. Tapi itu membutuhkan waktu minimal 3 hari lamanya.
Sambil meresapi alam, menatap bintang, memasak makanan, lalu istirahat sepuasnya
di balik tenda.
Melahap 52 kilometer di gunung Rinjani, yang nantinya akan
dilakukan oleh 80 orang tersebut. Akan dilakukan dengan cara berlari. Memulai lomba
lari ekstrim itu dari Senaru. Di ketinggian 600 meter dari permukaan laut
(Mdpl). 10 Jam kemudian mereka harus sudah tiba di puncak Anjani 3726 Mdpl atau
kurang lebih sejauh 21,5 km dari titik start mereka.
Jangan anggap remeh 21,5 km ini. Karena tentu pelari akan
menembus hutan dengan tanjakan tiada henti sejauh 8,5 km. Kemudian baru masuk
area Savana dengan tanjakan sejauh 2 km sampai tiba di pos pelawangan Senaru. Beruntung
bagi pelari yang tiba di sini saat fajar menyingsing, karena lelah akan
terobati oleh pemandangan spektakuler sunrise pelawangan Senaru di ketinggian
2600 Mdpl.
Dinding-dinding kawah gunung api purba akan diterpa cahaya
keemasan sang mentari. Menimbulkan aura alam yang jarang ditemui di bentangan
pegunungan lain di Indonesia. Pesona cantik yang membuat Rinjani digelari
gunung tercantik di Indonesia. Plus biru bergradasi tosca sang danau Segara Anak
di bawahnya, sebagai obat penawar peluh, yang ampuh beberapa saat.
Setelah itu pelari akan turun menyusuri bukit berbatu-batu
menuju danau sejauh 3 km. Itu jalan satu-satunya menuju puncak.
Menyusuri pinggiran danau sejauh 1 km, pelari cukup lega
karena track sudah mulai landai di bagian ini. Cukup untuk mengumpulkan tenaga,
sebelum akhirnya kembali menerjang track berbatu dengan kemiringan 30-45
derajat. Menaiki tangga alam berliku-liku sejauh 3 km di bentangan Tembok barat pegunungan raksasa tersebut. Sebelum akhirnya bertemu track landai 1 km di
pelawangan Sembalun.
![]() |
| Danau Segara Anakan |
5 km terakhir adalah tantangan sesungguhnya bagi para
superman ini. Menuju puncak gunung api tertinggi nomor dua di Indonesia, bukan
perkara mudah. 5 km yang menghancurkan semangat, menguras mental, dan
mengingatkan kita akan kelemahan diri sendiri.
Jalur pasir membenamkan sedikitnya 10-15 cm kaki-kaki
pendaki. Ujian bagi para Superman, atau bahkan bagi setiap orang yang ingin
menguji diri di pegunungan ini. Jangankan untuk berlari, berjalan pun susah. Melangkah
2-3 tapak. Pasir akan membuatmu melorot kembali 1-2 langkah. Begitu terus,
sampai merasa siksaan ini tiada habisnya. Itulah yang akan dihadapi para pelari
yang mencoba menggapai puncak rinjani pada tanggal 17 Agustus 2013.
![]() |
| Track Neraka |
Semua fase awal tersebut, wajib ditempuh maksimal selama 10
jam. Ketika superman yang berlari-lari di gunung tersebut, telah berhasil di
misi awal ini. Maka ia boleh melanjutkan lomba. Lebih dari 10 jam, pelari tak
boleh melanjutkan lombanya. Mereka harus sadar diri dan segera berbalik turun. Kembali
ke garis start, menyerah kalah.
Sedangkan yang berhasil mencapai fase pertama dalam tempo 10
jam. Mereka harus melanjutkan tantangan selanjutnya. Yaitu turun ke pelawangan
Sembalun, lalu menuruni bukit penyesalan sampai pos 2 Sembalun sejauh 5 km.
Masalah menuruni bukit penyesalan sampai pos 2 Sembalun.
Mungkin perkara yang cukup mudah. Namun setelah sampai di pos 2 Sembalun,
pelari belum sepenuhnya finish. Mereka harus kembali berputar badan. Tentu melahap kembali 20 km lebih rute yang
sama, yang mereka lalui sebelumnya untuk sampai di titik awal keberangkatan mereka.
Jadi rute sejauh 52 km tersebut, secara garis besar adalah.
Senaru- Pelawangan senaru- Danau Segara Anak- Pelawangan Sembalun- Puncak- Pelawangan
Sembalun- Pos 2- Pelawangan Sembalun- Danau Segara Anak- Pelawangan Senaru- Senaru.
Batas waktu terlama untuk menyelasaikan lomba lari gila ini adalah 20 jam.
17 Agustus 2013, dini hari. Pelari-pelari telah terlihat
memasuki base camp Danau Segara anak. Aku yang hanya pendaki biasa ini hanya
mendengar ribut suara tepuk tangan penyemangat di luar tenda. Cukup malas untuk
memantau perkembangan lomba setelah lelah mendera tubuh, karena tertatih naik
turun menuju Puncak dan Danau Segara anak sehari sebelumnya.
Pagi hari sekitar pukul 08.00 WITA, setelah upacara bendera
di Danau bersama pendaki lainnya, akupun sudah siap menuju Senaru.
Beberapa peserta lari ultra marathon, masih sempat
berpapasan denganku. Mereka menyusuri pinggiran danau menuju pelawangan
Sembalun. Rupa-rupanya mereka itu yang paling buntut di antara para Superman
yang ada. Kabarnya, yang tercepat mencapai pelawangan Senaru. Telah sampai
pukul 03.00 dinihari tadi.
Aku yang berjuang menapaki bukit berbatu menuju pelawangan
senaru pun akhirnya disusul juga oleh pelari tercepat tersebut. Sekitar pukul
14.00 WITA. Seorang bule asal Prancis, bertubuh kurus, sedikit legam kulitnya
terbakar matahari. Ia hanya mengenakan tas lari kecil, tipis, dan hampir-hampir
melekat dengan punggung saking simpelnya. Ia berjalan dengan cepat melewati
bebatuan dan bukit terjal, dengan kemiringan 40 derajat.
“You are the first one
sir.” kataku menyemangati.
“Ya saya tahu.” katanya sedikit tak acuh, sambil menarik nafas.
Ia pun mengeluarkan botol minuman dari tas running
mungilnya.
“Anda dari mana?”
“Prancis.”
“Kok bisa bahasa Indonesia?”
“Saya lama tinggal di Bali.” terang pria berhidung mancung
yang mengenakan kaca mata sport gelap tersebut.
“Semangat sir! Tinggal
beberapa kilo lagi.”
“Thanks. Saya pergi
dulu.” katanya sambil lalu. Kembali ia melahap track dengan cepatnya. Seolah tubuhnya terbuat dari kapas. Atau mungkin
di Bali dia belajar ilmu meringankan tubuh, dan sedikit jurus kunyuk melempar
buah.
Berselang 5 menit kemudian. Datanglah seorang bule dengan
perawakan yang sama, bahkan dibalut pakaian yang sama. Mengenakan kaos gelap,
ketatnya kaos dan celana yang dia gunakan sampai-sampai menonjolkan
otot-ototnya, yang sedikit menyembul di badan cungkring tersebut.
“You are the second
one sir.” kataku lagi memberi tahu.
“Yang di depan saya pakaiannya sama?”
“Ya. Prancis juga?” kataku sambil menunjuk dirinya.
“Ya.”
“Yang di depan temannya?” tanyaku lagi.
“Ya, kami memang satu tim.”
“Ohhh, , ,”
“Mari.” sahut pria Prancis yang lebih santun ini, lengkap
dengan senyuman kepadaku.
“Mari, hati-hati bro!” teriakku, saat dia sudah dengan
entengnya melahap tanjakan.
Pria tersebut pun mengacungkan jempolnya ke udara, tanpa
menolehkan pandangan kepadaku. Memang jarak si Prancis ke-dua dengan Herwin,
sang pelari dari Bandung ini cukup jauh. Ketika kami bertemu di bukit berbatu
menuju pelawangan Senaru. Herwin tergopoh berlari melewati rintangan alam pegunungan
Rinjani. Raut wajahnya seperti orang dikejar-kejar setan.
“Mas, anda urutan ketiga. Mas, selamat!” sahutku menyelamati
pria Bandung, yang cukup berotot ini.
Sejenak ia berhenti disampingku, menarik nafas, dan
mengaturnya agar tak terlalu tersengal di ketinggian 2000 Mdpl ini. “Jaraknya
lumayan?” tanya Herwin kepadaku.
“Lumayan mas, sekitar setengah jam dari pelari pertama.”
“Yang ke dua?” tanyanya cukup memburu.
“Sekitar 15-20 menitan mas.”
Pria Bandung ini pun hendak melaju lagi, tapi alarm dari jam
tangannya mencegahnya sebentar. Dari balik tas running-nya, ia mengeluarkan sesuatu. Aku lihat benda yang
dikeluarkannya seperti kapsul.
“Itu apa mas?” tanyaku penasaran.
“Oh, ini. Ini obat pencegah kram.” terangnya sambil menelan
kapsul itu.
“Atlit lari seperti saya, selama beberapa waktu harus
mengkonsumsi ini untuk mencegah kram.” terangnya lagi.
“Logistiknya apa mas, kalau lagi lari di gunung.” tanyaku memburu.
“Ada, makanan khusus. Bentuknya seperti gel.” sahutnya sambil
tersenyum. Tapi matanya nyalang menatap track yang tersisa.
Aku merasa, orang ini sedang diburu sesuatu. Tak pantas aku
menahannya lama-lama.
Ada sesuatu yang harus ia selesaikan, dan itu lebih
penting dari pada berlama-lama mengobrol di tempat ini denganku.
“Yuk ya, aku duluan.” katanya. Sambil memberi sedikit
lambaian.
“Woyo mas, hati-hati.”
“Semoga Menang!” teriakku lagi, sambil membuat corong dengan
tangan. Karena sekejap saja pria Bandung tersebut. Telah melesat bagai anak
panah di tengah belantara luas, bergerunjal bebatuan vulkanik purba.
8,5 km jalan menurun dari Pelawangan Senaru menuju Senaru. Aku
lalui dengan susah payah. Ini bukan perjalanan turun yang mudah. Walau lebih
ringan dari menanjak, turun di tanah vertikal dengan kemiringan 40 derajat, pun
menyiksa dengkul juga.
Mulai dari siang hingga hampir menjelang sore. Pelari-pelari
dari Singapura, Malaysia, Indonesia, Eropa, dan Australia. Saling susul-menyusul
di track ini. Seru melihat pelari Singapura yang tidak awas melihat keadaan. Ditelikung
dari belakang oleh pelari Indonesia. Pelari Singapura yang hendak berjalan
sedikit santai, sedikit kaget jadinya. Setelah melihat ada nomor peserta di
dada orang yang menelikungnya dari belakang. Ia pun tergopoh-gopoh mengejar
pria tersebut.
Tapi, keriuhan tak hanya berhenti di sana. Sore harinya,
ketika aku sudah sampai di pos dua. Pria, Wanita, Tua, dan Muda. Beranjak naik
menuju gunung Rinjani. Pakaian mereka putih dan hitam. Beberapa di antara
mereka menyelip keris di pinggang. Membungkus benda pusaka tersebut dengan kain
putih. Ada juga senjata pusaka yang jauh lebih panjang, sepertinya tombak. Benda
tersebut juga dibungkus kain putih dan ditenteng oleh si empunya menuju gunung Rinjani.
Wanita-wanita berumur, bahkan pantas disebut nenek-nenek pun
tak kalah meriah. Di atas kepalanya ia membande
(menjunjung) sesuatu. Sepertinya baskom tertutup kain. Aku tanyakan pada mereka
hendak ke mana. Namun mereka adalah kelompok yang cukup terburu-buru. Tak ada
yang menjawab pertanyaanku sama sekali.
Ingin rasanya aku ikut kembali mendaki, kalau saja tidak
ingat. Tenaga, dan mental sudah habis terkuras untuk turun. Namun hati kecilku
berfirasat, orang-orang ini pasti akan melakukan sebuah ritual di gunung
Rinjani. Rasa ingin tahuku yang besarpun kandas oleh deraan fisik, dan mental
yang telah kalah terlebih dahulu.
Aku pun sampai di Senaru Malam hari. Perayaan sudah ditutup,
lomba sudah berakhir. Para Superman sudah sampai di garis finish. Atau, mungkin
Superman yang sesungguhnya. Saat ini sedang melaksanakan ritual di gunung
sunyi? Ya, kelompok berpakaian hitam-putih. Tua dan muda yang sempat berpapasan
denganku tadi. Aku lihat, memang bukan pendaki bisasa sepertiku. Mereka tak
perlu ransel besar. Sampai-sampai mereka tak butuh alas kaki, apalagi sepatu
tracking khusus. Bekal logistiknya saja berbungkus plastik kresek hitam. Hanya dengan
itu semua, didorong oleh keyakinan. Mereka sudah sanggup naik gunung.
Benar-benar level Kuncen*.
Tapi yang benar-benar Superman itu ternyata adalah seseorang
yang aku temui di Sebuah Homestay. Ini Subjektif, penilaianku sendiri.
Seturunnya dari Senaru aku menginap di Senggigi. Tak kusangka, penyewa kamar
sebelah adalah seorang Superman.
Pagi-pagi, sambil menikmati kopi dan semilir angin pantai
beraroma khas. Aku santai menikmati hidup, menikmati waktu luang setelah
bekerja.
Sebuah Honda dengan striping sportif berwarna orange terparkir di depanku. Plat nomor
kendaraan tersebut asalnya dari Jakarta. Penasaran selalu menggelitikku.
Pertanyaanpun terlontar, ketika si empunya kuda besi keluar dari kamar
Homestay, yang disewanya. Tak ayal pertanyaan keluar dari mulut.
“Dari Jakarta mas?”
“Iya he he he. . .” cengenges pria tersebut.
“Ke Lombok naik motor?”
“Iya, abis naik ke Rinjani.”
“Hummm, , , saya juga habis nanjak.”
kataku.
“Gimana mas Rinjaninya?” tanyaku lagi.
“Wah, mantap. Saya ke sana ikutan lomba.”
“Alamak. Jadi anda ikutan lombanya?”
“Iya, he he he. . .”
“Udah nginep berapa lama di Lombok?”
“Ya itu, nginepnya baru kemarin malem seturunnya lomba.”
“Jadi selama ini Jakarta, Lombok, Rinjani, itu non stop
nggak istirahat dong?”
“Iya mas, he he he. . .”
“Pantesan juara satunya orang bule. Coba masnya istirahat dulu. Pasti larinya jos!” kataku, tidak sedang bergurau.
“Ha, , , ha, , , ha, , , iya kali ya? Yang juara satu orang Prancis,
yang kedua untungnya orang Indonesia. Juara tiganya Perancis juga. Perebutan juara
keduanya ketat itu.”
“Iya, saya juga ketemu di track menuju Pelawangan Senaru. Awalnya Indonesia juara 3.”
“Iya, di etape terakhir,
mereka kabarnya susul-susulan. Sprint-sprint gitu.”
“Oh, ya?”
“Iya mas, oh ya saya berangkat dulu ya, Mari.”
“Langsung ke Jakarta ini.”
“Iya mau langsung balik, ke mana lagi?”
“Ckckck, , , luar biasa. Nggak mau keliling dulu?”
“Ha ha ha, , , lain kali aja, udah mau habis nih liburannya.
Mari mas.”
“Yuk, hati-hati mas. Kalau ngantuk berhenti aja mas.” kataku
sambil sedikit menggelengkan kepala, tak percaya dengan pemandangan didepanku. Tak lama kemudian sang Superman pun berlalu dengan Sepeda
motornya, menuju Jakarta. Brooommm!
*Kuncen : Berasal dari bahasa Jawa. Digunakan sebagai Slank pendaki gunung asal Jawa, yang menunjukkan bahwa seseorang sudah sering mendaki satu gunung yang sama. Sebutan ini juga berlaku bagi penduduk di suatu Pegunungan yang dipercaya sebagai juru kunci gunung tersebut. Seperti misalnya Mbah Marijan, Sang Kuncen Merapi.
Sabtu, 01 Februari 2014
Posted by
Unknown










